Konten dari Pengguna

Kalau Jodoh Bisa Di-Match, Mengapa ASN Tidak?

Hana Faristi

Hana Faristi

ASN ATR/BPN di Provinsi Aceh

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hana Faristi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika algoritma mampu menjodohkan dua hati, mungkinkah teknologi juga membantu mempertemukan dua ASN yang bisa bertukar tempat?

Dok. Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Ilustrasi AI

Pernahkah kita menyadari betapa canggihnya teknologi hari ini? Hanya dengan beberapa sentuhan di layar, seseorang dapat menemukan pasangan yang mungkin berada ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya. Algoritma membaca berbagai kecocokan, lalu mempertemukan dua orang yang sebelumnya sama sekali tidak saling mengenal. Ironisnya, ketika teknologi mampu membantu manusia menemukan pasangan hidup, banyak aparatur sipil negara justru masih kesulitan menemukan jalan untuk kembali mendekat kepada keluarganya.

Bagi sebagian orang, penempatan ASN mungkin hanya terlihat sebagai titik-titik pada peta Indonesia. Namun bagi mereka yang menjalaninya, penempatan adalah cerita tentang jarak, rindu, dan pilihan yang tidak selalu mudah. Ada koper yang tak pernah benar-benar dibongkar karena sewaktu-waktu harus berpindah. Ada tiket pesawat antarpulau yang harus dibeli berulang kali. Ada pasangan yang menjalani pernikahan jarak jauh, anak yang tumbuh lebih banyak melalui panggilan video, hingga orang tua yang menua di kampung halaman tanpa bisa selalu didampingi ketika membutuhkan.

Bagi ASN wanita persoalan tersebut memiliki lapisan yang lebih kompleks. Di satu sisi, ada sumpah dan tanggung jawab untuk mengabdi kepada negara. Di sisi lain, ada peran sebagai anak, istri, atau ibu yang juga membutuhkan kehadiran. Ketika orang tua sakit, ketika anak membutuhkan pendampingan, atau ketika pasangan sedang menghadapi masa sulit, jarak bukan lagi sekadar persoalan geografis. Jarak berubah menjadi beban emosional yang harus dibawa setiap hari ke tempat kerja.

Namun, menariknya, persoalan ini sering kali bukan karena tidak ada solusi. Bisa jadi, solusinya justru berada di tempat lain dan sedang menghadapi persoalan yang sama. Bayangkan seorang ASN di suatu daerah yang ingin kembali ke kampung halaman untuk mendampingi orang tuanya. Pada saat yang sama, di daerah lain terdapat ASN dengan jabatan, kompetensi, dan jenjang yang setara yang justru ingin pindah mendekati pasangan atau keluarganya di daerah tempat ASN pertama bertugas. Keduanya ada. Keduanya memiliki kebutuhan yang berlawanan. Sayangnya, mereka tidak pernah tahu bahwa satu sama lain mungkin merupakan jawaban.

Di sinilah saya membayangkan sebuah gagasan sederhana: sistem matching untuk mobilitas ASN.

Bukan aplikasi yang memungkinkan ASN berpindah sesuka hati, apalagi mekanisme untuk mengakali aturan mutasi. Sistem ini justru berfungsi sebagai jembatan informasi yang mempertemukan kebutuhan pegawai dengan kebutuhan organisasi. Algoritma dapat membaca variabel seperti jenjang jabatan, kompetensi, rumpun keilmuan, kelas jabatan, lokasi penempatan, serta kebutuhan dan ketersediaan pegawai pada masing-masing instansi.

Ketika sistem menemukan dua ASN yang memiliki kecocokan dan kepentingan perpindahan yang saling berlawanan, sistem dapat memberikan notifikasi kepada instansi atau pejabat yang berwenang. Setelah itu, seluruh proses tetap dilakukan melalui mekanisme resmi sesuai peraturan yang berlaku. Dengan kata lain, teknologi tidak mengambil keputusan. Teknologi hanya membantu menunjukkan bahwa ada sebuah kemungkinan yang sebelumnya tidak terlihat.

Pendekatan ini berpotensi memberikan manfaat bagi kedua sisi. Bagi organisasi, perpindahan tidak selalu berarti kehilangan pegawai karena posisi yang ditinggalkan dapat diisi oleh pegawai lain dengan kualifikasi yang sesuai. Beban kerja dan kebutuhan organisasi tetap menjadi pertimbangan utama. Bagi ASN, tersedia jalur yang lebih transparan untuk menemukan peluang mobilitas tanpa harus mengandalkan relasi informal, informasi dari mulut ke mulut, atau keberuntungan bertemu dengan orang yang memiliki kebutuhan perpindahan yang sama.

Gagasan ini juga sejalan dengan semangat transformasi digital

dalam birokrasi. Selama ini, digitalisasi sering kita bayangkan dalam bentuk pelayanan publik yang lebih cepat dan administrasi yang lebih sederhana. Padahal, teknologi juga dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan internal birokrasi, termasuk persoalan mobilitas sumber daya manusia.

Sudah saatnya kita melihat ASN bukan hanya sebagai angka dalam formasi, tetapi juga sebagai manusia yang menggerakkan organisasi. Di balik setiap seragam dinas, ada seorang anak yang mungkin ingin merawat orang tuanya, seorang pasangan yang ingin mendampingi keluarganya, atau seorang ibu dan ayah yang ingin menyaksikan tumbuh kembang anaknya secara langsung.

ASN memang mengabdi kepada negara. Namun menjadi ASN tidak berarti berhenti menjadi manusia. Ketika seorang ASN dapat bekerja dengan hati yang lebih tenang karena memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarganya, bukankah negara juga mendapatkan manfaat? Pegawai yang merasa lebih utuh dalam kehidupannya berpeluang menghadirkan energi, fokus, dan pelayanan yang lebih baik bagi masyarakat.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara pandang terhadap mobilitas ASN. Mutasi tidak semata-mata harus dilihat sebagai perpindahan pegawai dari satu tempat ke tempat lain, tetapi sebagai proses mempertemukan kebutuhan organisasi dengan kebutuhan manusia di dalamnya. Jika algoritma mampu mempertemukan dua orang yang bahkan belum pernah saling mengenal untuk membangun sebuah keluarga, mungkin sudah waktunya kita memanfaatkan teknologi untuk membantu ASN menemukan jalan pulang kepada keluarganya.

Negara membutuhkan ASN yang profesional, dan ASN yang bahagia akan bekerja dengan hati yang lebih tenang dan kinerja yang lebih optimal. Karena ketika negara memberi ruang bagi ASN untuk tetap dekat dengan keluarganya, sesungguhnya negara sedang menjaga kualitas pengabdiannya.