IAEA Siap Awasi Pengenceran Uranium Usai Kesepakatan AS-Iran

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional, Rafael Grossi. Foto: Elisabeth Mandl/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional, Rafael Grossi. Foto: Elisabeth Mandl/REUTERS

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan siap mulai menyusun langkah-langkah teknis untuk menjalankan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang diteken pada Rabu (17/6).

Kesepakatan tersebut ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebagai bagian dari upaya mengakhiri perang di Timur Tengah.

Dalam perjanjian itu, Iran sepakat mengencerkan cadangan uranium yang telah diperkaya sebagai imbalan atas keringanan ekonomi dalam skala besar.

"Kini giliran kami untuk duduk bersama rekan-rekan Amerika dan Iran, lalu mulai merumuskan langkah-langkah konkret yang harus dilakukan," kata Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi kepada wartawan di Jenewa, Kamis (18/6), dilansir AFP.

Menurut dokumen kesepakatan yang dipublikasikan pejabat AS, Iran akan mengencerkan stok uranium yang diperkaya, termasuk kemungkinan melalui proses down-blending di dalam negeri di bawah pengawasan IAEA.

Cuplikan layar menunjukkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian memegang memorandum yang ditandatangani dengan Presiden AS Donald Trump, di Teheran, Iran, Kamis (18/6/2026). Foto: Pool via WANA/Reuters TV

Grossi mengatakan proses tersebut sangat rumit dan membutuhkan pengawasan yang rinci.

"Ini adalah operasi yang sangat kompleks dan bukan sesuatu yang dirahasiakan. Karena itu kami harus bekerja dengan sangat, sangat detail," ujarnya.

Ia menegaskan IAEA merupakan lembaga yang tepat untuk mengawasi implementasi kesepakatan tersebut.

"Fakta bahwa peran penting IAEA diakui dalam nota kesepahaman yang telah ditandatangani ini menunjukkan kredibilitas kami dan peran yang tak tergantikan yang harus kami jalankan," kata Grossi.

Citra satelit menunjukkan tampilan lebih dekat Fasilitas Nuklir Natanz, dekat Natanz, Iran, 1 Maret 2026. Foto: Vantor/Handout via REUTERS

Meski demikian, kesepakatan yang baru diteken itu masih bersifat sementara.

Perjanjian tersebut dimaksudkan untuk membuka jalan bagi negosiasi yang lebih rinci mengenai pengawasan jangka panjang terhadap program nuklir Iran, yang selama bertahun-tahun dicurigai Washington memiliki potensi untuk pengembangan senjata nuklir.

"Saya pikir bagus bahwa nota kesepahaman ini sudah ada," kata Grossi.

"Sekarang pekerjaan teknisnya dimulai," tegasnya.