Kapal Kargo Diserang di Selat Hormuz, PBB Setop Sementara Operasi Pengawalan

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer
zoom-in-whitePerbesar
Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Organisasi Maritim Internasional (IMO) menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz setelah sebuah kapal kargo melaporkan menjadi sasaran serangan di dekat perairan Oman, Kamis (26/6).

Insiden tersebut memunculkan kembali kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di jalur pelayaran paling strategis di dunia, meski sebelumnya telah tercapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kargo terkena proyektil saat berlayar di dekat Oman. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa jam setelah Iran memperingatkan kapal-kapal asing agar tidak melintas di luar jalur yang telah ditetapkan Teheran.

Dua pejabat Amerika Serikat kepada Reuters mengatakan proyektil tersebut ditembakkan oleh Iran. Namun hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS maupun Iran terkait tuduhan tersebut.

Empat sumber yang mengetahui insiden itu mengidentifikasi kapal yang diserang sebagai Ever Lovely, kapal berbendera Singapura. Sementara seorang sumber keamanan mengatakan kapal tersebut kemungkinan menjadi sasaran serangan pesawat nirawak (drone).

Menyusul insiden tersebut, IMO memutuskan menghentikan sementara program pengawalan kapal yang baru diluncurkan beberapa hari lalu.

"Pelaksanaan program kami hentikan sementara untuk memastikan seluruh jaminan keselamatan bagi kapal-kapal dalam daftar evakuasi maupun kapal lain di kawasan tersebut tetap terpenuhi," kata Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez dikutip dari Reuters, Jumat (26/6).

IMO menjelaskan kapal Ever Lovely tidak termasuk dalam program evakuasi yang mereka fasilitasi.

Kapal MV Ever Core dalam direct call (pelayaran langsung) untuk rute Batam-China. Foto: Dok. TPK Batu Ampar, Batam

Program Evakuasi Baru Berjalan Dua Hari

Program evakuasi IMO mulai dijalankan pada Selasa (24/6) sebagai langkah membantu ratusan kapal dan ribuan awak yang sempat terjebak di Teluk Persia selama konflik berlangsung.

Skema tersebut bersifat sukarela, dengan menyediakan dua jalur pelayaran menuju luar Teluk, yakni melalui perairan Iran dan perairan Oman, di bawah pemantauan internasional.

Namun, laporan serangan terhadap Ever Lovely membuat operasi tersebut dihentikan sementara hingga situasi keamanan kembali dipastikan kondusif.

Perahu-perahu di Selat Hormuz di Selat Hormuz di tengah konflik AS-Israel dengan Iran seperti terlihat dari Musandam, Oman, Senin (2/3/2026). Foto: Amr Alfiky/REUTERS

Iran Perketat Aturan di Selat Hormuz

Iran menegaskan hanya kapal yang menggunakan jalur pelayaran yang telah ditentukan pemerintah Iran yang akan mendapat jaminan keamanan.

Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan kapal yang berlayar di luar rute resmi tidak akan dijamin keselamatannya.

Garda Revolusi Iran juga menegaskan akan mengambil tindakan terhadap kapal yang tidak mematuhi ketentuan tersebut.

Perusahaan keamanan maritim Ambrey melaporkan dua kapal berbendera Panama sempat diperintahkan mengubah haluan oleh Garda Revolusi Iran pada Kamis.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintasi perairan tersebut setiap hari.

Harga Minyak Naik Lagi

Laporan serangan terhadap kapal di Oman langsung memengaruhi pasar energi global. Harga minyak mentah acuan dunia naik sekitar 1,9 persen karena pelaku pasar kembali mengkhawatirkan gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk.

Padahal sebelumnya Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai kembali normal dan volume pengiriman minyak hampir menyamai kondisi sebelum konflik pecah.

Menurut Wright, dalam 24 jam terakhir sedikitnya 20 juta barel minyak telah melintasi Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio selama pertemuan dengan para menteri luar negeri negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk di The Ritz-Carlton Bahrain untuk membahas kesepakatan sementara antara AS dan Iran dengan sekutunya, Kamis (25/6/2026). Foto: Eric Lee/REUTERS

Ketegangan Masih Membayangi Gencatan Senjata

Meski AS dan Iran telah menyepakati kerangka awal penghentian konflik, sejumlah persoalan penting masih belum terselesaikan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa Washington akan mengambil langkah jika Iran kembali mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

"Jika Iran mengancam atau memblokir kapal di selat tersebut, maka kita akan menghadapi persoalan baru," ujarnya.

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf membantah pernyataan AS yang menyebut aset Iran yang dibebaskan akan digunakan untuk membeli produk pertanian Amerika.

Kedua negara dijadwalkan melanjutkan perundingan dalam 60 hari ke depan untuk membahas sejumlah isu yang masih menjadi ganjalan, termasuk program nuklir Iran, mekanisme inspeksi internasional, status Selat Hormuz, serta konflik yang masih berlangsung di Lebanon.