Hierarki: Kenyataan yang Tak Bisa Disangkal

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Ilmu Hukum.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hierarki bukan semata mata ciptaan manusia, melainkan pola yang terus muncul di dalam kehidupan itu sendiri. Perbedaan kemampuan, pengalaman, kekuatan, dan peran membuat setiap makhluk menempati posisi yang berbeda beda, jauh sebelum manusia sempat menyepakati aturan sosial apa pun tentangnya.
Alam sudah lebih dulu menunjukkan pola ini, tanpa perlu diajarkan. Dalam kawanan serigala, dalam ekosistem hutan, bahkan dalam susunan sel di tubuh manusia sendiri, selalu ada posisi yang memimpin dan posisi yang mengikuti, ada yang menopang dan ada yang ditopang. Hierarki, dengan kata lain, adalah konsekuensi dari keberagaman realitas, bukan sekadar hasil kesepakatan sosial yang bisa dihapus dengan mudah lewat kesepakatan baru.

Namun keberadaan hierarki tidak berarti bahwa setiap bentuk penindasan adalah sesuatu yang benar. Di titik inilah kekeliruan besar sering terjadi, sebab manusia cenderung mencampuradukkan dua hal yang sesungguhnya berbeda: perbedaan alami sebagai kenyataan hidup, dan penindasan sebagai pilihan moral yang disengaja.
Yang sering terjadi adalah manusia mengubah perbedaan menjadi alasan untuk mendominasi. Yang lemah mudah tertindas, yang kurang berpengetahuan mudah dimanfaatkan, dan yang tidak sesuai dengan standar mayoritas mudah disingkirkan. Ini menunjukkan bagaimana kekuatan, alih alih kebenaran, sering kali menjadi penentu utama perlakuan yang diterima seseorang dalam hidupnya.
Ironisnya, banyak orang menyerukan kesetaraan secara ideal, tetapi tetap mempertahankan penilaian yang membedakan nilai setiap makhluk dalam praktiknya. Mereka menerima adanya tingkatan ketika hal itu menguntungkan dirinya, namun menolaknya dengan keras ketika dirinya berada di posisi yang lebih rendah.
Ketidakkonsistenan ini memperlihatkan sesuatu yang jarang diakui secara terbuka, bahwa keinginan akan kesetaraan sering berbenturan dengan naluri manusia untuk membuat hierarki nilai. Manusia bisa menuntut dunia menjadi setara sambil tetap, dalam diam, menyusun peringkat tentang siapa yang lebih pantas dihormati, didengar, atau dipercaya.
Melihat kenyataan ini secara jernih, bukan sekadar memahaminya sebagai konsep, adalah langkah yang sering terlewat. Kebanyakan orang berhenti pada tahap mengetahui bahwa hierarki itu ada, tanpa pernah benar benar melihat garis tipis yang memisahkan hierarki yang wajar dari penindasan yang harus dilawan. Baru ketika garis itu terlihat jelas, seseorang bisa berhenti mencampuradukkan keduanya, dan berhenti pula membenarkan penindasan hanya karena hierarki memang sebuah kenyataan.
Karena itu, jalan yang lebih bijaksana bukanlah menyangkal kenyataan bahwa perbedaan akan selalu ada di antara manusia. Menyangkalnya hanya akan membuat seseorang terus terkejut dan terluka setiap kali dunia menunjukkan wajah aslinya yang tidak pernah benar-benar rata.
Jalan yang lebih bijaksana justru dimulai dari memahami cara menghadapi kenyataan itu. Kesadaran akan realitas hierarki mendorong seseorang untuk terus bertumbuh dan memperkuat dirinya sendiri, alih-alih menghabiskan energi untuk menuntut dunia agar berubah lebih dulu.
Ini bukan berarti berhenti memperjuangkan keadilan, sebab melawan penindasan tetap sesuatu yang perlu dilakukan. Yang berubah hanyalah letak fondasinya, dari sekadar berharap dunia menjadi setara, menjadi membangun kemampuan diri yang membuat seseorang tetap berdiri teguh, sekalipun dunia di sekitarnya tidak selalu adil.
Pada akhirnya, kebebasan sejati bukan datang dari dunia yang berhasil disamaratakan, sebab dunia semacam itu barangkali tidak pernah benar benar ada. Kebebasan sejati datang dari seseorang yang telah tumbuh cukup kuat, sehingga posisinya dalam hierarki apa pun tidak lagi menentukan seberapa utuh ia memandang dirinya sendiri.
