Jangan Dikit-dikit Bilang Cuma Teori Tanpa Mau Praktikkan

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Upgrade diri bukan tentang menjadi orang lain, tetapi menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Sebab dunia terus berubah, ilmu terus berkembang, dan kebutuhan zaman semakin tinggi. Kalau kita berhenti belajar, cepat atau lambat kita akan tertinggal.
Jangan menunggu keadaan memaksa kita berubah. Belajar, tambah skill, perbaiki cara berpikir, perluas wawasan, dan terus beradaptasi. Karena investasi terbaik bukan hanya pada harta, tetapi pada kemampuan diri. Maka, jangan takut tertinggal karena belum sukses. Takutlah kalau kita berhenti bertumbuh. Takutlah bila tidak mau upgrade diri.
Gimana cara untuk upgrade diri? Tentu, upgrade diri bisa dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya melalui 9 cara upgrade diri yang patut direnungkan:
1. Modelling behavior (tiru orang hebat). Amati kebiasaan orang-orang yang sudah ada di posisi yang kita inginkan. Tiru pola pikir dan rutinitasnya. Psikolog Albert Bandura, lewat risetnya soal social learning theory, menunjukkan bahwa manusia belajar paling efektif adalah lewat observasi dan modeling meniru orang yang sudah sukses.
2. Compound effect (punya mindset berlipat). Fokus ke peningkatan 1% tiap hari, makin lama hasilnya bakal makin berlipat ganda. Riset dari psikolog BJ Fogg di Stanford soal tiny habits menunjukkan, perubahan kecil yang diulang konsisten itu berdampak eksponensial dalam jangka panjang jauh lebih kuat dibanding motivasi yang meledak-ledak tapi cuma bertahan seminggu.
3. Deep work (bangun pagi, fokus kerja). Manfaatkan waktu pagi pas otak masih segar untuk deep work tanpa gangguan. Profesor Cal Newport dari Georgetown University, lewat risetnya soal deep work, menemukan kalau 2 jam pertama setelah bangun itu waktu paling produktif untuk mengerjakan tugas yang butuh konsentrasi tinggi — sebelum otak kebanjiran distraksi dari notifikasi dan obrolan ringan.
4. Prinsip pareto (pakai aturan 80/20). Fokus ke 20% usaha yang bisa menghasikan 80% dampak terbesar. Ekonom Vilfredo Pareto, menunjukkan sebagian kecil aktivitas memberi sebagian besar hasil jadi daripada mengejakan semua hal, lebih baik identifikasi mana yang prioritas dan berdampak besar.
5. Action bias (eksekusi dalam 48 jam). Setiap ada ide atau rencana, langsung eksekusi dalam waktu maksimal 48 jam biar tidak cuma jadi wacana, cuma omongan. Psikolog Mel Robbins, lewat risetnya soal action bias, menemukan jarak antara ide dan eksekusi itu berbanding lurus, semakin ditunda semakin gagal dan makin besar kemungkinan otak cari alasannya.
6. Retorika (asah cara bicara). Kemampuan bicara yang oke bakal membuka banyak peluang baru. Profesor Chris Anderson, lewat pengalamannya melatih ribuan pembicara, menunjukkan kalau public speaking itu skill yang bisa dilatih dan menjadi salah satu skill yang paling dihargai di dunia profesional.
7. Cognitive reframing (benahi pola pikir). Tidak usah baperan, langsung ubah mindset begitu ada masalah biar cepat mencari solusinya. Psikolog Carol Dweck dari Stanford, lewat risetnya soal growth mindset, menunjukkan orang yang cepat menggeser perspektif dari "kenapa ini terjadi ke saya" jadi "apa yang bisa saya pelajari dari sini", jadi lebih resilien dan cepat bangkit dari kegagalan.
8. Teknik feynman (rajin bagi ilmu). Sering-sering menulis, sharing ilmu atau mengajarkan orang lain agar ilmu semakin menempel di otak kita. Edgar Dale, lewat risetnya soal learning pyramid, menemukan kalau kita inget 90% dari apa yang kita ajarkan ke orang lain jauh lebih tinggi dibanding cuma baca (10%) atau medengerkan (20%) semata. Jadi, cara terbaik memastikan ilmu melekat adalah dengan langsung membagikannya ke orang lain.
9. Metakognisi (rutin evaluasi diri). Sering-sering evaluasi diri tentang apa yang perlu dibereskan, diperbaiki. Filosof John Dewey, soal reflective practice, menunjukkan kalau pengalaman tanpa refleksi itu tidak punya pembelajaran. Jadi, luangkan waktu tiap minggu untuk evaluasi diri. Apa yang sudah berjalan dan apa yang perlu diperbaiki?
Dan penting diketahui, siapapun yang mau upgrade diri nggak usah peduli apa kata orang lain. Teruslah melangkah dan selalu berani memperbaiki diri. Kerjakan secara konsisten yang baik, hingga perubahannya akan terasa dalam 3-6 bulan ke depan. Upgrade diri tidak usah didramatisir, mulailah dari bisa dilakukan secara perlahan. Asal konsisten, insya Allah arah dan tujuankita menjadi lebih jelas ke depan.
Upgrade diri, mulailah dengan meniru kebiasaan orang hebat, miliki mindset yang berlipat, tetap bangun pagi fokus kerja, pakai aturan 80/20 pareto, eksekusi apapun dalam 48 jam, asah cara bicara lebih baik, rajin berbagi ilmu, cepat benahi pola pikir, dan rutin evaluasi diri.
Dan jangan pernah berpikir ini hanya teori. Tapi praktikkan sebagai jalan untuk memperbaiki diri. Salam literasi!
