Israel Gelar Pemilu 27 Oktober, Koalisi Netanyahu Terancam Tumbang

Israel akan menggelar pemilihan umum pada 27 Oktober 2026, menandai pemilu nasional pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza dan meluas ke Lebanon hingga Iran.
Dikutip dari Reuters, kepastian jadwal tersebut disampaikan Ketua Koalisi Pemerintah, Ofir Katz, kepada komite parlemen pada Minggu (12/7). Ia memastikan pemungutan suara tetap berlangsung sesuai jadwal yang diatur dalam undang-undang.
Sebelumnya, muncul spekulasi pemilu akan digelar lebih cepat setelah parlemen Israel atau Knesset memutuskan membubarkan diri pada Mei lalu.
Saat itu, sejumlah pengamat memperkirakan pemilu bisa dimajukan ke September. Namun, koalisi pemerintah akhirnya mempertahankan jadwal 27 Oktober.
Pemilu mendatang dipandang sebagai ujian politik terbesar bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Survei-survei terbaru menunjukkan koalisi sayap kanan yang dipimpinnya berpotensi kehilangan mayoritas kursi di parlemen, meski hingga kini kubu oposisi belum memiliki peta koalisi yang cukup kuat untuk membentuk pemerintahan baru.
Tekanan terhadap Netanyahu meningkat sejak serangan Hamas pada Oktober 2023 yang menewaskan ratusan warga Israel dan memicu perang berkepanjangan di Gaza. Konflik kemudian meluas dengan bentrokan di perbatasan Lebanon serta perang singkat antara Israel dan Iran.
Meski pemerintah Israel mengeklaim melemahkan sejumlah kelompok bersenjata dan menghadapi Iran secara langsung, jajak pendapat menunjukkan banyak warga masih menilai Netanyahu gagal mencegah serangan Hamas dan tidak puas terhadap penanganan konflik yang berkepanjangan.
Selain isu keamanan, pemerintahan Netanyahu juga menghadapi gejolak politik internal. Perbedaan sikap terkait wajib militer bagi komunitas Yahudi ultra-Ortodoks menjadi salah satu pemicu retaknya koalisi pemerintahan hingga mendorong proses pembubaran parlemen beberapa waktu lalu.
