Konten dari Pengguna

“Guru Kok Pindah ke Kantor? Saya Pun Sempat Bertanya: Bisa Apa ?"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari cakeplaskmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasu guru sumber dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasu guru sumber dokumentasi pribadi

“Kalau tidak jadi guru, bisa mengerjakan pekerjaan kantor, administrasi, dan lain-lain?” Pertanyaan sederhana itu muncul ketika orang-orang mengetahui bahwa saya akan berpindah tugas dari guru menjadi pelaksana pada Kantor Wilayah.

Bagi sebagian orang, menjadi guru dan mengerjakan pekerjaan administrasi kantor mungkin seperti berada di dua dunia yang berbeda ?. Bagi saya, pertanyaan itu justru menjadi awal dari sebuah perjalanan baru. Selama ini, saya adalah guru di madrasah. Ruang kelas, peserta didik, buku, tugas, dan berbagai cerita di madrasah telah menjadi bagian dari keseharian.

Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Ada ikatan emosional yang tumbuh bersama peserta didik. Karena itu, ketika harus meninggalkan ruang kelas, ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan. Saya tidak lagi berdiri di depan peserta didik setiap hari. Tidak lagi mempersiapkan pembelajaran seperti sebelumnya. Tidak lagi mendengar suara anak-anak memanggil, “Bu Guru.”

Ada ruang yang tiba-tiba terasa berbeda. Namun, sebagai ASN saya menyadari bahwa ada saatnya kita menerima amanah dalam bentuk yang berbeda. Perpindahan tugas membawa saya ke lingkungan baru di Kantor Wilayah.

Hari pertama langsung diisi dengan Rapat Koordinasi Internal. Belum sempat beradaptasi, saya sudah berada di tengah pembahasan program, kelembagaan, administrasi, koordinasi, dan berbagai persoalan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan madrasah.

Saya mulai memahami bahwa menjadi ASN tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan yang telah dimiliki. Ketika amanah berubah, kompetensi pun harus berkembang. Sebagai guru terbiasa menyiapkan pembelajaran. Di tempat baru, perlu mempelajari regulasi, administrasi, mengolah informasi, berkoordinasi, dan memberikan pelayanan. Tidak mudah karena ada banyak hal baru yang harus dipelajari. Namun justru di situlah proses belajar dimulai.

Belum lama beradaptasi dengan lingkungan kerja baru, saya langsung mengikuti Roadshow Rakorda di beberapa kabupaten. Jika sebelumnya datang ke sekolah untuk mengajar, kali ini berkesempatan bertemu dengan kepala madrasah, guru, pengelola, serta berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah.

Dari perjalanan itu, saya mulai melihat bahwa persoalan setiap madrasah tidak selalu sama. Ada yang membutuhkan penguatan kelembagaan. Ada yang menghadapi persoalan administrasi. Ada pula yang memerlukan pendampingan untuk memahami kebijakan dan regulasi.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, saya melihat sesuatu yang tidak kalah penting: semangat para pengelola madrasah untuk terus bekerja, meskipun dengan berbagai keterbatasan. Roadshow itu perlahan mengubah cara pandang . Selama menjadi guru lebih banyak melihat pendidikan dari dalam kelas. Kini, melihatnya dari perspektif yang lebih luas.

Saya belajar bahwa menjadi ASN di bidang pendidikan bukan hanya tentang duduk di balik meja dan menyelesaikan dokumen. Ada saatnya kita harus turun langsung untuk mendengar, menjelaskan, mencatat persoalan serta mencari solusi. Dan yang terpenting, memastikan kebijakan tidak berhenti sebagai tulisan di atas kertas.

Dari pengalaman tersebut, saya mulai memahami bahwa tata kelola SDM ASN pada akhirnya bukan hanya tentang jabatan, struktur, dan administrasi. Di dalamnya ada manusia yang harus terus belajar, beradaptasi, mengembangkan kompetensi, serta mampu bekerja sesuai kebutuhan organisasi. Perpindahan dari guru menjadi pelaksana menjadi pengalaman nyata bagi saya tentang hal tersebut.

Saya tidak bisa lagi berpikir, “ hanya bisa mengajar.” Tapi saya ubah menjadi pernyataan "saya pelajari agar mampu menjalankan amanah ini” Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa seorang ASN harus siap tumbuh ketika mendapatkan tanggung jawab baru.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah ketika mendapat kesempatan menjelaskan Izin Operasional Madrasah kepada para ustaz dan kiai dari pondok pesantren. Saat itu, saya tidak berdiri di depan kelas seperti biasanya, tetapi di hadapan para pengelola lembaga pendidikan yang datang membawa pertanyaan dan harapan agar madrasah mereka terus berkembang. Saya harus menjelaskan aturan dengan bahasa yang sederhana, bukan hanya menyampaikan prosedur, tetapi juga memahami kebutuhan mereka. Saya menyadari bahwa izin operasional bukan sekadar dokumen. Di baliknya ada pondok pesantren yang ingin berkembang, lembaga yang membutuhkan kepastian, guru yang ingin mengajar, dan anak-anak yang menunggu tempat untuk belajar.

Saat itulah saya semakin memahami arti pelayanan sebagai ASN. Pekerjaan sederhana di balik meja ternyata dapat memberi dampak berarti. Penjelasan yang baik membantu madrasah memahami langkah yang harus dilakukan, sementara pelayanan yang ramah membuat orang yang datang dari jauh merasa lebih tenang dan dihargai. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam pekerjaan besar, tetapi juga dalam hal sederhana: menjawab pertanyaan dengan sabar, memeriksa dokumen dengan teliti, mendengarkan persoalan, dan membantu memahami aturan.

Kini, saya melihat perpindahan ini dengan cara berbeda. Saya tidak meninggalkan dunia pendidikan, hanya berpindah peran. Dulu berhadapan dengan peserta didik, kini dengan berbagai persoalan di balik proses pendidikan. Dulu mengajar agar mereka memahami pelajaran, sekarang berusaha membantu madrasah menjalankan tugasnya dengan lebih bai

Saya tetap membawa semangat seorang guru di balik meja kerja sebagai ASN. Saya belajar bahwa menjadi ASN bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang kesediaan untuk terus belajar, beradaptasi, dan bekerja sama. Di mana pun ditempatkan, amanah tetap harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Saya meninggalkan kelas di madrasah. Namun, saya tidak meninggalkan pendidikan tetapi hanya memperluas ruang pengabdian. Jabatan boleh berubah. Tempat bekerja boleh berbeda. Tetapi pengabdian tidak boleh ikut berpindah arah.