Konten dari Pengguna

Islam ala Buya Hamka

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nur Khafi Udin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Buya Haka/Sumber:editing pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Buya Haka/Sumber:editing pribadi

Makna Islam

Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt. Buya Hamka dalam buku berjudul “Pandangan Hidup Muslim” menjelaskan, Islam harus menjadi pandangan hidup bagi setiap individu atau kelompok. Hamka menerangkan bahwa pandangan hidup merupakan konsep yang digunakan untuk memahami dan menerangkan berbagai persoalan kehidupan. Oleh sebab itu, pandangan hidup seorang muslim harus berlandaskan Al-Qur’an dan Sunah. Hal ini dapat terwujud jika seorang muslim memiliki semangat Tauhid atau mengesakan Allah dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah.

Hamka ingin mengatakan bahwa konsep Tauhid ini bukan hanya teoretis namun memiliki konsekuensi dalam perilaku seorang muslim. Oleh karena itu Tauhid harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah. Kesadaran ini harus mendorong manusia untuk berlaku baik dan menjalani kehidupan dengan benar.

Islam dan Penguasa

Beberapa waktu lalu heboh di media sosial karena judul buku “Islam ala Prabowo”. Buku ini cukup menggelitik bukan karena Prabowo Subianto sebagai Presiden, namun karena frasa “ala Prabowo” dalam judul buku ini dapat menjadikan Islam sebagai politik identitas bagi penguasa. Dari sini muncul tanda tanya, apakah Islam sedang menjadi ukuran untuk menilai penguasa?

Pertanyaan ini menjadi penting karena Islam bukan milik Presiden, kelompok, atau organisasi. Islam memiliki ukuran moral di atas kepentingan politik. Seorang penguasa boleh dinilai menggunakan nilai-nilai Islam namun Islam tidak patut didefinisikan berdasarkan citra seorang penguasa karena keyakinan pribadi seseorang tidak dapat dinilai berdasarkan buku.

Di sini pandangan Hamka dalam buku berjudul “Keadilan Sosial dalam Islam” menjadi relevan yaitu Islam wajib hadir dalam kehidupan politik namun politik harus tunduk pada moralitas Islam. Pandangan ini menjadi penting karena Islam sebagai moral politik akan melahirkan keadilan, kesejahteraan, dan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Namun Islam yang hanya menjadi atribut politik bagi penguasa akan melahirkan keadilan dan kesejahteraan prematur yang tidak berpihak kepada rakyat.

Tasawuf Kekuasaan

Ilustrasi Penguasa/Sumber: Edit foto pribadi

Hamka bukan ulama yang jauh dari kehidupan politik. Ia pernah terlibat dalam gelanggang politik nasional. Oleh sebab itu pemikiran Hamka terkait agama, negara, demokrasi, dan kekuasaan bukan suatu perenungan yang steril dari realitas politik.

Dalam melihat kekuasaan hari ini saya sepakat dengan Buya Hamka. Kehidupan politik di Indonesia dewasa ini perlu mengamalkan Tasawuf Kekuasaan yaitu kekuasaan harus satu gendang satu tarian dengan pengendalian diri.

Seperti Hamka Tasawuf bukan ajakan untuk melarikan diri dari dunia namun membangun hubungan yang selaras antara spiritual dan kehidupan nyata. Penguasa yang tidak mampu mengendalikan amarah, keserakahan, dan ambisi boleh jadi belum selesai memahami persoalan dasar dalam kekuasaan yaitu nafsu. Tanpa pengendalian diri yang baik kekuasaan akan menjadi keserakahan.

Ingat! Hari ini Islam tidak butuh Presiden sebagai “wajah Islam” namun Islam hari ini butuh Islam butuh Penguasa yang menjadikan Islam sebagai pedoman hidup dalam menjalankan kekuasaan. Jangan sampai Islam hanya menjadi atribut penguasa sehingga agama kehilangan kemampuan untuk mengoreksi penguasa.