Konten dari Pengguna

Hannah Arendt dan Hantu yang Kembali

Nurul Firmansyah

Nurul Firmansyah

Lawyer and Restorative Economy Enthusiast

·waktu baca 10 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : https://www.newstatesman.com/culture/2019/03/why-hannah-arendt-is-the-philosopher-for-now
zoom-in-whitePerbesar
sumber : https://www.newstatesman.com/culture/2019/03/why-hannah-arendt-is-the-philosopher-for-now

Ada sesuatu yang mengganggu ketika membaca kembali Hannah Arendt hari-hari ini.

Bukan karena sejarah sedang mengulang dirinya secara persis. Sejarah hampir tidak pernah bekerja seperti itu. Yang mengganggu justru karena sejumlah mekanisme politik yang pernah dibaca Arendt muncul kembali dalam bentuk yang berbeda: massa yang merasa kehilangan pijakan, politik yang semakin digerakkan emosi, pencarian kambing hitam, ketidakpercayaan terhadap institusi, serta kerinduan pada figur yang menjanjikan ketertiban dengan bahasa sederhana.

Tujuh puluh lima tahun setelah The Origins of Totalitarianism terbit pada 1951, pertanyaan Arendt kembali menemukan gema di tengah kebangkitan populisme kanan di berbagai belahan dunia. Buku itu lahir dari pengalaman Eropa yang dihancurkan Nazisme dan Stalinisme.

Arendt tidak sedang membuat ramalan politik. Ia berusaha memahami bagaimana masyarakat modern dapat kehilangan ruang politik bersama dan bagaimana propaganda, isolasi sosial, serta kehancuran kepercayaan terhadap institusi dapat membuka jalan bagi bentuk-bentuk kekuasaan yang ekstrem.

Pembacaan Alois A. Nugroho atas Arendt membantu membuka kembali persoalan tersebut melalui sejumlah pasangan konsep: pariah dan parvenu, rakyat dan massa, manusia dan warga negara, serta yang otentik dan yang tidak otentik.

Konsep-konsep itu tentu tidak dapat dipindahkan begitu saja ke dunia politik 2026. AfD bukan Nazi. Sanseito bukan Partai Nazi. Pemerintahan Donald Trump bukan rezim Hitler. Populisme kanan kontemporer tidak otomatis sama dengan totalitarianisme.

Justru karena perbedaan itu penting, Arendt kembali berguna.

Yang perlu dibaca bukan pengulangan sejarah secara harfiah, melainkan mekanisme sosial-politik yang membuat sebuah masyarakat rentan terhadap politik massa, propaganda, eksklusi dan figur kuat.

Pada September 2026, Alternative für Deutschland (AfD) memperoleh hampir 44 persen suara dalam pemilu negara bagian Saxony-Anhalt dan menjadi partai terbesar di parlemen negara bagian tersebut. AfD memperoleh 39 dari 83 kursi, sehingga belum memiliki mayoritas untuk membentuk pemerintahan sendiri dan masih membutuhkan mitra politik.

Di Jepang, Sanseito memperoleh 14 kursi baru dalam pemilu Majelis Tinggi 2025, setelah sebelumnya hanya memiliki satu kursi. Partai yang tumbuh melalui YouTube itu menggunakan slogan Japanese First dan kampanye yang menekankan isu imigrasi serta apa yang mereka sebut sebagai "silent invasion" oleh warga asing.

Di Amerika Latin, hubungan antara pemerintahan konservatif dan Washington juga semakin intens. Peru, di bawah Presiden Keiko Fujimori, pada September 2026 menyatakan akan bergabung dengan koalisi Shield of the Americas yang dipimpin Amerika Serikat untuk menghadapi organisasi kriminal lintas negara. Sementara itu, hubungan Donald Trump dengan Presiden Argentina Javier Milei telah berkembang menjadi kemitraan ekonomi dan politik yang erat; pada 2025 Departemen Keuangan Amerika Serikat bahkan menjalankan skema pertukaran mata uang senilai US$20 miliar dengan Argentina.

Tiga kawasan tersebut memiliki sejarah, institusi dan persoalan yang sangat berbeda.

Namun ada satu pertanyaan yang menghubungkannya: Mengapa politik yang bertumpu pada identitas, rasa takut, kemarahan dan figur kuat kembali menemukan pasar sosialnya?

Ketika Rakyat Berubah Menjadi Massa

Arendt membedakan people dan masses.

Rakyat bukan sekadar kumpulan orang yang memberikan suara. Rakyat adalah warga yang mengambil bagian dalam kehidupan publik, memiliki kemampuan membentuk penilaian, dan ikut menentukan arah kehidupan bersama.

Massa berbeda.

Dalam pembacaan Arendt, massa muncul ketika ikatan sosial dan politik yang sebelumnya menghubungkan individu dengan masyarakat mengalami keretakan. Individu menjadi terisolasi, kehilangan rasa memiliki, dan semakin tidak percaya bahwa institusi politik mampu menerjemahkan pengalaman hidupnya ke dalam keputusan publik.

Di titik itu, politik menjadi mudah dipenuhi slogan.

Sanseito memberikan contoh yang menarik. Partai tersebut tumbuh melalui media sosial dan kemudian mengubah energi digital menjadi kekuatan elektoral. Dalam pemilu 2025, slogan Japanese First menjadi salah satu kendaraan pentingnya, disertai narasi mengenai imigrasi, biaya hidup dan identitas nasional. Reuters mencatat bahwa kenaikan Sanseito berlangsung bersamaan dengan keresahan masyarakat terhadap inflasi pangan, termasuk kenaikan harga beras.

Yang penting bukan sekadar apakah setiap klaim politik tersebut benar atau salah. Yang lebih penting adalah bagaimana keresahan sosial dikonstruksi menjadi cerita politik.

Harga pangan naik. Upah terasa tidak bergerak. Masa depan anak muda tidak pasti. Institusi kehilangan kepercayaan.

Kemudian muncul sebuah narasi sederhana: Ada "mereka" yang mengambil sesuatu dari "kita".

Dalam politik massa, kompleksitas memiliki kelemahan: ia membutuhkan waktu untuk dipahami. Kambing hitam tidak. Ia menawarkan penjelasan instan terhadap dunia yang rumit.

Hantu Tidak Datang dalam Bentuk Lama

Di sinilah kita harus berhati-hati.

Menyamakan kebangkitan populisme kanan dengan Nazisme atau Stalinisme justru dapat menghilangkan ketajaman analisis. Totalitarianisme yang dibahas Arendt memiliki karakter historis yang sangat spesifik: dominasi politik total, teror, penghancuran pluralitas, propaganda dan upaya menguasai kehidupan manusia secara menyeluruh.

Politik kanan kontemporer berada dalam konteks yang berbeda.

Yang mungkin berulang bukan rezimnya, melainkan kondisi sosial yang membuat masyarakat rentan terhadap politik yang meniadakan kompleksitas.

Krisis representasi. Dislokasi ekonomi. Ketidakpercayaan terhadap institusi. Fragmentasi informasi. Politik identitas. Dan keinginan menemukan seseorang yang dapat berkata dengan tegas: "Saya tahu siapa yang harus disalahkan."

Kemenangan AfD di Saxony-Anhalt memperlihatkan kompleksitas itu. Hasil pemilu tersebut berkaitan dengan keresahan terhadap birokrasi, biaya hidup, ketidakamanan ekonomi dan ketidakpuasan terhadap pemerintah federal. Namun pengalaman para pemilih tidak dapat direduksi menjadi satu motif tunggal.

Di sinilah Arendt membantu kita menghindari penjelasan yang terlalu mudah. Masyarakat yang merasa kehilangan tidak otomatis kehilangan rasionalitas. Kemarahan mereka bisa sangat rasional sebagai pengalaman hidup. Yang menjadi persoalan adalah ke mana kemarahan itu diarahkan.

Apakah kemarahan diterjemahkan menjadi tuntutan terhadap perbaikan institusi, distribusi ekonomi, pelayanan publik dan representasi politik? Ataukah ia diarahkan kepada kelompok yang lebih lemah—migran, minoritas, pengungsi—yang kemudian diposisikan sebagai sumber seluruh persoalan?

Pertanyaan itu lebih penting daripada sekadar bertanya mengapa seseorang "menjadi kanan".

Politik dalam Ekonomi Perhatian

Pada zaman Arendt, propaganda menggunakan surat kabar, radio, poster dan pidato massa.

Hari ini, propaganda memiliki mesin yang jauh lebih cepat: algoritma. Media sosial tidak hanya menyebarkan informasi. Ia mengatur perhatian.

Konten yang menimbulkan kemarahan, ketakutan atau rasa memiliki kelompok dapat beredar jauh lebih cepat daripada penjelasan yang membutuhkan konteks.

Sanseito adalah contoh penting. Reuters mencatat bahwa partai tersebut diluncurkan melalui YouTube dan kemudian memperoleh daya tarik yang lebih luas melalui kampanye Japanese First.

Di sinilah gagasan Arendt tentang massa perlu dibaca ulang. Massa abad ke-21 tidak harus berkumpul di sebuah alun-alun. Mereka dapat berada di jutaan layar yang terpisah. Mereka tidak harus saling mengenal. Algoritma dapat membuat mereka merasa berada dalam satu kerumunan.

Kerumunan digital memiliki karakter baru: ia dapat terbentuk, membesar dan menghilang dalam hitungan jam. Akibatnya, politik tidak selalu berlangsung sebagai pertukaran argumentasi. Ia dapat berubah menjadi kompetisi mendapatkan perhatian.

Yang paling keras terdengar tidak selalu yang paling benar. Yang paling emosional tidak selalu yang paling penting.

Di sinilah demokrasi menghadapi persoalan yang lebih dalam daripada sekadar kemenangan sebuah partai. Apa yang terjadi ketika ruang publik berubah menjadi pasar perhatian?

Dari Pariah ke Politik Identitas

Arendt juga berbicara mengenai pariah dan parvenu: mereka yang berada di luar dan mereka yang berusaha masuk ke dalam struktur sosial dominan dengan menyesuaikan diri terhadap aturan kekuasaan.

Konsep tersebut tidak dapat dipindahkan begitu saja ke politik abad ke-21.

Namun ada sesuatu yang tetap relevan. Politik populisme kanan sering dibangun melalui konstruksi batas antara "kita" dan "mereka".

Siapa yang benar-benar termasuk bangsa? Siapa yang dianggap pendatang? Siapa yang memiliki hak? Siapa yang harus menyesuaikan diri? Siapa yang dianggap mengancam identitas nasional? Pertanyaan semacam itu bukan sekadar soal imigrasi. Ia menyentuh persoalan paling dasar dalam politik modern: Siapa yang kita akui sebagai bagian dari komunitas politik?

Arendt memahami pertanyaan tersebut secara eksistensial. Pengalamannya sebagai pengungsi Yahudi membuatnya melihat betapa rapuhnya hak manusia ketika seseorang kehilangan keanggotaan dalam sebuah komunitas politik.

Karena itu, pembicaraan tentang migrasi tidak pernah hanya berbicara tentang jumlah pendatang. Ia selalu menyentuh batas antara manusia, warga negara dan orang asing.

Di sinilah gagasan Arendt mengenai right to have rights memperoleh kembali relevansinya: hak tidak cukup hanya dinyatakan secara abstrak; manusia membutuhkan dunia politik tempat hak itu diakui dan dapat ditegakkan.

Figur Kuat dan Krisis Kepercayaan

Ada fenomena lain yang sulit diabaikan: munculnya jejaring politik lintas negara di antara sejumlah pemimpin populis kanan.

Hubungan Donald Trump dan Javier Milei merupakan salah satu contohnya. Dukungan ekonomi Washington kepada Argentina pada 2025 bukan sekadar transaksi finansial. Reuters mencatat bahwa kebijakan itu juga ditempatkan dalam konteks kepentingan strategis Amerika Serikat, termasuk upaya memperkuat hubungan ekonomi dengan Argentina dan mengurangi pengaruh China.

Di Peru, kerja sama dengan Washington juga semakin erat. Pemerintahan Keiko Fujimori menyatakan bergabung dengan Shield of the Americas, sementara kedua negara memperdalam kerja sama keamanan dan pertahanan.

Namun fenomena tersebut tidak cukup dijelaskan sebagai "konformitas" terhadap kekuatan hegemonik. Hubungan antarnegara selalu memiliki kepentingan strategis, ekonomi dan keamanan yang kompleks.

Yang lebih menarik dari perspektif Arendt adalah persoalan legitimasi. Politik membutuhkan institusi, tetapi juga membutuhkan penilaian warga.

Ketika politik semakin dipersonalisasi, loyalitas terhadap figur dapat mengambil ruang yang sebelumnya ditempati perdebatan kebijakan. Simbol dapat menggantikan argumentasi. Identitas dapat menggantikan program.

Demokrasi masih memiliki pemilu. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: Seberapa hidup ruang politik di antara pemilu?

Demokrasi Bukan Sekadar Kotak Suara

Mungkin di sinilah pelajaran Arendt paling penting. Demokrasi tidak hanya soal siapa yang menang dalam pemilu.

Demokrasi juga soal apakah warga masih memiliki ruang untuk berbicara, berbeda pendapat, menguji fakta, mempertanyakan kekuasaan, dan mengubah pikirannya tanpa harus kehilangan identitas sosialnya.

Arendt menaruh perhatian besar pada dunia bersama—common world—yang memungkinkan manusia hidup bersama meskipun berbeda.

Tanpa dunia bersama, setiap kelompok dapat hidup dalam kenyataan masing-masing. Satu kelompok percaya pada fakta A. Kelompok lain percaya pada fakta B. Keduanya tidak lagi memiliki ruang bersama untuk menguji perbedaan itu. Pada titik tertentu, politik tidak lagi menjadi proses mencari keputusan bersama. Ia menjadi perang antar-realitas.

Algoritma mempercepat proses tersebut. Tetapi algoritma bukan satu-satunya penyebab. Institusi politik yang tidak responsif, media yang kehilangan kepercayaan publik, ketimpangan ekonomi, lemahnya pendidikan kewargaan dan hilangnya ruang perjumpaan sosial juga berperan dalam membentuk kondisi tersebut.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar bagaimana mengalahkan populisme. Persoalannya adalah bagaimana demokrasi memperbaiki kondisi yang membuat politik populis memperoleh daya tarik.

Hantu yang Sebenarnya

Karena itu, hantu yang kembali bukanlah Hitler. Bukan pula Stalin. Hantu itu jauh lebih sederhana dan justru karena itu lebih sulit dikenali. Hantu itu adalah hilangnya kemampuan hidup bersama dalam perbedaan.

Arendt mengingatkan bahwa totalitarianisme tidak muncul dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kombinasi kondisi sosial dan politik tertentu: isolasi, kehancuran ikatan bersama, propaganda, hilangnya kepercayaan dan runtuhnya kemampuan membedakan kenyataan dari fiksi.

Kita tidak sedang menyaksikan pengulangan sejarah secara harfiah. Tetapi kita sedang menyaksikan sejumlah persoalan yang membuat pembacaan Arendt kembali relevan.

Karena itu, tugas demokrasi bukan mengatakan kepada warga bahwa kemarahan mereka salah. Kemarahan terhadap ketimpangan, stagnasi ekonomi, migrasi yang tidak terkelola, korupsi atau kegagalan institusi dapat menjadi persoalan politik yang sah.

Tugas demokrasi adalah memastikan kemarahan tersebut memiliki saluran politik yang mampu mengubahnya menjadi agenda publik bukan menjadikannya kebencian terhadap sesama.

Di situlah institusi publik, media, pendidikan, masyarakat sipil dan warga negara memiliki pekerjaan yang sama: mengubah kemarahan menjadi deliberasi, bukan membiarkannya berubah menjadi kebencian.

Sebab ketika ruang deliberasi mati, politik akan mencari bentuk lain. Dan bentuk itu bisa datang melalui seorang pemimpin yang menawarkan jawaban sederhana untuk dunia yang semakin rumit.

Hannah Arendt tidak memberikan ramalan tentang 2026. Ia meninggalkan sesuatu yang lebih berguna: sebuah peringatan tentang apa yang terjadi ketika manusia berhenti menjadi warga yang berpikir bersama dan berubah menjadi kerumunan yang hanya bereaksi bersama.

Hantu itu tidak kembali dalam bentuk yang sama. Ia kembali setiap kali manusia kehilangan kemampuan untuk melihat bahwa di balik perbedaan politik masih ada dunia bersama yang harus dijaga.

Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan terpenting Arendt untuk zaman kita bukanlah siapa yang akan menang dalam pertarungan politik. Melainkan: apakah kita masih mampu hidup bersama setelah pertarungan itu selesai?