Konten dari Pengguna

Hikayat Antroposen

Nurul Firmansyah

Nurul Firmansyah

Lawyer and Restorative Economy Enthusiast

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hikayat Antroposen
zoom-in-whitePerbesar

Manusia modern (Homo sapiens) telah hidup di planet ini sekitar 300.000 tahun. Bukti fosil dari Jebel Irhoud, Maroko, menunjukkan keberadaan manusia dengan anatomi yang sangat dekat dengan manusia modern pada usia sekitar 300.000 tahun.

Namun, jika yang kita maksud adalah peradaban manusia, ceritanya jauh lebih muda.

Sekitar 12.000 tahun lalu, manusia mulai mengembangkan pertanian, domestikasi tumbuhan dan hewan, serta permukiman yang semakin menetap. Dari proses panjang itu kemudian lahir desa, kota, negara, kerajaan, dan bentuk-bentuk peradaban kompleks lainnya.

Artinya, manusia telah hidup sebagai Homo sapiens selama ratusan ribu tahun, tetapi sebagian besar sejarahnya berlangsung tanpa kota, negara, industri, pasar global, bahkan tanpa pertanian menetap.

Lalu sesuatu berubah. Dalam ukuran sejarah bumi, perubahan itu berlangsung sangat cepat.

Manusia yang semula hanya salah satu penghuni bumi perlahan menjadi spesies yang mampu mengubah bentang alam, mengatur aliran sungai, mengubah komposisi atmosfer, memindahkan spesies, mengeksploitasi dasar laut, dan mengubah siklus material dalam skala planet.

Di situlah paradoks besar zaman kita bermula. Manusia mungkin adalah spesies yang sangat berhasil.

Revolusi di Kepala

Keberhasilan itu tidak semata-mata berasal dari kekuatan fisik.

Manusia bukan hewan terbesar, bukan yang tercepat, bukan yang memiliki taring paling tajam atau cakar paling kuat. Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan kognitif dan sosial: bahasa, simbol, imajinasi, pembelajaran kumulatif, serta kemampuan bekerja sama dalam kelompok besar.

Dalam apa yang sering disebut sebagai revolusi kognitif, manusia mengembangkan kemampuan untuk membangun realitas bersama melalui simbol dan cerita.

Kita dapat mempercayai sesuatu yang tidak memiliki bentuk fisik. Sebuah negara tidak memiliki tubuh biologis. Uang hanyalah benda atau angka. Perusahaan bukan organisme. Hukum tidak tumbuh dari tanah.

Namun jutaan manusia dapat mengorganisasi hidupnya berdasarkan semua itu.

Kemampuan untuk membayangkan sesuatu secara kolektif kemudian memungkinkan manusia menciptakan organisasi yang jauh lebih besar daripada kelompok kekerabatan: desa, kerajaan, negara, institusi keagamaan, korporasi, hingga jaringan ekonomi global.

Inilah salah satu rahasia keberhasilan manusia. Tetapi kemampuan yang sama juga membawa konsekuensi yang tidak pernah dirancang sebelumnya.

Manusia tidak lagi sekadar beradaptasi terhadap dunia. Ia mulai mengubah dunia agar sesuai dengan dirinya.

Penghuni Ke Pengubah Bumi

Sekitar 12.000 tahun lalu, revolusi pertanian mengubah hubungan manusia dengan alam secara mendasar. Manusia mulai menetap, membudidayakan tanaman, menjinakkan hewan dan mengubah lanskap untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Tetapi penting untuk tidak membayangkan bahwa sebelum pertanian manusia hidup sepenuhnya tanpa memengaruhi alam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manusia telah mengubah ekosistem jauh sebelum munculnya masyarakat agraris.

Yang berubah kemudian adalah skala, intensitas dan kecepatannya.

Hutan dibuka. Padang rumput diubah menjadi lahan produksi. Hewan didomestikasi. Sungai mulai diarahkan. Tanah semakin intensif digunakan. Perubahan lokal perlahan menjadi perubahan regional.

Kemudian datang revolusi industri.

Bahan bakar fosil memberikan manusia akses terhadap energi dalam jumlah yang sebelumnya tidak pernah tersedia. Batubara, minyak dan gas memungkinkan produksi, transportasi dan konsumsi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia.

Dan kemudian datang abad ke-20.

Sekitar 1950, berbagai indikator aktivitas manusia mengalami lonjakan yang sangat tajam. Populasi dunia, penggunaan energi, produksi industri, penggunaan pupuk, pembangunan bendungan, konsumsi material, emisi gas rumah kaca dan berbagai bentuk tekanan terhadap ekosistem meningkat secara eksponensial.

Para ilmuwan menyebut fenomena ini Great Acceleration—percepatan Besar. Di sinilah angka-angka sejarah menjadi hampir tidak masuk akal.

Homo sapiens membutuhkan sekitar 300.000 tahun untuk mencapai dunia yang kita kenal sekarang. Pertanian menetap membutuhkan sekitar 12.000 tahun untuk berkembang dan membentuk fondasi peradaban.

Tetapi hanya sekitar 75 tahun sejak 1950, manusia meningkatkan skala produksi dan konsumsi sedemikian cepat sehingga dampaknya mulai terbaca pada sistem bumi.

Diperkirakan, konsumsi energi manusia sejak 1950 telah mencapai sekitar 22 zettajoule, lebih besar daripada estimasi sekitar 14,6 zettajoule yang digunakan manusia sepanjang Holosen sebelumnya.

Angka itu sulit dibayangkan.Tetapi maknanya sederhana: peradaban manusia tidak sekadar tumbuh. Ia mengalami percepatan.

Antroposen: Zaman Manusia?

Dari sinilah istilah Antroposen menjadi menarik.

Secara harfiah, Antroposen berarti “zaman manusia”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika aktivitas manusia telah menjadi kekuatan yang sangat besar dalam mengubah sistem bumi; iklim, biosfer, bentang alam, siklus material dan ekosistem.

Namun ada satu catatan ilmiah yang penting. Antroposen belum merupakan epoch geologi resmi.

Pada 2024, International Union of Geological Sciences (IUGS) mengukuhkan keputusan untuk tidak menyetujui proposal menjadikan Antroposen sebagai epoch baru dalam Skala Waktu Geologi.

Tetapi penolakan terhadap status formal tersebut tidak berarti dampak manusia terhadap bumi diperdebatkan keberadaannya.

Sebaliknya, bukti perubahan itu semakin kuat.

Jejak radionuklida dari pengujian nuklir, peningkatan konsentrasi gas rumah kaca, perubahan penggunaan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan siklus nitrogen dan fosfor, serta lonjakan produksi material menunjukkan bahwa aktivitas manusia telah mencapai skala yang sangat berbeda dibandingkan sebagian besar sejarah sebelumnya.

Karena itu, perdebatan ilmiahnya bukan lagi sesederhana pertanyaan apakah manusia mengubah bumi.

Pertanyaannya adalah: seberapa jauh manusia telah mengubah kondisi bumi yang selama ribuan tahun memungkinkan peradaban berkembang?

Ironi Penakluk

Di sinilah ironi terbesar Antroposen muncul. Manusia merasa sedang menaklukkan alam. Padahal yang sebenarnya dilakukan adalah mengubah sistem yang menopang kehidupannya sendiri.

Hutan menjadi kayu dan lahan. Sungai menjadi sumber air, listrik dan saluran pembuangan. Tanah menjadi aset. Gunung menjadi mineral. Laut menjadi sumber ikan, energi dan ruang ekonomi. Bahkan kehidupan perlahan diterjemahkan ke dalam bahasa komoditas. Kita menyebutnya sumber daya alam.

Istilah itu tampak sederhana. Namun di baliknya terdapat sebuah cara pandang yang sangat dalam: alam dilihat terutama berdasarkan manfaatnya bagi manusia.

Masalahnya, ekosistem tidak bekerja seperti perusahaan. Hutan tidak memiliki laporan tahunan. Sungai tidak memiliki rapat pemegang saham. Tanah tidak memiliki departemen keuangan. Namun semuanya memiliki batas.

Kita dapat memberi harga pada sebatang pohon, tetapi harga itu tidak pernah sepenuhnya menggambarkan fungsi ekologis sebuah hutan.

Kita dapat menjual air, tetapi tidak dapat menggantikan seluruh jaringan kehidupan yang bergantung pada sebuah sungai.

Kita dapat menghitung produksi pertanian, tetapi tidak mudah menghitung hilangnya kesuburan tanah, keanekaragaman hayati dan pengetahuan ekologis yang menyertainya.

Di sinilah kesombongan Antroposen menemukan batasnya.

Manusia mengira sedang menaklukkan alam, padahal sedang mengubah kondisi yang memungkinkan dirinya sendiri untuk hidup.

Bumi Membalas

Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menyebut bencana sebagai “kemarahan alam”.

Bumi tidak sedang marah.

Gempa bumi tidak terjadi karena manusia berdosa. Gunung api tidak meletus karena bumi ingin menghukum manusia.

Bencana bekerja melalui proses fisik yang memiliki hukum sendiri.

Tetapi manusia menentukan seberapa besar risiko berubah menjadi tragedi.

Permukiman dibangun di wilayah rawan. Hutan ditebang di daerah tangkapan air. Sungai dipersempit. Lahan basah dikeringkan. Masyarakat miskin didorong ke wilayah yang paling rentan. Infrastruktur dibangun tanpa mempertimbangkan daya dukung ekologis.

Karena itu, bencana ekologis tidak hanya merupakan persoalan alam. Ia juga merupakan persoalan politik, ekonomi, tata ruang, hukum dan keadilan.

Pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa sebuah bencana terjadi. Tetapi juga: siapa yang paling rentan, siapa yang memperoleh keuntungan dari pembangunan, dan siapa yang membayar harga kerusakannya?

Antroposen adalah Krisis Keadilan

Di titik ini, pembicaraan tentang Antroposen harus keluar dari laboratorium dan masuk ke ruang sosial.

Tidak semua manusia memberikan tekanan yang sama terhadap bumi. Tidak semua manusia menikmati keuntungan yang sama dari ekonomi ekstraktif. Dan tidak semua manusia menanggung risiko yang sama ketika sistem ekologis mengalami kerusakan.

Mereka yang paling sedikit memiliki sumber daya sering kali justru hidup paling dekat dengan risiko.

Karena itu, krisis ekologis juga merupakan krisis distribusi. Ia mempertanyakan kembali cara kita memahami pembangunan.

Apa yang disebut kemajuan? Siapa yang menentukan? Siapa yang mendapat manfaat? Dan siapa yang harus kehilangan tanah, hutan, air atau ruang hidup agar kemajuan itu berlangsung?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Antroposen bukan hanya istilah geologi atau ekologi. Ia menjadi persoalan etika peradaban.

Revolusi Kognitif Kedua

Mungkin manusia membutuhkan sesuatu yang menyerupai revolusi kognitif kedua.

Revolusi pertama mengajarkan manusia bagaimana membayangkan dunia yang belum ada. Revolusi kedua harus mengajarkan manusia bagaimana membayangkan dunia yang tidak semata-mata berpusat pada manusia.

Kita membutuhkan cerita baru. Tanah bukan hanya aset. Hutan bukan hanya komoditas. Air bukan hanya input produksi. Sungai bukan hanya saluran. Dan alam bukan sekadar latar belakang bagi kemajuan manusia.

Dalam berbagai pengetahuan lokal, gagasan semacam ini sesungguhnya bukan hal baru. Banyak masyarakat memiliki cara pandang yang menempatkan manusia dalam hubungan dengan tanah, hutan, air, leluhur dan generasi yang akan datang.

Tentu, kita tidak perlu meromantisasi masa lalu. Tidak semua praktik tradisional otomatis ekologis dan tidak semua masyarakat hidup tanpa konflik dengan alam.

Tetapi ada satu pelajaran yang layak didengarkan kembali: manusia bukan satu-satunya pemilik kehidupan.

Mungkin yang perlu kita lakukan bukan kembali ke masa lalu. Melainkan mengingat kembali sesuatu yang pernah kita ketahui. Bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem. Bahwa ekonomi harus memiliki batas ekologis. Bahwa teknologi harus memperkuat kehidupan, bukan hanya mempercepat ekstraksi. Dan bahwa hukum seharusnya tidak hanya mengatur siapa yang berhak mengambil dari alam, tetapi juga siapa yang bertanggung jawab menjaganya.

Penakluk yang Kalah

Pada akhirnya, Antroposen menyimpan ironi yang sangat dalam.

Kita adalah spesies yang secara biologis masih sangat muda. Sekitar 300.000 tahun sebagai Homo sapiens. Sekitar 12.000 tahun sejak berkembangnya pertanian dan kehidupan menetap.

Beberapa ribu tahun sejak munculnya kota dan negara. Sekitar 250 tahun sejak revolusi industri. Dan hanya sekitar 75 tahun sejak Percepatan Besar mengubah skala hubungan manusia dengan sistem bumi.

Dalam rentang yang sangat singkat itu, manusia menghasilkan perubahan yang begitu besar sehingga para ilmuwan harus memperdebatkan apakah jejak kita sudah layak dibaca dalam skala waktu geologi.

Kita begitu berhasil sehingga keberhasilan itu sendiri menjadi ancaman. Kita begitu kuat sehingga harus belajar tentang batas. Kita begitu pintar sehingga mungkin harus belajar kembali tentang kerendahan hati.

Bumi tidak membutuhkan manusia untuk menjadi penyelamatnya. Manusialah yang membutuhkan bumi untuk tetap menjadi rumahnya.

Maka pertanyaan terbesar Antroposen mungkin bukan bagaimana manusia menyelamatkan planet. Pertanyaannya jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih sulit: Apakah manusia masih mampu belajar menjadi penghuni bumi, setelah terlalu lama membayangkan dirinya sebagai penakluknya?

Sebab mungkin kekalahan terbesar sang penakluk bukan ketika ia kehilangan wilayah yang ditaklukkannya. Melainkan ketika ia akhirnya menyadari bahwa wilayah itu sejak awal bukan miliknya