Inovasi SEMBADA Mahasiswa KKN-T IPB: Dorong Modernisasi Semai Padi Berbasis Tray

Saya seorang mahasiswi semester 4 di IPB University Departemen Ilmu Ekonomi Syariah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Khansa Syahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Gongseng, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang dikenal sebagai kawasan lumbung padi dengan para petani yang mulai aktif mengadopsi mekanisasi pertanian modern, salah satunya mesin penanam bibit rice transplanter. Namun, efisiensi mekanisasi tersebut kerap terkendala oleh kesiapan bibit di lapangan. Mayoritas petani lokal masih mengandalkan teknik semai basah konvensional di petak sawah yang rentan mengalami kerusakan akar saat dicabut secara manual dan tidak kompatibel dengan mekanisme mesin.
Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi IPB University meluncurkan program SEMBADA (Semai Benih Padi Mandiri) bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Gongseng. Program ini memperkenalkan teknik penyemaian kering berbasis tray (baki semai berlubang) khusus untuk varietas unggul IPB 9G yang mulai dilaksanakan proses penyemaian pada tanggal 9 Juli 2026 dan melakukan praktik proses penanaman di lahan Gapoktan Garurejo pada tanggal 11 Agustus 2026.
Melalui program SEMBADA, para petani diajak mempraktikkan rantai budidaya bibit yang presisi dan aplikatif:
Seleksi Mutu Benih Bernas: Menggunakan metode uji apung larutan garam berkonsentrasi 3% dengan kalibrasi sederhana menggunakan telur mentah untuk memisahkan gabah hampa.
Formulasi Media Tanam Porous: Mengombinasikan lapisan tanah atas (topsoil) terayak, pupuk kompos, dan sekam bakar dengan rasio massa 2:1:1 guna memastikan aerasi perakaran yang gembur tanpa ketergantungan pupuk kimia berlebih.
Penyemaian Tray Sistem Karpet: Menerapkan penaburan terstandar (200 gram gabah kering per baki) beralaskan koran lembap yang ditutup terpal selama masa awal perkecambahan (1–3 HSS) hingga membentuk jalinan perakaran karpet elastis yang siap tanam pada usia 16–18 HSS.
Kehadiran inovasi ini mendapat sambutan hangat dan respon positif dari kelompok tani setempat. Ketua Kelompok Tani Dusun Garu Rejo, Desa Gongseng, Abah Cholis, mengungkapkan apresiasi besarnya terhadap transfer ilmu yang dibawa oleh para mahasiswa.
"Kami sangat antusias adik-adik mahasiswa mengenalkan metode semai tray dan varietas unggul IPB ini di desa kami. Harapan saya, para petani yang sebelumnya ragu atau enggan menggarap lahan gogo kini mulai termotivasi untuk kembali menanam padi," ungkap Abah Cholis.
Metode semai tray kering ini terbukti memangkas kebutuhan lahan semai hingga 50% dibanding metode sawah terbuka, sekaligus meniadakan risiko stres tanaman (transplanting shock) karena perakaran bibit tetap utuh saat dipindahkan ke mesin penanam. Selain demonstrasi langsung, tim mahasiswa turut mendistribusikan buklet panduan teknis agar standar budidaya mandiri ini dapat diaplikasikan secara berkelanjutan oleh para petani pada musim tanam berikutnya.
Langkah kolaboratif ini menjadi bukti nyata kontribusi generasi muda dalam mendukung ketahanan pangan nasional, mendorong petani lokal bertransformasi dari sekadar pengguna teknologi menjadi produsen bibit unggul yang mandiri.
