Kalau Monyet Bisa Ngomong: Seni Menjadi ASN

Penulis Esai, sehari-sehari bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pemerintah Kota Tegal.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ASN itu mirip monyet.
Ini tidak bermaksud mengajak ribut tentang Teori Darwin. Bukan karena keduanya suka pisang. Melainkan berdasar mitos dari Afrika Utara. Konon, monyet sejatinya pandai berbicara. Mereka sengaja menyembunyikan kecerdasannya karena takut dieksploitasi manusia. Bagi monyet diam adalah kunci untuk tetap bebas.
Mitos yang saya tahu dari Shadows of Forgotten Ancestors karya Carl Sagan dan Ann Druyan ini terasa relevan dengan kehidupan birokrasi. Setidaknya merujuk keluhan ASN yang kerap di-posting di medsos. Sebagai ASN, saya kerap mendengar curhat serupa di lingkungan kerja. Dalam birokrasi yang hierarkis, banyak bicara bisa dianggap melawan. Kelewat banyak menunjukkan kemampuan juga dianggap offside. Ketika tugas cepat selesai, cepat pula tugas berikutnya datang.
Itulah paradoks yang terjadi dalam birokrasi. Dalam pengalaman saya bekerja di birokrasi, saya sering melihat ASN tipe all-rounder atau Palugada, "apa elu butuh gua ada". Mahir mengoperasikan komputer, bikin presentasi, merancang sambutan, memimpin apel, membuat nota dinas, konten Instagram, dan seterusnya sampai membantu pekerjaan di luar tugas pokok. Karena sudah terbukti, akhirnya banyak urusan dilempar kepadanya.
Bukankah kemampuan selayaknya dihargai, bukan dibalas dengan tambahan beban? Kasus-kasus seperti ini menunjukkan kompetensi terasa seperti hukuman. Tanpa sadar, organisasi dengan situasi demikian mengajarkan satu hal: jangan kelihatan andal.
Bekerja di lingkungan birokrasi tertentu, pasif dan minim kontribusi mungkin terasa lebih aman daripada berinisiatif. Monyet memilih diam untuk mencari kebebasan, sementara ASN menurunkan standar dirinya. Hal ini merupakan mekanisme pertahanan diri, respons yang mungkin ditempuh oleh sebagian ASN.
Lalu, apakah ASN harus terus memilih seni bertahan seperti monyet?
Tak mudah memang bekerja, apalagi memimpin organisasi yang berani mengambil risiko. Sedikit mengambil inspirasi dari Baek Kang-hyuk, dokter humanis dalam Trauma Code: Heroes on Call. Ketika dokter fellow, Yang Jae-won atau si No.1 masih ragu menunjukkan komitmennya, Tidak hanya menyuruhnya bekerja keras, Baek mendorongnya untuk berani mengambil tanggung jawab.
Dalam sebuah episode, Yang Jae Won berada di ruang kerja Baek. Bukan sertifikat penghargaan yang terpajang di sana. Melainkan foto-foto pasien yang berhasil diselamatkannya saat-saat kritis. Banyak menyelamatkan orang adalah alasan utama seorang dokter.
Adegan dalam serial drama Korea ini membuat saya terhubung dengan Start With Why karya Simon Sinek. Birokrasi sibuk menjelaskan apa yang harus dikerjakan ASN dan bagaimana caranya. Namun, tampaknya lupa menjelaskan mengapa pekerjaan itu penting. Ketika seorang ASN tahu bahwa di balik berkas, antrean, laporan, dan disposisi ada manusia yang membutuhkan pelayanan, diam menjadi pilihan yang tak layak dipertahankan.
ASN yang memilih diam belum tentu kehilangan kemampuan. Bisa jadi mereka kehilangan keberanian untuk menunjukkannya. Nah, itulah sebabnya ASN perlu menemukan kembali "why" dalam dirinya sebagai petugas negara. Keberanian ini semestinya lahir dari kesadaran bahwa tugasnya berdampak positif bagi publik, bukan sekadar keinginan untuk terlihat hebat.
Ketika kepentingan publik membutuhkan suaranya, ASN perlu perlu tahu mengapa harus bersuara. Bukan karena ingin mendapat tepuk tangan atau berniat melawan atasan. Tetapi, memang karena ada kepentingan publik dipertaruhkan di balik pekerjaan ASN, baik yang bekerja administratif di belakang meja ataupun yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
Status ASN bukan sekadar pekerja. Ia adalah abdi negara. Kita dapat menemukan inspirasi tersebut dalam buku Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan karya Suhartono. Meskipun sedang menjabat Kapolri, Hoegeng ketahuan sedang mengatur lalu lintas. Didit, anaknya, malu karena hal itu menjadi bahan perbincangan teman-temannya. Hoegeng yang marah kepada Didit menegaskan satu alasan, saat itu ada kemacetan dan masyarakat butuh petugas untuk mengaturnya.
Dengan jabatan setinggi itu, Hoegeng masih mau turun tangan. Mungkin bukan langkah besar, tetapi bukankah kemajuan dimulai dari satu langkah kecil? Dari kesehariannya, kita belajar bahwa pengabdian tidak selalu butuh tindakan heroik. Kadang, ia hanya butuh kesediaan melakukan apa yang memang dibutuhkan masyarakat.
Di era medsos ini, menjadi ASN bukan jalan menjadi orang yang terlihat hebat. Status pekerjaan ini tak mudah memperoleh validasi dengan rating tinggi. Tetapi satu hal, ASN bukanlah pilihan profesi tanpa makna.
ASN memiliki kemampuan memberi makna pada pekerjaan, sekalipun pekerjaan itu terlihat begitu sederhana. Melayani satu warga, menyelesaikan satu masalah, atau menyampaikan satu gagasan mungkin terlihat kecil.
Sewaktu menjadi pekerja sosial di Dinas Sosial, saya pernah bertugas membantu disabilitas mengakses bantuan. Momentum melihat seorang disabilitas menangis dan berterima kasih bisa menjadi alasan bersemangat berangkat kerja esoknya. Bayangkan, andai saya bisa menemukan alasan-alasan kecil tapi bermakna setiap hari.
Bekerja sebagai ASN bukanlah suatu keterampilan untuk diam atau nihil inisiatif demi bertahan. Melainkan sebuah seni untuk menumbuhkan keberanian dan menunjukkan kemampuan. Apa pun yang sedang dan akan dikerjakannya, sudah semestinya tahu "mengapa" itu dilakukan.
Jika diberi ruang oleh kebijakan yang menghargai inisiatif dan melindungi para ASN, maka ASN tak perlu merasa sedang dilakban mulutnya. Tidak ragu untuk berkontribusi penuh. Sistem birokrasi di Indonesia harus mampu mendorong agar ASN menemukan makna pekerjaannya.
Jadi, kalau monyet bisa ngomong, mungkin mereka akan protes, “ASN bukanlah monyet." Indonesia tidak kekurangan ASN hebat. Kita cuma terlalu mahir membuat mereka memilih diam.
