IPB University Gandeng Warga Ciberes Olah Briket Sekam

Mahasiswa IPB University yang kesehariannya seputar teknologi pangan, buku, film, dan hal baru.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sarah Nur Intan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama puluhan tahun, penanganan sekam padi di perdesaan tak pernah beranjak dari cara lama, yakni dibakar begitu saja secara terbuka (open burning). Kebiasaan ini melepaskan emisi asap pekat yang mengganggu pernapasan warga serta membuang-buang potensi energi terbarukan yang tersimpan di dalamnya.
Pengenalan cara pandang tersebut dihadirkan melalui program "Sekar" (Sekam Jadi Bakar) pada Jumat (31/7/2026) sore di pelataran salah satu rumah warga RT 27 Sukajaya, Dusun Cibanggala, Desa Ciberes. Hawa gerah tak menyurutkan langkah 33 warga, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga, untuk mengikuti program yang diinisiasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University.
Canda Riang di Sela Serbuk Arang
Kegiatan diawali dengan pengenalan briket dan potensi sekam untuk menjadi briket. Peserta diperkenalkan dengan alat dan bahan yang dibutuhkan serta cara membuat briket dari sekam. Tahapan pembuatannya terbilang bersahaja dan mudah ditiru. Sekam dibakar terbatas hingga menjadi arang, dihaluskan, lalu dicampur perekat larutan tepung kanji. Setelah adonan kalis, bahan dicetak dan dikeringkan di bawah sinar matahari.
Sosialisasi ini bukan sekadar penyampaian teori, melainkan praktik langsung yang melibatkan seluruh peserta. Anak-anak yang hadir sangat antusias seolah hendak bermain. Jemari para peserta menghitam, berlepotan serbuk arang sekam yang bercampur adonan perekat tepung kanji yang lengket. Namun, di selang-seling canda dan tawa riang, tangan-tangan tersebut telaten memasukkan adonan hitam pekat ke dalam pipa cetakan silinder sederhana.
Ketika cetakan ditekan dan dilepas, keluarlah kepingan briket biomassa yang padat dan rapi. Setiap keping memiliki diameter 5 sentimeter dengan ketebalan 2 sentimeter. Selama program ini berjalan, sebanyak 5 kilogram sekam padi kering berhasil diolah menjadi 169 keping briket yang kemudian dibagikan ke masyarakat.
Memanfaatkan Limbah dengan Inovasi Sederhana
"Biasanya kalau habis panen, sekam cuma ditumpuk lalu dibakar begitu saja. Asap pekatnya bikin mata pedih dan dada sesak. Ternyata sekam ini bisa juga diolah jadi briket. Tidak terbuang sia-sia," kata Yogi Iskandar, salah satu peserta kegiatan.
Koordinator Program “Sekar”, Bela Safitri, menjelaskan bahwa inovasi ini dirancang agar mudah diterapkan masyarakat tanpa modal besar. Setiap warga dibekali leaflet ringkas yang memuat takaran dan langkah pembuatan mandiri. Secara teknis, pembakaran briket arang sekam jauh lebih efisien dan menghasilkan emisi asap yang jauh lebih rendah dibandingkan pembakaran dengan bahan bakar konvensional.
"Tujuan utamanya adalah memanfaatkan sekam yang berlimpah saat musim panen sekaligus menciptakan sumber energi alternatif. Emisi asap yang dihasilkan dari briket diprediksi lebih rendah dibandingkan dari kayu bakar," ujar Bela.
Potensi Usaha Berbasis Komunitas
Pengolahan limbah pertanian ini berpotensi dikembangkan menjadi unit usaha desa berbasis komunitas, baik melalui perkumpulan ibu-ibu PKK maupun kelompok tani lokal. Dukungan pengadaan alat cetak yang lebih masif dan integrasi dengan BUMDes menjadi kunci agar inovasi ini berkembang dari sekadar edukasi menjadi usaha produktif yang berkelanjutan. Limbah pertanian Ciberes yang dulunya dipandang sebelah mata kini berpeluang menjadi penopang kemandirian energi dan ekonomi warga desa.
