Konten dari Pengguna

Harga Singkong Menguat, Petani Diuntungkan, Namun Bibit Terancam Musim Kering

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nasmal Hamda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenaikan harga singkong seharusnya menjadi kabar baik bagi petani. Namun, di balik senyum mereka, ada persoalan serius yang tidak boleh diabaikan: bagaimana memastikan petani tetap memiliki bibit berkualitas ketika musim kemarau datang dan musim tanam berikutnya dimulai?

Harga singkong yang menguat menjadi angin segar bagi petani. Setelah berbulan-bulan mengeluarkan tenaga, biaya, dan waktu untuk mengolah lahan, petani akhirnya mendapatkan harga jual yang lebih menjanjikan. Pendapatan meningkat, biaya produksi lebih mudah ditutup, dan harapan untuk memperbaiki ekonomi keluarga kembali tumbuh.

Tetapi pertanian selalu memiliki cerita di balik angka harga. Harga tinggi hari ini belum tentu menjamin kesejahteraan petani pada musim berikutnya. Justru ketika harga singkong membaik, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah petani memiliki cukup modal, bibit, air, dan dukungan produksi untuk kembali menanam?

Dokumentasi pribadi petani singkong di lampung utara diuntungkan harga singkong naik.

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika musim kemarau mulai mengancam. Bagi petani singkong, musim kering bukan sekadar persoalan cuaca. Kemarau dapat memengaruhi kondisi tanah, ketersediaan air, persiapan lahan, pertumbuhan tanaman, hingga ketersediaan batang yang layak digunakan sebagai bibit.

Di sinilah persoalan mulai terlihat. Kita sering merasa cukup ketika harga komoditas pertanian naik. Pemerintah dan masyarakat mungkin melihatnya sebagai indikator bahwa petani sedang menikmati keuntungan. Namun, keberhasilan pertanian tidak seharusnya diukur hanya dari harga jual hasil panen. Ada rantai panjang yang harus dijaga agar petani mampu kembali berproduksi.

Bibit adalah salah satunya. Singkong memang dikenal sebagai tanaman yang relatif mudah dibudidayakan. Bahan tanamnya dapat berasal dari batang tanaman yang telah dipanen. Namun, bukan berarti semua batang singkong otomatis dapat menjadi bibit berkualitas. Petani membutuhkan batang dari tanaman yang sehat, memiliki pertumbuhan baik, bebas dari gangguan penyakit, dan memenuhi karakteristik yang sesuai untuk ditanam kembali.

Ketika musim kemarau berlangsung panjang, persoalan ketersediaan bibit menjadi semakin rumit. Tanaman yang seharusnya menjadi sumber bahan tanam dapat mengalami penurunan kualitas. Jika kondisi ini tidak diantisipasi, petani dapat menghadapi masalah ketika musim tanam tiba.

Ironisnya, ancaman tersebut muncul justru ketika harga singkong sedang memberikan harapan.Jika harga tinggi mendorong petani untuk memperluas atau meningkatkan produksi, kebutuhan terhadap bibit juga akan meningkat. Apabila ketersediaan bibit tidak dipersiapkan sejak awal, hukum pasar akan bekerja. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga bibit berpotensi ikut naik. Pada titik inilah keuntungan petani dari kenaikan harga singkong dapat kembali tergerus.

Petani akhirnya berada dalam lingkaran yang sama: harga panen naik, tetapi biaya untuk memulai produksi berikutnya juga meningkat. Kondisi semacam ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Jangan sampai perhatian terhadap petani hanya muncul ketika harga komoditas sedang tinggi atau ketika persoalan pangan menjadi isu nasional. Petani membutuhkan kebijakan yang konsisten, bukan perhatian yang datang secara musiman.

Pemerintah daerah perlu mulai melihat persoalan singkong dari hulu hingga hilir. Pembinaan tidak cukup hanya dilakukan melalui peningkatan produktivitas atau pemasaran hasil panen. Ketersediaan bahan tanam harus masuk dalam perencanaan. Kelompok tani dapat didorong untuk memiliki kebun sumber bibit atau sistem penyediaan bahan tanam secara kolektif.

Dengan cara tersebut, petani tidak sepenuhnya bergantung pada pasar ketika musim tanam tiba. Mereka memiliki cadangan bahan tanam yang dapat digunakan untuk menjaga kesinambungan produksi.

Persoalan bibit juga menunjukkan pentingnya peran penyuluh pertanian. Petani perlu mendapatkan pendampingan mengenai bagaimana memilih batang yang layak menjadi bibit, bagaimana mempertahankan kualitasnya, serta bagaimana mengantisipasi kondisi lahan ketika musim kering. Pengetahuan sederhana semacam ini dapat menjadi investasi besar bagi keberlanjutan produksi.

Namun, kita juga tidak boleh membebankan seluruh persoalan kepada petani.

Selama ini petani sering diminta meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas, mengikuti perkembangan teknologi, dan memenuhi kebutuhan pasar. Tetapi ketika menghadapi persoalan harga, modal, cuaca, bibit, dan akses pasar, mereka justru sering dibiarkan menghadapi risiko sendiri.

Pola seperti ini perlu dikoreksi. Petani bukan sekadar produsen yang harus terus menghasilkan bahan pangan dan bahan baku murah. Mereka adalah pelaku ekonomi yang berhak mendapatkan keuntungan yang layak. Karena itu, ketika harga singkong meningkat, kenaikan tersebut semestinya tidak dipandang sebagai persoalan bagi konsumen semata, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat posisi ekonomi petani.

Masalahnya, posisi tawar petani masih menjadi tantangan. Petani sering tidak memiliki kendali penuh terhadap harga. Mereka menjual ketika membutuhkan uang, sementara pedagang atau pembeli memiliki informasi pasar dan akses yang lebih luas. Ketika harga turun, petani menanggung kerugian. Ketika harga naik, biaya produksi dapat ikut meningkat.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pertanian tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperdebatkan harga jual. Yang dibutuhkan adalah ekosistem pertanian yang sehat.

Dalam konteks singkong, ekosistem tersebut mencakup ketersediaan bibit, pengelolaan air, akses terhadap modal, teknologi budidaya, kepastian pasar, pengolahan pascapanen, hingga hubungan yang adil antara petani dan pembeli.

Musim kemarau seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat persiapan, bukan alasan untuk menunggu sampai masalah terjadi. Petani, kelompok tani, penyuluh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha harus mulai menghitung kebutuhan bibit untuk musim tanam berikutnya.

Jangan menunggu bibit langka baru kemudian bertindak.

Prinsip sederhana ini penting karena persoalan pertanian selalu berkaitan dengan waktu. Bibit yang tidak tersedia ketika musim tanam telah tiba tidak dapat digantikan hanya dengan kebijakan yang terlambat. Begitu pula kerugian akibat gagal tanam tidak mudah dipulihkan.

Kenaikan harga singkong juga perlu dimanfaatkan sebagai momentum investasi bagi petani. Ketika memperoleh pendapatan lebih baik, sebagian keuntungan idealnya dapat digunakan untuk mempersiapkan musim tanam berikutnya. Bukan karena petani tidak boleh menikmati hasil jerih payahnya, tetapi karena keberlanjutan usaha tani membutuhkan perencanaan.

Di sisi lain, pemerintah dapat memberikan dukungan melalui penguatan kelompok tani, akses pembiayaan yang mudah, pendampingan teknis, pengembangan sumber bibit, dan penguatan pasar. Intervensi semacam ini jauh lebih produktif daripada sekadar hadir ketika harga sudah bermasalah.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap singkong. Singkong bukan sekadar tanaman pangan yang tumbuh di lahan masyarakat desa. Komoditas ini memiliki rantai ekonomi yang panjang dan dapat menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga. Jika produksinya terganggu karena persoalan bibit dan cuaca, dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga pelaku usaha yang menggunakan singkong sebagai bahan baku.

Karena itu, harga singkong yang menguat harus dibaca sebagai peluang sekaligus peringatan. Peluang karena petani memperoleh pendapatan yang lebih baik. Peringatan karena peningkatan harga dapat meningkatkan gairah tanam, sementara musim kemarau berpotensi mengganggu kesiapan produksi. Jika tidak diantisipasi, keuntungan yang dinikmati petani hari ini dapat berubah menjadi persoalan biaya dan produksi pada musim berikutnya.

Pada akhirnya, petani tidak membutuhkan sekadar harga tinggi. Mereka membutuhkan kepastian untuk terus berproduksi.

Harga yang baik tanpa bibit yang cukup tidak akan bertahan lama. Bibit yang tersedia tanpa pasar yang menjanjikan juga tidak menyelesaikan persoalan. Begitu pula produksi yang tinggi tanpa posisi tawar yang kuat hanya akan membuat petani kembali berada dalam situasi rentan.

Karena itu, saat petani tersenyum melihat harga singkong menguat, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tidak boleh berhenti pada kabar baik tersebut. Di balik senyum itu ada pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan: memastikan bibit tersedia, produksi berkelanjutan, dan petani memiliki posisi ekonomi yang lebih kuat.

Jangan sampai harga singkong hari ini menjadi kebahagiaan sesaat, sementara musim kemarau diam-diam menyiapkan persoalan untuk esok hari.

Petani memang sedang diuntungkan oleh harga. Tetapi keberlanjutan keuntungan itu sangat ditentukan oleh apa yang kita persiapkan sebelum musim tanam berikutnya tiba.