Konten dari Pengguna

Indonesia Kaya Akan Bencana: Mari Kita Memahaminya

Prasetiawan

Prasetiawan

Pegiat Alam - Alumni Geografi Universitas Indonesia

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Prasetiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Permukiman warga di sekitar Bukit Panisan, Sentul, Bogor. Lanskap ini mengingatkan kita bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam dan berbagai potensi risikonya.Dokumentasi pribadi, 2025.
zoom-in-whitePerbesar
Permukiman warga di sekitar Bukit Panisan, Sentul, Bogor. Lanskap ini mengingatkan kita bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam dan berbagai potensi risikonya.Dokumentasi pribadi, 2025.

“Nothing in life is to be feared, it is only to be understood. Now is the time to understand more, so that we may fear less.”

atau dalam bahasa Indonesianya:

“Dalam hidup, tidak ada yang perlu ditakuti, yang ada hanya perlu dipahami. Sekarang adalah waktunya untuk memahami lebih banyak, agar kita dapat mengurangi ketakutan.”

Kutipan Marie Curie, ilmuwan dengan dua penghargaan Nobel, ini saya dengar ketika sedang mengikuti acara pengukuhan dua dosen pembimbing saya sebagai Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia pada Januari 2025 lalu. Pada saat itu, kutipan tersebut disampaikan pada awal pidato ilmiah salah satu Guru Besar yang dikukuhkan.

Pada Sabtu malam (29/8), saya sengaja membuka kembali pidato pengukuhan Guru Besar tersebut. Entah mengapa, kutipan itu kembali terlintas di pikiran saya ketika melihat beberapa minggu terakhir negeri kita tercinta dilanda berbagai musibah dan bencana yang cukup memprihatinkan.

Pada 15 Agustus lalu, di Nusa Tenggara Timur, gempa bumi berkekuatan 7,7 mengguncang Pulau Flores. Kemudian, di Pulau Kalimantan terjadi kebakaran hutan dan lahan, begitu juga di Papua dan Sulawesi dengan bencana yang sama. Lalu, pada Sabtu (22/8), Desa Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, salah satu desa wisata yang menjadi daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara, hangus terbakar dan rata dengan tanah.

Peta guncangan gempa bumi M7,7 di sekitar Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, 15 Agustus 2026. Sumber: BMKG.

Rangkaian kejadian tersebut membuat saya kembali berpikir tentang pentingnya kita mengenal dan memahami lingkungan serta potensi bencana di tempat kita tinggal.

Sudah menjadi pemahaman kita bersama bahwa negeri kita tercinta ini terletak di atas empat lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina, serta dilalui oleh dua sirkum pegunungan vulkanik aktif, yaitu Sirkum Mediterania dan Sirkum Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire).

Indonesia berada pada pertemuan empat lempeng tektonik yang membentuk tatanan geologi yang kompleks.Sumber: Badan Geologi, Kementerian ESDM; Hall (2002).

Tidak berhenti sampai di situ. Dari sisi klimatologi, Indonesia mempunyai iklim tropis dengan dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Dari sisi iklim ini, Indonesia kerap kali dilanda banjir ketika intensitas curah hujannya tinggi dan sering dilanda kebakaran ketika suhu udara tinggi.

Sejalan dengan itu, kutipan Marie Curie tadi terasa relevan. Dalam hidup, tidak ada yang perlu ditakuti, yang ada hanya perlu dipahami.

Pada tulisan ini, saya ingin membawa kita pada suatu renungan mendalam terkait fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini. Bukan untuk mencari siapa yang salah, apalagi menyalahkan pihak tertentu, tetapi untuk mengajak kita melihat kembali bagaimana hubungan kita dengan lingkungan tempat kita tinggal.

Bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan sebagainya merupakan fenomena alam yang berada di luar kendali manusia. Dalam artian, bencana tersebut terjadi karena proses alam maupun kuasa Yang Ilahi. Namun, hal yang dapat kita lakukan adalah memahami keberadaan area yang rentan dan rawan sehingga kita bisa lebih siap dan mewaspadainya.

Sebagai contoh, kita dapat memahami wilayah yang berada di sekitar patahan aktif dan memiliki potensi gempa, maupun wilayah yang berada di zona gunung api aktif atau jalur aliran lava. Dengan memahami karakteristik wilayah tersebut, kita dapat menentukan bagaimana seharusnya kita tinggal dan beraktivitas di dalamnya.

Pada tulisan ini, yang ingin saya tekankan adalah kesadaran kita akan bencana hidrometeorologi. Selain memahaminya, kita juga punya peran penting dalam melakukan manajemen risiko atau mengurangi potensi terjadinya bencana tersebut.

Bencana banjir, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, dan bencana hidrometeorologi lainnya memiliki keterkaitan yang erat dengan kondisi lingkungan dan aktivitas manusia. Risiko bencana tersebut dapat kita kurangi melalui pengelolaan lingkungan yang baik.

Bencana banjir, misalnya, selain disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi, juga berkaitan dengan kemampuan daya dukung wilayah dalam menyerap dan mengalirkan air hujan. Berkurangnya vegetasi di area hulu dapat mengurangi kemampuan wilayah dalam menyerap air hujan yang turun.

Alih fungsi lahan di daerah hulu berpotensi mempercepat proses terbentuknya aliran permukaan (runoff) yang kemudian mengalir menuju anak-anak sungai dan sungai utama. Berkurangnya vegetasi juga dapat meningkatkan erosi tanah karena tidak adanya vegetasi yang cukup untuk mengikat lapisan tanah. Tanah yang tererosi kemudian mengalir bersama air menuju sungai.

Material lumpur dan tanah tersebut dapat mempercepat proses pendangkalan sungai akibat terjadinya pengendapan di alur sungai. Ketika kapasitas sungai berkurang dan debit air meningkat, air dapat meluap dan menyebabkan banjir yang berdampak pada permukiman warga serta menghambat aktivitas manusia dari berbagai sektor, seperti ekonomi, transportasi, pendidikan, dan banyak faktor lainnya.

Oleh karena itu, sebagai insan yang dalam kehidupan ini saling bergantung dengan alam, mari kita sama-sama menjaganya.

Mari kita normalisasikan, tumbuhan berhak tumbuh tinggi dan rindang, sungai tetap dalam dan berkelok, serta makhluk hidup seperti burung dan makhluk lainnya punya tempat untuk melanjutkan hidup dan kehidupan.