Konten dari Pengguna

Hardiknas: Ketika Media Sosial Membentuk Citra Sekolah di Era Digital

Sarah Yunizka

Sarah Yunizka

Mahasiswa S2, finalis Puteri Indonesia 2008, ibu rumah tangga, dan entrepreneur. Aktif dalam kegiatan sosial, organisasi dan sebagai food content creator. Menulis tentang komunikasi, media sosial, pariwisata, dan pendidikan.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarah Yunizka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi koper bekas diubah menkadi scholar panel di sekolah dasar. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi koper bekas diubah menkadi scholar panel di sekolah dasar. Foto: Dok. Istimewa

Sebagai generasi milenial yang hidup berdampingan dengan generasi Z dan Alpha, penulis merasakan perbedaan yang cukup signifikan, terutama di era digital. Tanpa kita sadari, cara orang tua mengenal atau mencari informasi tentang sekolah kini tidak lagi dimulai dari brosur atau rekomendasi mulut ke mulut, melainkan dari layar gawai. Cukup dengan membuka Instagram, TikTok, X, atau platform digital lainnya, orang tua kini bisa melihat aktivitas siswa, lingkungan sekolah, suasana belajar, hingga nilai jual dari sekolah yang dituju

Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional, perubahan ini menjadi refleksi penting bahwa dunia pendidikan tidak hanya berkembang pada metode atau kurikulum pembelajaran yang terus mengalami perubahan, tetapi juga dalam cara berkomunikasi dengan publik. Sekolah tidak lagi hanya dinilai dari prestasi akademik atau non-akademik semata, tetapi juga dari bagaimana manajemen sekolah membangun citra melalui media sosial.

Dalam kajian komunikasi modern, media sosial telah menjadi kanal utama dalam menyampaikan pesan organisasi kepada publik. Media ini memungkinkan interaksi yang lebih terbuka, cepat, dan luas antara institusi dan audiensnya (Kotler et al., 2022). Bagi lembaga pendidikan, hal ini berarti bahwa setiap unggahan bukan sekadar dokumentasi, tetapi juga representasi dari identitas sekolah itu sendiri.

Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial kini berfungsi sebagai “cermin” sekaligus representasi sekolah di ruang publik. Apa yang ditampilkan oleh sekolah, baik berupa kegiatan siswa dan guru, prestasi, maupun program sekolah, akan membentuk persepsi masyarakat. Dalam konteks ini, citra sekolah tentunya tidak lagi dibangun secara satu arah, tetapi melalui proses komunikasi yang dinamis dan berkesinambungan.

Selain itu, media sosial memiliki peran penting dalam meningkatkan kepercayaan publik terhadap suatu organisasi/lembaga, dalam hal ini sekolah. Penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang konsisten dan transparan di media sosial dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap suatu institusi (Appel et al., 2020). Hal ini menjadi semakin relevan ketika orang tua kini cenderung mencari informasi secara mandiri, yang tentunya tidak hanya dari satu sumber saja. Bagi orang tua, mengumpulkan sumber informasi sebanyak-banyaknya yang kredibel memberikan nilai tersendiri sebelum menentukan pilihan pendidikan bagi anaknya.

Tidak hanya itu, kualitas informasi yang disampaikan melalui media sosial juga memiliki pengaruh besar terhadap persepsi publik. Informasi yang jelas, relevan, dan konsisten akan membantu membangun citra yang positif dan kuat (Ardiana, 2024). Sebaliknya, komunikasi yang tidak terarah dapat menimbulkan kesan yang kurang baik di mata publik, dalam hal ini orang tua serta siswa sebagai calon keluarga besar dari sekolah tersebut.

Media Sosial Sebagai Jembatan

Teknologi digital kini menjadi bagian dari wajah baru pendidikan. (Dok. Pribadi)

Di era digital saat ini, terlebih dengan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI), media sosial pada dasarnya hanyalah alat atau jembatan yang menghubungkan sekolah dan publik secara transparan. Yang paling menentukan adalah bagaimana sekolah mengelola komunikasi tersebut. Tanpa strategi yang jelas, media sosial justru bisa menjadi sekadar etalase tanpa makna yang tak menarik. Jangankan dipelajari, pengunjung media sosial tersebut pun bahkan sepi minat. Di sinilah pentingnya manajemen komunikasi yang terencana, di mana setiap pesan yang disampaikan selaras dengan nilai yang ingin dibangun oleh manajemen sekolah.

Dalam konteks ini, sekolah tidak hanya dituntut untuk aktif di media sosial, tetapi juga mampu menyampaikan pesan yang merepresentasikan citra sekolah yang sesungguhnya. Dunia semakin modern. Publik pun saat ini semakin kritis dan cenderung lebih percaya pada konten keseharian dibandingkan yang bersifat promosi semata tanpa adanya nilai jual nyata. Oleh karena itu, keaslian mengenai fasilitas sekolah, program unggulan atau prestasi siswa dan guru harus ditata secara konsisten untuk menjadi kunci utama dalam membangun citra yang kuat. Meskipun informasi awal diperoleh dari media sosial, orang tua dan siswa umumnya tetap melakukan pengecekan langsung ke sekolah. Namun, kesan pertama sering kali terbentuk dari apa yang sudah ditampilkan di ruang digital, sebagai refleksi nyata dari sekolah itu sendiri.

Hari Pendidikan Nasional kali ini menjadi momentum yang tepat untuk melihat kembali bagaimana pendidikan tidak hanya soal proses belajar dan mengajar, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan tindakan nyata dengan masyarakat. Media sosial, jika digunakan dengan tepat, dapat menjadi jembatan yang menghubungkan sekolah dengan publik secara transparan dan akan menjadi etalase yang pas.

Pada akhirnya, citra sekolah tidak dibentuk dari apa yang sekadar diucapkan atau didengarkan, tetapi dari apa yang ditampilkan dan dirasakan. Di era digital ini, layar gawai telah menjadi ruang baru di mana sebuah persepsi bisa terbentuk. Sekolah pun harus siap menjadi pemeran protagonis hingga berhasil mengambil hati masyarakat selangkah demi selangkah. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026!