Ijazah Itu Bukti Pernah Sekolah Bukan Bisa Bekerja

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Teman anak saya saat kuliah S1, lulus cum laude, IPK-nya 3,80. Kuliah rajin dan wisuda tepat waktu. Saat itu, orang tuanya menangis bangga. Tapi 6 bulan setelah wisuda, teman anak saya cerita tentang pekerjaannya yang susah saya lupakan, "Gelar saya Om, tidak ada di job description. Bingung, kok kuliah nggak nyambung sama pekerjaan"
Kok bisa nggak nyambung? Dia belajar 4 tahun di kampus. Banyak tepri sedikit praktik. Hafal rumus, lulus ujian semua mata kuliah. Skripsi kelar dan jadi sarjana. Tapi waktu masuk dunia kerja, yang ditanya bukan IPK-nya. Tapi yang ditanya: Bisa software apa? Punya portofolio apa? Sudah punya pengalaman belum? Ijazah dan IPK cuma buat seleksi administrasi doang. Tidak ada tuh di dunia kerja yang tanya IPK berapa?
Kalau mau jujur, itulah hal tidak pernah diajarkan di kampus. Dunia kerja itu tidak menghargai apa yang kita tahu. Paham teori segudang juga nggak ada gunanya. Sebab dunia kerja hanya menghargai apa yang bisa kita kerjakan, apa yang mampu diselesaikan? Kita tahu dan kitab isa mengerjakan, dua hal yang kelihatannya sama. Tapi sangat berbeda. Orang yang bisa menyelesaikan masalah nyata tidak selalu yang nilainya paling bagus di kelas. Orang yang bisa kerja, belum tentu orang yang paham teorinya. Begitulah nyatanya.
Bukan pendidikannya yang salah. Tapi masalahnya kita terlalu lama percaya satu narasi: "Kuliah yang rajin, sekolah yang benar biar nanti mudah dapat kerja." Tidak ada yang bilang: “Ijazah itu cuma tiket masuk, bukan jaminan skill yang dicari”. Kita lupa, dunia kerja dan bisnis itu berubah lebih cepat dari kurikulum. Skill dan networking itujauh lebih penting dari sekadar nilai IPK atau sudah pernah lulus kuliah.
Dan akhirnya, teman anak saya itu sekarang kerja di bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusannya. Dan dia baik-baik saja. Gaji punya dan bisa buat hidup sendiri dulu. Tapi dia bilang satu hal ke saya: "Gini ya Om, harusnya waktu kuliah ada yang bilangin bahwa pendidikan itu penting. Tapi belajar caranya hidup dan membangun skill itu jauh lebih penting." Pesan yang menohok dari seorang anak muda.
Memang benar sih. Kita bisa punya pendidikan tinggu, tekun sekolah. Tapi kalau tidak tahu cara belajar dari realita yang ada, kita akan selalu merasa tertinggal. Belajar itu bukan hanya teori tapi praktik untuk membangun skill. Biar sadar, dunia kerja nggak butuh IPK. Tapi mereka butuh orang yang bisa kerja dan berkontribusi selesaikan masalah. Di kantor mana pun, di industri apapun.
Hari gini, jangan terlalu bangga dengan ijazah atau IPK. Karena ijazah dan IPK itu hanya bukti bahwa kita pernah sekolah. Bukan bukti bahwa kita bisa bekerja?
