Konten dari Pengguna

Guru di Indonesia: antara Idealisme, Kesejahteraan, dan Masa Depan

Apri Damai Sagita Krissandi

Apri Damai Sagita Krissandi

Dosen Universitas Sanata Dharma

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Apri Damai Sagita Krissandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi guru mengajar. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi guru mengajar. Foto: Shutterstock

Kalau guru adalah profesi yang menentukan masa depan bangsa, mengapa masih banyak anak muda yang ragu memilihnya? Pertanyaan ini layak kita pikirkan. Sebab, kita sering memuji guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi belum tentu mampu menawarkan masa depan yang menjanjikan bagi mereka yang ingin menjadi guru.

Menjadi guru di Indonesia hari ini memang bukan perkara sederhana. Persoalan kesejahteraan, ketidakpastian karier, beban administrasi, hingga hubungan dengan orang tua murid menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Di tengah situasi itu, calon guru membutuhkan lebih dari sekadar nasihat untuk ikhlas dan sabar. Mereka membutuhkan gambaran yang jujur tentang profesi ini sekaligus alasan untuk tetap optimistis.

Jika saya menjadi guru, saya tidak akan bertahan hanya karena profesi ini dianggap mulia. Saya ingin bertahan karena pekerjaan ini memberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berarti, sekaligus memungkinkan saya terus bertumbuh sebagai manusia dan profesional.

Ada kebahagiaan yang sulit diukur dengan angka ketika seorang anak yang semula takut bertanya mulai berani mengangkat tangan. Ada kepuasan ketika murid yang kesulitan membaca akhirnya mampu memahami sebuah cerita. Bahkan, ketika seorang anak yang sering dianggap nakal mulai belajar mengendalikan diri, guru sedang menyaksikan perubahan yang tidak selalu terlihat dalam angka rapor.

Perubahan semacam ini tidak selalu terjadi dalam sehari. Kadang-kadang, hasil kerja guru baru terlihat bertahun-tahun kemudian, ketika muridnya sudah dewasa. Guru mungkin tidak pernah mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan seseorang. Namun, bukan berarti pengaruh itu tidak ada.

Meski demikian, makna pekerjaan saja tidak cukup untuk membuat seseorang bertahan. Guru juga perlu hidup layak, mempunyai waktu untuk keluarga, mendapatkan perlindungan, dan memiliki kesempatan mengembangkan karier. Kita tidak boleh menjadikan ketulusan sebagai alasan untuk membenarkan kesejahteraan yang tidak memadai. Guru boleh mencintai pekerjaannya sekaligus menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Lalu, bagaimana calon guru mempersiapkan diri?

Pertama, jangan hanya mengandalkan idealisme. Bekali diri dengan kemampuan yang benar-benar dibutuhkan di sekolah. Calon guru perlu belajar mengelola kelas, memahami karakter anak, merancang pembelajaran yang menarik, dan berkomunikasi dengan orang tua. Pengalaman praktik mengajar sebaiknya dimanfaatkan untuk membangun portofolio, bukan sekadar memenuhi kewajiban kuliah.

Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen

Kedua, bangun keahlian yang menjadi ciri khas. Ada guru yang mendalami literasi, pendidikan inklusif, mendongeng, teknologi pembelajaran, atau asesmen. Dunia pendidikan terus berubah sehingga guru perlu terus belajar. Kehadiran kecerdasan buatan, misalnya, bukan alasan untuk takut kehilangan peran. AI bisa membantu menyiapkan bahan ajar dan mencari ide, tetapi guru tetap diperlukan untuk memahami kebutuhan anak, membangun hubungan, dan mengambil keputusan yang manusiawi.

Ketiga, calon guru perlu berpikir realistis tentang karier dan keuangan. Pelajari jalur rekrutmen, peluang kerja di sekolah negeri maupun swasta, serta persyaratan pengembangan profesi. Bangun jaringan dengan sesama guru dan jangan ragu mengikuti komunitas belajar. Menjadi guru tidak berarti berhenti berkembang. Keterampilan mengajar juga dapat menjadi bekal untuk menulis buku, menjadi pelatih, mengembangkan kurikulum, atau menghasilkan media pembelajaran.

Namun, tanggung jawab menjaga masa depan guru tidak boleh dibebankan kepada individu semata. Pemerintah perlu memperbaiki kesejahteraan dan kepastian karier. Sekolah perlu menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Perguruan tinggi pencetak guru perlu mempersiapkan mahasiswa menghadapi kenyataan kelas, bukan hanya menguasai teori. Orang tua pun perlu memandang guru sebagai mitra dalam mendidik anak.

Pada akhirnya, kita tidak cukup hanya mengajak anak muda menjadi guru. Kita harus memastikan bahwa profesi ini layak dipilih dan memungkinkan mereka menjalani kehidupan yang baik.

Saya tetap percaya bahwa menjadi guru adalah pilihan yang berharga. Bukan karena guru harus rela berkorban tanpa batas, melainkan karena guru mempunyai kesempatan untuk ikut membentuk manusia yang kelak membentuk masa depan.

Jangan meminta anak muda menjadi guru hanya karena bangsa membutuhkan mereka. Ciptakanlah keadaan yang membuat mereka bangga memilih profesi ini, mampu hidup layak, dan memiliki alasan untuk terus bertahan. Sebab, masa depan pendidikan bukan hanya bergantung pada siapa yang bersedia mengajar, tetapi juga pada bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang mengajar.