IKAPI Ajak Penulis Wahyudi Pratama Ngaji Literasi di IBF Road To Pesantren
Tulisan dari Dimas Rahmat Naufal Wardhana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang menarik dalam program IBF Road to Pesantren 2026, ketika semangat Islamic Book Fair 2026 mulai dibawa lebih dekat ke lingkungan pesantren dengan mengajak penulis Wahyudi Pratama untuk membawa buku lebih dekat.
Menjelang Islamic Book Fair 2026, buku justru memilih berjalan, untuk menjadikan ruang tumbuh serta sebuah pameran buku tidak menunggu pembacanya datang.
IKAPI DKI Jakarta menghadirkan IBF Road to Pesantren sebagai rangkaian yang mempertemukan buku, penulis, dan pembaca di lingkungan pondok pesantren. Islamic Book Fair 2026 direncanakan pada 9–13 Desember 2026 di JICC Senayan, Jakarta.
Rangkaian literasi ini bukan hanya tentang memajang buku di rak, tetapi tentang menciptakan kesempatan bagi santri dan santriwati untuk bertemu dengan dunia literasi secara lebih dekat.
Bayangkan sebuah pesantren yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar, mengaji, dan kegiatan bersama. Di tengah rutinitas tersebut, hadir pameran buku dengan berbagai pilihan bacaan. Ada buku Islam, Al-Qur'an, pendidikan, parenting, buku anak, motivasi, pengembangan diri, sejarah, fiksi, hingga buku umum dan produk edukasi.
Buku-buku itu tidak hanya menjadi benda yang dipajang. Ada kesempatan untuk membuka halaman pertama, menemukan cerita yang terasa dekat, kemudian membawa pulang gagasan baru. Konsep pameran yang bergerak dari pesantren ke pesantren inilah yang membuat IBF Road to Pesantren terasa seperti perjalanan literasi.
Dalam perjalanan tersebut, IKAPI DKI Jakarta menggandeng Buka Buku Festival (BBF) sebagai kolaborator pameran. Kolaborasi ini mencakup pengelolaan area pameran, penataan buku, operasional kegiatan, publikasi, materi promosi, hingga aktivitas selama pameran berlangsung.
IKAPI DKI Jakarta berperan sebagai penggagas dan penyelenggara, sedangkan BBF membantu memastikan kegiatan dapat berjalan di lapangan.
Namun, cerita IBF Road to Pesantren tidak berhenti pada pameran. Ada satu kegiatan yang menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut, yaitu ngaji literasi.
Namanya terdengar sederhana. Namun, konsepnya justru menarik karena literasi dipertemukan dengan suasana pesantren. Para santri tidak hanya diajak membaca, tetapi juga dapat berdiskusi mengenai buku, bertemu penulis, mengikuti bedah buku, serta berbagi pengalaman mengenai kepenulisan.
Di sinilah muncul sosok Wahyudi Pratama, atau yang akrab disapa Gus Yudi. Penulis yang dikenal melalui karya-karya fiksinya tersebut menjadi salah satu wajah baru dalam persiapan literasi IBF Road to Pesantren 2026.
Karya-karyanya yang dekat dengan kehidupan dan dinamika generasi muda membuat kehadirannya terasa relevan dengan pembaca muda di lingkungan pesantren.
Tidak hanya datang sebagai penulis yang berbicara tentang bukunya. Melalui Ngaji Literasi, ia membuka ruang percakapan mengenai proses kreatif, pengalaman menulis, buku, dan bagaimana literasi dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup anak muda.
Ada sesuatu yang penting dari pertemuan seperti ini. Seorang penulis yang selama ini hanya dikenal melalui sampul buku tiba-tiba hadir di depan pembacanya. Santri dapat bertanya, bercerita, bahkan melihat bahwa menjadi penulis bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.
Gerakan Ngaji Literasi dan kelas penulisan berupaya mempertemukan dunia literasi dengan lingkungan pendidikan dan pesantren. Dalam rangkaian IBF Road to Pesantren 2026, pendekatan tersebut dikembangkan melalui diskusi buku, temu penulis, bedah buku, sharing kepenulisan, serta sesi interaktif.
IBF Road to Pesantren juga mendapat dukungan dari Direktorat Pesantren, Kementerian Agama Republik Indonesia, untuk memperkuat ekosistem literasi dan perbukuan di lingkungan pesantren.
Semangatnya kemudian mengarah pada satu tujuan yang lebih besar. sebelum Islamic Book Fair 2026 direncanakan bulan Desember di JICC Senayan, Jakarta nanti akan berfokus ngaji literasi serta kelas penulisan kepada santri di pesantren.
Sebelum sampai ke sana, IBF Road to Pesantren menjadi semacam perjalanan kecil yang dimulai dari lingkungan pesantren, dari satu buku yang dibuka, satu cerita yang dibagikan, dan satu percakapan antara penulis dengan pembaca.
Pada akhirnya, literasi tidak selalu membutuhkan ruang yang besar. Kadang, ia cukup dimulai dari sebuah buku yang berpindah tangan dan seorang pembaca yang penasaran membuka halaman pertamanya.
Dari pesantren ke pesantren, IBF Road to Pesantren 2026 membawa semangat bahwa buku seharusnya semakin dekat dengan pembacanya.
Kehadiran Wahyudi Pratama dan Ngaji Literasi pun memberikan warna baru yakni membaca bukan hanya tentang memahami tulisan, tetapi juga tentang menemukan pengalaman, bertanya, berdiskusi, dan mungkin menemukan keberanian untuk menulis cerita sendiri.
IBF Road to Pesantren juga membawa konsep pameran buku yang bergerak dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Hal ini sangat menarik, karena banyak bacaan untuk para santri sehingga bisa memaksimalkan pengembangan diri untuk terus belajar mencari pengetahuan.
Konsep ini membuat perjalanan menuju Islamic Book Fair 2026 terasa seperti sebuah cerita yang dimulai jauh sebelum pintu pameran dibuka.
Ada buku yang berpindah tangan, ada penulis yang bertemu pembaca, dan ada santri yang mungkin menemukan bacaan yang kelak mengubah cara memandang dunia.
Pada akhirnya, IBF Road to Pesantren 2026 bukan hanya tentang membawa pameran buku ke pesantren. Program ini seperti membuka pintu kecil menuju kebiasaan membaca, berdiskusi, dan menulis. Dari pesantren ke pesantren, literasi bergerak menemui pembacanya.

