Hari Santri dan Pertanyaan yang Belum Selesai
Tulisan dari Ahmad Madani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap 22 Oktober, media sosial dipenuhi ucapan Selamat Hari Santri. Foto-foto bersarung, berpeci, kegiatan upacara, hingga cerita nostalgia kehidupan pondok kembali menghiasi ruang digital. Sebagai seseorang yang pernah menjalani kehidupan pesantren, saya memahami betul perasaan bangga yang muncul dalam setiap peringatan tersebut.
Saya adalah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001. Sudah lebih dari dua dekade saya meninggalkan kehidupan sebagai santri, tetapi banyak nilai yang saya peroleh di pesantren masih saya gunakan dalam kehidupan profesional. Menariknya, bidang yang saya tekuni justru bukan pendidikan agama, melainkan pemasaran, penjualan, pendidikan vokasi, dan teknologi kecerdasan buatan.
Dari perjalanan tersebut, saya semakin meyakini bahwa pendidikan pesantren tidak seharusnya dipahami sebagai jalan menuju satu atau dua profesi tertentu. Pesantren memiliki tanggung jawab menyiapkan manusia yang mampu mengamalkan nilai-nilai keagamaan dan memberikan kontribusi pada bidang kehidupan yang jauh lebih luas.
Namun, setiap kali Hari Santri tiba, saya selalu memiliki pertanyaan yang sama. Apakah kita sudah benar-benar melanjutkan perjuangan para pendahulu, atau justru terlalu nyaman membanggakan sejarah yang mereka tinggalkan?
Mengenang Sejarah, Melanjutkan Perjuangan
Tidak ada alasan untuk meragukan besarnya kontribusi ulama dan santri dalam perjalanan bangsa. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sejarah tersebut merupakan warisan berharga yang layak dikenang oleh setiap generasi.
Akan tetapi, cara memperjuangkan kepentingan bangsa tentu mengalami perubahan. Generasi santri sekarang menghadapi persoalan pendidikan, perubahan ekonomi, kesenjangan keterampilan, kerusakan lingkungan, dan perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.
Karena itu, menurut saya, menghormati perjuangan para pendahulu tidak cukup hanya dengan menghafal sejarah atau menyelenggarakan peringatan tahunan. Penghormatan yang lebih bermakna adalah melanjutkan nilai pengabdiannya melalui pekerjaan dan kontribusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat hari ini.
Pesantren dan Tantangan Dunia Digital
Dalam berbagai perjalanan untuk menjalankan kegiatan edukasi di sekolah maupun lembaga pendidikan, saya kerap menyempatkan diri berkunjung ke pesantren. Saya ingin berbagi pengetahuan sekaligus belajar memahami bagaimana pesantren merespons perkembangan zaman.
Salah satu hal yang sering menjadi perhatian saya adalah kesenjangan antara potensi santri dan kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Banyak santri memiliki kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan semangat belajar yang baik, tetapi masih membutuhkan akses pembelajaran dan jejaring yang lebih luas.
Perkembangan Artificial Intelligence seharusnya menjadi kesempatan bagi pesantren untuk memperkuat proses pendidikan. Teknologi dapat membantu pembelajaran bahasa, pengembangan kreativitas, komunikasi, dan kewirausahaan. Namun, AI juga membawa tantangan terkait kejujuran akademik, ketergantungan teknologi, serta kemampuan membedakan informasi yang benar dan menyesatkan.
Di sinilah saya melihat pentingnya nilai-nilai kepesantrenan. Teknologi boleh berkembang semakin canggih, tetapi integritas, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, dan adab tetap menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan.
Sebagai Alumni dan Orang Tua Santri
Pandangan saya tentang pesantren tidak hanya terbentuk dari pengalaman sebagai alumni. Saya juga seorang ayah yang mempercayakan pendidikan anak-anak kepada pesantren. Keputusan tersebut membuat saya memandang kualitas pendidikan pesantren dari perspektif yang lebih luas.
Orang tua tentu berharap anaknya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan memiliki pemahaman agama yang baik. Namun, harapan itu harus berjalan bersama jaminan lingkungan pendidikan yang aman, ramah anak, serta menghargai proses tumbuh kembang setiap santri.
Saya percaya pesantren bisa menjadi salah satu lembaga pendidikan yang memiliki kekuatan karakter luar biasa. Namun, kekuatan itu perlu terus dikembangkan melalui keteladanan pendidik, perbaikan sistem pengasuhan, keterbukaan terhadap evaluasi, dan kemampuan merespons tantangan baru.
Jangan Hanya Menjadi Kebanggaan Almamater
Tema Hari Santri 2026, "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", seharusnya diterjemahkan menjadi komitmen untuk menghadirkan generasi yang memiliki karakter sekaligus kompetensi. Santri harus memiliki kesempatan tumbuh menjadi pendidik, pengusaha, profesional, inovator, pemimpin, atau apa pun profesi yang mereka cita-citakan.
Menurut saya, ukuran keberhasilan pendidikan pesantren bukan hanya berapa banyak alumninya yang menjadi tokoh terkenal. Ukuran yang lebih penting adalah apakah nilai-nilai yang mereka pelajari mampu menghadirkan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Hari Santri seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi kita semua, terutama para alumni. Setelah bertahun-tahun meninggalkan pesantren, apakah kita masih membawa nilai-nilai kesantrian dalam kehidupan sehari-hari?
Saya ingin menutup refleksi ini dengan satu keyakinan: jangan hanya bangga pernah menjadi santri. Buktikan bahwa pendidikan pesantren masih hidup melalui karya, perilaku, dan manfaat yang kita berikan kepada masyarakat.

