Kala Iran Tak Mau Menyerah, AS Terjebak Perang Tanpa Akhir

Doktor Studi Agama dan Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bekerja sebagai Widyaiswara Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Semarang, Kementerian Hukum
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Muh Khamdan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang Amerika Serikat–Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah memasuki fase yang jauh lebih kompleks daripada sekadar pertukaran serangan udara dan rudal. Hingga September 2026, konflik belum menghasilkan penyelesaian politik yang dapat disebut sebagai kemenangan definitif bagi Washington maupun Tehran. Justru yang muncul adalah perang atrisi. Amerika Serikat berusaha mempertahankan superioritas teknologi dan mengembalikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, sementara Iran berusaha menaikkan biaya militer, ekonomi, politik, dan psikologis yang harus ditanggung Washington.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Amerika Serikat memang berhasil menekan ekspor minyak Iran dan memperoleh sebagian kemajuan dalam membuka kembali Hormuz, tetapi perang tetap berlangsung dan belum memiliki exit strategy yang jelas. Dari perspektif strategi perang, persoalan utama Amerika Serikat bukan semata-mata apakah rudal Iran dapat dihancurkan atau apakah pangkalan Iran dapat dibom. Persoalan yang lebih fundamental adalah rasio biaya untuk menghasilkan hasil politik.
Amerika Serikat dapat memiliki keunggulan udara, satelit, intelijen, kapal induk, rudal jelajah, dan sistem pertahanan berlapis. Namun keunggulan tersebut menjadi kurang menentukan apabila lawan tidak perlu mengalahkan militer AS secara konvensional. Iran cukup mempertahankan kemampuan menyerang secara periodik, mengancam jalur energi, mengaktifkan jaringan regional, dan mempertahankan narasi bahwa Amerika Serikat tidak mampu memaksakan penyelesaian politik.
Di sinilah Iran menjalankan logika perang asimetris. Teheran tidak perlu menghancurkan armada Amerika Serikat untuk mencapai efek strategis. Cukup membuat setiap kapal perang, pangkalan udara, pusat logistik, depot amunisi, radar, dan jalur pelayaran membutuhkan perlindungan tambahan. Laporan terbaru bahkan menunjukkan Iran melakukan serangan rudal terhadap kapal perang Amerika, termasuk kapal induk, meskipun kapal-kapal AS sejauh ini dilaporkan berhasil menghindari kerusakan. Secara militer, serangan yang tidak menghancurkan sasaran tetap dapat mempunyai nilai strategis apabila memaksa lawan mengubah pola operasi dan meningkatkan konsumsi sistem pertahanan.
Strategi Iran juga memperluas medan perang dari wilayah Iran menuju arsitektur pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah. Pada Juli, Iran mengklaim menyerang instalasi yang digunakan militer AS di Bahrain, Kuwait, Yordania, Qatar, Oman, dan negara-negara lain, sementara sejumlah negara Teluk mengonfirmasi adanya intersepsi rudal dan drone Iran. Serangan terhadap pangkalan di Yordania, Bahrain, Kuwait dan kawasan Teluk menunjukkan bahwa Iran memahami kelemahan struktural postur militer AS. Kekuatan Amerika sangat besar, tetapi sebagian besar harus ditempatkan pada titik-titik geografis yang dapat dipetakan dan dipertahankan.
Teheran berusaha membingkai perang bukan sebagai agresi Iran terhadap negara-negara Teluk, melainkan sebagai konsekuensi dari penggunaan wilayah negara-negara tersebut sebagai platform militer Amerika Serikat. Apakah argumen tersebut dapat diterima secara hukum merupakan persoalan tersendiri. Akan tetapi, secara perang informasi, pesan itu mempunyai fungsi strategis. Iran berusaha memisahkan Washington dari sebagian mitranya dengan menciptakan dilema bagi negara-negara Teluk. Apakah mereka ingin menjadi bagian aktif dari perang atau hanya menjadi wilayah yang digunakan untuk mempertahankan kepentingan Amerika.
Selat Hormuz kemudian menjadi pusat gravitasi konflik. Iran tidak harus menutup selat secara permanen untuk mendapatkan efek ekonomi. Cukup menciptakan persepsi bahwa kapal tanker menghadapi risiko rudal, drone, ranjau, atau intersepsi. Laporan terbaru menunjukkan bahwa setelah serangan Amerika terhadap tanker Iran, Tehran menyerang sejumlah kapal di sekitar Hormuz dan biaya pengangkutan tanker melonjak ke tingkat rekor. Risiko keamanan yang meningkat akhirnya diterjemahkan menjadi premi asuransi, biaya angkutan, kelangkaan kapal, dan harga energi yang lebih tinggi.
Dengan demikian, Hormuz bukan sekadar medan perang maritim; ia merupakan senjata ekonomi psikologis. Sebuah rudal yang ditembakkan Iran mungkin bernilai jauh lebih kecil daripada kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh ketakutan terhadap pelayaran. Bahkan ketika kapal tidak tenggelam, persepsi risiko dapat mengubah perilaku perusahaan pelayaran. Inilah bentuk perang modern yang sering tidak terlihat dalam statistik medan tempur: kemenangan tidak selalu diukur dari jumlah kapal yang dihancurkan, melainkan dari berapa banyak kapal yang memilih tidak berlayar.
Amerika Serikat memahami persoalan tersebut sehingga berusaha mengembalikan kebebasan navigasi melalui kekuatan laut dan operasi pembersihan ranjau. Namun operasi semacam itu sendiri memperlihatkan biaya dari strategi tersebut. Laporan mengenai operasi rahasia Amerika untuk membersihkan ranjau di Hormuz menggambarkan betapa kompleksnya upaya membuka kembali jalur pelayaran ketika ancaman bukan hanya rudal dan drone, tetapi juga ranjau laut serta ketidakpastian informasi. Bahkan ketika secara teknis jalur dinyatakan aman, perusahaan pelayaran tetap dapat memilih menunda perjalanan karena persepsi ancaman.
Dalam konteks ini, klaim bahwa Iran “kehabisan kemampuan” hanya karena mengalami kerusakan akibat serangan Amerika harus dibaca dengan hati-hati. Negara tidak harus mempertahankan seluruh sistem militernya untuk tetap mampu berperang. Selama Iran masih dapat mempertahankan sejumlah rudal balistik, drone, sistem komando, jaringan bawah tanah, kemampuan produksi, serta jaringan regional, Tehran masih memiliki instrumen deterrence by punishment. Sebaliknya, Amerika Serikat menghadapi persoalan yang berbeda: mempertahankan perang berkepanjangan berarti mempertahankan tingkat kesiagaan, rotasi personel, kapal perang, pesawat, sistem pertahanan udara, rudal pencegat, dan logistik dalam lingkungan yang sangat luas.
Inilah yang disebut dalam analisis strategis sebagai masalah endurance. Amerika Serikat memiliki kapasitas militer jauh lebih besar daripada Iran, tetapi perang berkepanjangan mengubah pertanyaan dari “siapa lebih kuat?” menjadi “siapa lebih mampu mempertahankan biaya perang tanpa kehilangan tujuan politik?” Laporan mengenai persiapan Washington untuk keterlibatan yang berkepanjangan menunjukkan bahwa keberadaan dua kelompok tempur kapal induk dan pengerahan pasukan dalam jangka panjang mulai menekan kesiapan personel, logistik, serta kemampuan Amerika mempertahankan kehadiran militernya di kawasan lain, termasuk Indo-Pasifik.
Dari sudut pandang geopolitik, hal tersebut mempunyai konsekuensi yang sangat besar. Setiap kapal induk yang terus berada di Timur Tengah adalah kapal induk yang tidak sepenuhnya tersedia untuk menghadapi kontinjensi lain. Setiap batalion pertahanan udara yang dipertahankan di Teluk merupakan sumber daya yang tidak tersedia di teater lain. Setiap rudal pencegat yang ditembakkan untuk melindungi pangkalan AS memiliki biaya produksi dan penggantian. Karena itu, perang Iran secara tidak langsung dapat memengaruhi postur global Amerika Serikat, bukan hanya postur Timur Tengah.
Pada saat bersamaan, Iran berusaha memperluas konflik melalui aktor-aktor regional yang mempunyai kemampuan berbeda. Perkembangan terbaru mengenai Houthi di Yaman menunjukkan bagaimana perang dapat berkembang menjadi kompetisi atas dua titik sempit perdagangan dunia, yaitu Hormuz dan Bab el-Mandeb. Laporan AP menyebut kemajuan Houthi di sekitar Mayun/Perim dan kawasan Laut Merah meningkatkan kekhawatiran atas keamanan jalur perdagangan global, sementara serangan terhadap infrastruktur dan pelayaran Saudi semakin memperbesar tekanan terhadap pasar energi.
Strategi ini memberikan Iran apa yang dapat disebut sebagai strategic dispersion. Washington harus memikirkan Iran, Irak, Suriah, Yordania, Bahrain, Qatar, Kuwait, Saudi Arabia, Hormuz, Laut Merah, dan kemungkinan konsekuensi terhadap Israel secara bersamaan. Tehran tidak harus menang di semua medan. Ia hanya perlu memastikan bahwa Amerika Serikat tidak dapat berkonsentrasi pada satu sasaran strategis. Semakin luas medan konflik, semakin mahal kebutuhan Amerika untuk mempertahankan superioritas di setiap titik.
Dimensi yang paling menentukan justru mungkin berada di luar medan tempur, yaitu politik domestik Amerika Serikat. Presiden Donald Trump sendiri pada September menyatakan tidak menyesal memulai perang meskipun mengakui persoalan dampaknya terhadap pemilu sela. Ia bahkan mengatakan perang mungkin berakhir setelah pemilu. Pada saat yang sama, kenaikan harga energi akibat konflik telah menjadi persoalan politik bagi Partai Republik. Ini menunjukkan bahwa perang telah memasuki kalkulasi elektoral domestik Amerika, sehingga setiap tambahan eskalasi memiliki konsekuensi politik yang lebih besar bagi Gedung Putih.
Karena itu, perang informasi menjadi sama pentingnya dengan perang kinetik. Washington membutuhkan narasi bahwa Iran sedang dilemahkan dan bahwa tekanan militer menghasilkan konsesi. Tehran membutuhkan narasi yang berlawanan: bahwa Amerika Serikat memiliki kekuatan besar tetapi tidak mampu memaksakan kemenangan. Setiap video rudal Iran, setiap pernyataan pejabat Amerika, setiap gambar kapal induk, setiap ledakan di pangkalan, bahkan setiap perubahan harga minyak menjadi bagian dari battle for perception. Pihak yang berhasil mendefinisikan makna perang akan mempunyai keunggulan politik bahkan sebelum perang berakhir.
Menariknya, Iran tampaknya memahami bahwa perang laut secara penuh justru dapat memberikan keuntungan naratif kepada Amerika Serikat. Karena itu, ketika Washington menyerang tanker Iran, Tehran dapat memilih untuk tidak menjadikan perang kapal-ke-kapal sebagai satu-satunya arena utama. Iran justru mengombinasikan tekanan maritim dengan serangan darat terhadap aset militer AS, ancaman terhadap pangkalan, rudal balistik, drone, jaringan proxy, diplomasi regional, dan tekanan psikologis. Serangan Amerika terhadap tiga tanker Iran pada September setelah kapal perang AS menjadi sasaran rudal memperlihatkan bagaimana eskalasi maritim dapat menciptakan spiral pembalasan yang semakin sulit dikendalikan.
Perang Iran–Amerika Serikat semakin menyerupai perang ketahanan strategis daripada perang untuk merebut wilayah. Amerika Serikat masih mempunyai superioritas militer konvensional yang sangat besar dan telah memperoleh sejumlah keuntungan operasional, tetapi Iran menunjukkan bahwa superioritas tersebut tidak otomatis menghasilkan kemenangan politik. Sebaliknya, Iran masih menghadapi tekanan ekonomi dan militer yang berat, tetapi mampu mengubah perang menjadi persoalan biaya, waktu, energi, logistik, diplomasi, persepsi, dan politik domestik Amerika. Inilah bahaya terbesar bagi Washington. bukan semata-mata kalah dalam pertempuran, melainkan menang secara taktis tetapi kehilangan kemampuan untuk mendefinisikan kapan dan bagaimana perang berakhir.
Selama Iran masih mampu mempertahankan kapasitas serangan dan Amerika Serikat belum memiliki formula penyelesaian politik yang dapat diterima kedua pihak, perang akan terus menjadi permainan attrition, dan dalam permainan semacam itu, pihak yang paling kuat belum tentu pihak yang paling cepat memperoleh kemenangan. Fakta bahwa sampai September perang tetap berlangsung, sementara diplomasi dan upaya gencatan senjata berulang kali gagal menghasilkan penyelesaian final, memperlihatkan bahwa persoalan utama konflik ini bukan lagi bagaimana memenangkan perang, melainkan bagaimana keluar dari perang tanpa kehilangan kredibilitas strategis.
