Jejak Air dan Krisis Lingkungan di Balik Kecerdasan Buatan

Dosen di Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu. Saat ini sedang menempuh S3 di Program Studi Linguistik Terapan Universitas Bengkulu.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Feny Martina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika kita balik ke beberapa dekade kebelakang, pernahkah terpikirkan oleh kita keberadaan teknologi AI seperti saat ini? AI sangat mempermudah hidup manusia di zaman ini. Semakin ke sini, kita semakin terbiasa bertanya dan meminta tolong AI untuk melakukan banyak hal yang tentunya mempermudah hidup kita. Sebut saja di antaranya untuk mengedit gambar, video, membuat tulisan, mencari ide, menerjemahkan kalimat hingga menanyakan hal hal yang sulit kepada AI. Hanya dengan mengetik beberapa kalimat, jawaban pun muncul dalam hitungan detik. AI terasa begitu simpel dan praktis. Ia bagai kecerdasan yang hadir begitu saja, tanpa ruang, tanpa suara mesin dan tanpa wujud fisik. Namun, tahukah Anda AI yang sudah sangat berjasa kepada kita merupakan salah satu dalang penyebab kerusakan alam kita?
Sebelum menjawab langsung kenapa AI menjadi penyebab rusaknya alam kita, ada satu istilah yang mungkin masih awam di masyarakat kita namun harus dapat kita pahami terlebih dahulu. Istilah tersebut yaitu AI Data Center atau Pusat Data AI. Pusat Data AI memiliki peranan yang sangat besar terhadap perkembangan AI itu sendiri. Sebut saja contohnya tadi ketika jawaban AI yang muncul hanya dalam hitungan detik, ternyata itu semua berasal dari AI Data Center atau Pusat Data AI. Pasti Anda ikut bertanya-tanya, seperti apa rupanya Pusat Data AI itu?
Pusat Data AI merupakan fasilitas infrastruktur digital yang digunakan untuk mendukung jalannya teknologi AI. Pusat Data ini berwujud sebuah gedung yang dihuni oleh ribuan komputer dengan sistem kerja digital yang super canggih dan berkecepatan tinggi. Ia bekerja non-stop, tanpa henti. Di sanalah berbagai sistem digital yang menopang performa AI dalam bekerja dijalankan. Ia memproses data dengan jumlah sangat besar sehingga apa pun pertanyaan dan permintaan yang kita tujukan ke AI, permintaan tersebut tidak serta-merta melayang begitu saja di ruang digital. Terdapat mesin-mesin yang hadir secara fisik untuk menjalankannya. Ketika beroperasi, mesin mesin ini tentunya membutuhkan listrik dalam jumlah besar sehingga ia menghasilkan panas. Panas yang terjadi pada mesin mesin ini menyebabkan ia membutuhkan sistem pendingin agar mesin tersebut tetap bekerja secara optimal. Oleh karenanya, kebutuhan akan listrik, pendinginan, dan air menjadi suatu keharusan. Di sinilah letak permasalahannya kenapa AI dapat merusak lingkungan. Tentunya, permasalahan ini menjadi sangat serius ketika penggunaan AI secara signifikan melaju dengan pesat saat ini.
Berdasarkan data dari Lembaga Telekomunikasi dan Informasi Nasional (NTIA) di Amerika Serikat (USA) seperti yang dikutip dari Belfer Center for Science and International Affairs (2026), terdapat beberapa pusat data yang menjadi penopang untuk perkembangan teknologi AI. Sebut saja negara bagian Virginia, tepatnya kawasan Ashburn yang dikenal sebagai Data Center Alley, yang merupakan pusat data terbesar mengelola AWS, Microsoft, Google, Meta. Belfer Center melaporkan bahwa Virginia memiliki 398 data center yang beroperasi dan 287 yang direncanakan. Sementara, perkembangan yang sangat pesat juga terjadi di negara bagian Texas yang mengelola aktifitas Meta, Google, Microsoft, Oracle, OpenAI/Stargate. Laporan Befer Center menunjukkan bahwa Texas memiliki sekitar 296 pusat data yang beroperasi dan 170 yang direncanakan. Berikutnya, negara bagian Georgia memiliki 94 Pusat Data yang beroperasi dan 141 yang direncanakan. Aktivitas AI yang dioperasikan pada Pusat data di negara bagian ini berupa proyek hyperscale/ AI. Tiga negara bagian ini dikategorikan sebagai wilayah dengan konsumsi air terbesar untuk kepentingan operasional pusat data AI, yang kemudian diikuti oleh negara bagian California, Illinois, Georgia, Ohio dan Arizona (Seets & Radde, 2026).
Dampak expansi Pusat Data AI akhir-akhir ini menjadi viral di media sosial. Dampak yang ditimbulkan ternyata tidak hanya dari tingginya konsumsi air oleh Pusat Data AI, namun juga memunculkan persoalan kualitas air di beberapa hunian warga. Dalam salah satu unggahan video singkat dari kanal instagram @jessicayellin, tampak seorang representatif dalam sidang Kongres di USA, ALexandria Ocasio-Cortez menyampaikan persoalan air sumur warga yang mengalami perubahan warna dan tidak layak untuk dikonsumsi. Ocasio-Cortez membawa sampel air tersebut yang berasal dari salah satu sumur milik keluarga yang tinggal di sekitaran kawasan pembangunan pusat Meta di Morgan Conty, Georgia. Persoalan ini menjadi perhatian serius dalam pembahasan mengenai efek yang timbul akibat pembangunan Pusat Data AI berskala besar terhadap kesediaan dan kualitas sumber daya air masyarakat.
Konsekuensi dari pembangunan pusat data AI di Morgan County memperlihatkan bagaimana expansi Pusat Data untuk teknologi AI ini dapat berhadapan langsung dengan permasalahan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air. Persoalan yang serupa ternyata juga mulai terlihat di negara kita, Indonesia. Indonesia baru-baru ini sedang gencar membangun infrastruktur digital untuk menopang perkembangan AI. Salah satunya dibangun Indonesia Central sebagai salah satu bentuk pengembangan layanan cloud dan infrastruktur AI oleh Microsoft untuk pertama kalinya dengan investasi sebesar US$1,7 miliar untuk periode 2024 sampai 2028. Di saat yang bersamaan, salah satu kawasan penting dalam pusat data nasional di Batam telah menghadapi persoalan krisis air. Di kawasan ini, ketersediaan air bersih yang dibutuhkan melampaui kapasitas distribusi yang ada. Fakta ini tentu tidak serta merta membuktikan bahwa krisis air di Batam disebabkan oleh Pusat data. Namun, keduanya membuka mata kita untuk melihat persoalan yang sepatutnya kita pertanyakan. Apakah kebutuhan dasar masyarakat di suatu wilayah telah diperhitungkan dengan matang ketika expansi pembangunan untuk pusat pertumbuhan teknologi ini dilakukan?
Tidak dapat kita pungkiri bahwa AI memang telah memberikan kita manfaat yang luas. AI mempercepat pekerjaan, AI membantu dalam pengambilan keputusan, AI meningkatkan efisiensi, dan AI dapat memberikan gambaran terkait berbagai peluang baru dalam pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Namun, melihat kenyataan yang ada, kemajuan teknologi AI ini menjadi sebuah dilema. Dibalik manfaat yang AI berikan, tetap ada harga yang harus dibayar. Pembangunan infrastruktur AI yang membutuhkan energi, air, lahan dan berbagai sumber daya lainnya mampu menembus konsekuensi ekologis dan sosial yang dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, bahkan sekalipun oleh mereka yang tidak menggunakan teknologi tersebut secara langsung. Oleh karena itu, persoalan bukan lagi pada apakah teknologi AI ini harus dikembangkan atau malah dihentikan. Persoalan yang harus dipecahkan adalah bagaimana kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) ini tidak membebani manusia lain dan lingkungan. Jika IPTEK pada hakikatnya dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, maka ukuran keberhasilannya tidak cukup hanya dilihat dari seberapa canggih produk teknologi yang telah diciptakan, tetapi juga mempertanyakan siapa yang harus menanggungnya jika teknologi tersebut menimbulkan dampak negatif? Perusahaan teknologi itu sendiri? Pemerintahkah? atau masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi?
Pada akhirnya, pengembangan teknologi sepatutnya tidak sebatas berhasil menemukan dan menciptakan produk teknologi. Ada banyak kemungkinan-kemungkinan serta konsekuensi yang perlu di antisipasi sedari awal dengan melihat, menguji dan mengkonfirmasi terkait fakta apa yang dialami masyarakat, apakah yang diperkirakan benar terjadi atau tidak. Seperti yang dikemukakan oleh seorang tokoh filsafat ilmu modern yang terkenal di abad ke-20, Popper (1959) dalam karyanya berjudul The Logic of Scientific Discovery, bahwa pengetahuan ilmiah tidak hanya bergerak untuk menemukan hal-hal baru, tetapi juga untuk memprediksi dampaknya dan memastikan kebenarannya melalui pembuktian. Dengan demikian, pertanyaan yang lebih penting saat ini bukan lagi seberapa jauh teknologi dapat berkembang, melainkan seberapa jauh kita mampu memikirkan dan mempertanggungjawabkan dampak dari perkembangannya.
