Karhutla Gunung Ciremai Kuningan: Api Mulai Terkendali, Petugas Lakukan Mop Up

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Hingga Rabu (9/9), api dipastikan sudah terkendali usai membumihanguskan perkiraan area seluas 40 hektare.
Peristiwa ini pertama kali terdeteksi pada Senin (7/9) pukul 12.05 WIB di Blok Simaung dan Tegal Bodas, kawasan SPTN Wilayah I Kuningan. Kepulan asap awal terpantau oleh warga sekitar dan tim Patroli Udara Tanpa Awak (PUTA).
Ratusan personel gabungan dari TNGC, Kepolisian, TNI, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA) Silihwangi Majakuning, hingga relawan langsung diterjunkan ke lokasi untuk memadamkan api yang melalap kawasan semak belukar pada ketinggian lebih dari 500 mdpl tersebut.
"Prinsipnya sih alhamdulillah sudah mulai terkendali. Artinya sudah tidak ada yang merambat lagi. Tadi sudah diupayakan pendinginan bersama masyarakat sama volunteer, relawan," ujar Kepala Seksi Wilayah 1 Kuningan TNGC, Eko Kosasih kepada *kumparan* di lokasi saat mop up. Rabu (9/9/2026).
Petugas sempat mengalami kendala dalam upaya pemadaman akibat medan yang curam dan berbatu serta tiupan angin kencang.
Titik api berhasil dipadamkan pada Rabu (9/9) sekitar pukul 17.30 WIB, namun pukul 20.30 WIB tim gabungan kembali ke lapangan. Kini berfokus pada tahap mop up atau pembersihan total sisa-sisa bara api di area bekas terbakar.
Mengenai total area yang terdampak, Eko Kosasih menyebutkan angka 40 hektare tersebut masih merupakan perkiraan sementara yang butuh verifikasi lebih lanjut.
"Kalau kami memperkirakan kemarin itu sekitar 40 hektare, tapi kita perlu deteksi ulang lagi dengan drone. Jadi kita belum bisa pastikan secara detailnya," tutur Eko.
Sementara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, Roni, menjelaskan bahwa proses mop up sangat krusial dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi titik panas (hotspot) yang dapat memicu api susulan akibat hembusan angin.
"Proses mop up ini kita lakukan dengan menyiram dan membongkar tumpukan serasah serta bara api yang tersisa di balik batu atau dalam tanah," terang Roni saat dikonfirmasi di lokasi penanganan.
"Walaupun api utama sudah padam, angin di atas cukup kencang, jadi kalau tidak dituntaskan (mop up), bara kecil bisa terbang dan memicu kebakaran baru," sambungnya.
Kebakaran ini melahap vegetasi semak belukar, pohon Sonokeling, Pinus, dan tanaman MPTS. Pihak TNGC memperkirakan vegetasi terdampak dapat pulih alami saat musim hujan tiba, sementara dampak pada fauna diperkirakan hanya menyasar habitat burung di area tersebut.
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Pihak TNGC bersama relawan mengimbau warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melapor jika melihat titik api baru.
