Kak Seto: Kita Perlu Ajak Anak Kembali Cintai Permainan Tradisional

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi alias Kak Seto. Foto: Nanien Yuniar/ANTARA
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi alias Kak Seto. Foto: Nanien Yuniar/ANTARA

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau Kak Seto, mengajak seluruh pihak untuk kembali mengenalkan permainan tradisional kepada anak-anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan meningkatnya penggunaan gawai (gadget).

Menurutnya, permainan tradisional bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga berperan membentuk karakter, kemampuan sosial, hingga kesehatan fisik dan mental anak.

“Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan penggunaan gawai, kita perlu mengajak anak-anak kembali mengenal dan mencintai permainan tradisional Indonesia,” ujar Kak Seto dalam sambutannya pada Peringatan Hari Anak Nasional ke-42 Tahun 2026 di Balai Kota, Jakarta Pusat, Pada Senin (20/7).

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Kak Seto, memberikan keterangan kepada awak media usai menghadiri peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (20/7). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Kak Seto menambahkan, permainan tradisional seperti egrang, engklek, congklak, balap karung, gobak sodor, lompat tali, hingga permainan sedotan karet mengandung nilai-nilai yang penting bagi tumbuh kembang anak.

“Permainan tradisional seperti egrang, engklek, congklak, balap karung, gobak sodor, sedotan karet, lompat tali bukan sekadar permainan belaka, tapi juga di dalamnya terdapat nilai-nilai kebersamaan, sportivitas, kejujuran, kerja sama, disiplin, kreativitas dan saling menghargai,” ujar kak Seto.

Ilustrasi permainan congklak. Foto: Rianawati Soedarmono/Shutterstock

Ia menjelaskan, anak-anak membutuhkan ruang aman untuk belajar, berinteraksi, dan bermain bersama. Ia menilai bermain merupakan hak anak sekaligus proses pembelajaran yang membentuk karakter dan kecerdasan sosial.

“Bermain bukan sekadar hiburan saja, tapi merupakan hak anak yang sekaligus merupakan pembelajaran yang membentuk karakter, kecerdasan sosial serta kesehatan fisik dan mental,” tambah Kak Seto.

Selain itu, lingkungan bermain yang positif juga menjadi salah satu upaya mencegah kekerasan terhadap anak.

“Saat anak bermain bersama dengan penuh kegembiraan, mereka belajar berinteraksi, membangun empati dan menjalin persahabatan yang sehat. Lingkungan bermain yang positif juga menjadi salah satu upaya nyata mencegah kekerasan terhadap anak dan membangun karakter yang sehat,” ucap kak Seto.

Suasana RPTRA Carina Sayang, Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat (15/5/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Kak Seto juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang telah membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di berbagai wilayah Jakarta.

Keberadaan RPTRA menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk bermain, belajar, berolahraga, dan melakukan berbagai aktivitas positif.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tinggi nya untuk Pemprov DKI Jakarta yang sudah mendirikan RPTRA atau Ruang Publik Terpadu Ramah Anak yang hampir ada di setiap kelurahan di wilayah DKI Jakarta. Ruang terbuka hijau ini adalah wujud nyata pemerintah dalam memberikan sarana bagi anak-anak untuk melakukan aktivitas seperti bermain, belajar, diskusi, olahraga, dan kegiatan positif lainnya,” kata Kak Seto.