Karhutla Sumatera-Kalimantan: 1.700 Ha Masih Terbakar, BNPB Ungkap Kendalanya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 9 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prajurit TNI Angkatan Udara berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lahan gambut, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan, Kamis (10/9/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Prajurit TNI Angkatan Udara berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lahan gambut, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan, Kamis (10/9/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Dari lahan yang terbakar berdasarkan temuan harian BNPB hingga Senin (14/9), lebih dari 1.700 hektare masih belum berhasil dipadamkan hingga Selasa (15/9).

Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan penanganan karhutla dilakukan dengan mengerahkan Satgas Darat yang didukung operasi udara, baik patroli, operasi modifikasi cuaca (OMC), maupun water bombing.

“Strategi operasional adalah pemadaman dilakukan secara massal dan terukur di lapangan. Tentu kami juga mengutamakan Satgas Darat yang didukung secara efektif oleh Satgas udara untuk hasil yang maksimum,” kata Berton saat memaparkan perkembangan harian penanganan karhutla di Gedung Graha BNPB, Jakarta, Selasa (15/9).

Berikut perkembangan penanganan karhutla di tujuh wilayah Sumatera-Kalimantan:

  • Kalimantan Barat

BNPB mencatat total luas lahan terbakar di Kalimantan Barat mencapai 48.535,73 hektare. Angka tersebut merupakan gabungan data Sipongi dan hasil pengukuran BNPB bersama tim gabungan di lapangan.

Pada Senin (14/9), ditemukan 19 titik api dengan estimasi lahan terbakar sekitar 261,5 hektare. Dari jumlah itu, 180,8 hektare lebih berhasil dipadamkan, terdiri dari 175, hektare oleh Satgas Darat dan 5 hektare melalui water bombing.

Dengan demikian, masih terdapat sekitar 80,7 hektare lahan yang belum dipadamkan per Selasa (15/9).

“Jumlah titik api yang ditemukan sebesar 19 titik dengan estimasi terbakar kemarin adalah 261 hektare lebih. Dan yang dapat dipadamkan sebesar 180 hektare lebih,” ujar Berton.

Sebanyak 14.759 personel Satgas Darat dikerahkan di Kalimantan Barat. Sementara Satgas Udara terdiri dari 5 unit untuk OMC dan 9 unit untuk water bombing.

  • Kalimantan Tengah

Di Kalimantan Tengah, total luas lahan terbakar tercatat 15.976,1 hektare. BNPB menemukan 56 titik api dengan estimasi lahan terbakar sekitar 189,6 hektare pada Senin (14/9).

Sebanyak 75,9 hektare berhasil dipadamkan. Rinciannya, 68,9 hektare dipadamkan Satgas Darat dan 7 hektare melalui water bombing.

Masih terdapat sekitar 113,7 hektare yang belum dipadamkan.

“Yang dapat dipadamkan 75,9 hektare dengan rincian Satgas Darat memadamkan sebesar 68,9 hektare, sedangkan Satgas Udara melalui water bombing 7 hektare. Ini terjadi sisa lahan yang belum dipadamkan sebesar 113 hektare lebih,” kata Berton.

Sebanyak 4.686 personel Satgas Darat diterjunkan di wilayah ini. Satgas Udara memiliki 2 unit untuk patroli dan OMC serta 6 unit water bombing.

  • Kalimantan Selatan

Kalimantan Selatan mencatat total lahan terbakar sekitar 19.303,99 hektare. Pada Senin (14/9), terdapat 40 titik api dengan estimasi lahan terbakar sekitar 210,44 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 136,46 hektare berhasil dipadamkan. Satgas Darat memadamkan 86,46 hektare, sementara water bombing memadamkan sekitar 50 hektare.

Masih ada sekitar 73,98 hektare yang harus ditangani pada Selasa (15/9).

“Sehingga dapat kita lihat sisa di sana ada 73 hektare lebih yang akan dipadamkan per hari ini,” ujar Berton.

BNPB mengerahkan 3.557 personel Satgas Darat. Sementara Satgas Udara terdiri dari 3 unit untuk patroli dan OMC serta 7 unit untuk water bombing.

Foto udara petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan di kawasan kariangau, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (3/9/2026). Foto: Angga Palguna/Antara Foto
  • Kalimantan Timur

Di Kalimantan Timur, total luas lahan terbakar mencapai 5.761,57 hektare. BNPB menemukan 20 titik api dengan estimasi lahan terbakar sekitar 701,27 hektare pada Senin (14/9).

Sebanyak 381,82 hektare berhasil dipadamkan, dengan rincian 358,32 hektare oleh Satgas Darat dan 23 hektare melalui Satgas Udara.

Sementara sekitar 319,95 hektare masih belum dipadamkan. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Sehingga dapat kita lihat ada sisa yang belum dipadamkan per hari ini ada 319 hektare lebih, terutama ini ada di IKN yang perlu ditangani,” kata Berton.

Sebanyak 4.392 personel Satgas Darat dikerahkan di Kalimantan Timur, dengan 2 unit helikopter water bombing.

  • Sumatera Selatan

Di Sumatera Selatan, BNPB mencatat total luas lahan terbakar sekitar 6.552,31 hektare. Pada Senin (14/9), ditemukan lahan terbakar seluas sekitar 402,22 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 319,97 hektare berhasil dipadamkan. Satgas Darat menangani 289,97 hektare, sementara Satgas Udara memadamkan lebih dari 30 hektare melalui water bombing.

Masih terdapat sekitar 84,25 hektare yang harus ditangani.

“Dan yang berhasil dipadamkan sebesar 319 hektare lebih. Itu dikerjakan oleh Satgas Darat sebesar 289,97 hektare, dan sedangkan untuk Satuan Udara memadamkan 30 hektare lebih. Sehingga ada tersisa untuk dikerjakan hari ini 84 hektare lebih,” ujar Berton.

Sebanyak 11.026 personel Satgas Darat dikerahkan di Sumatera Selatan. Satgas Udara terdiri dari 2 unit untuk patroli dan OMC serta 7 unit water bombing.

  • Jambi

Di Jambi, total lahan terbakar tercatat sekitar 2.998,02 hektare. Pada Senin (14/9), ditemukan lahan terbakar seluas 44,5 hektare.

Sebanyak 34,5 hektare berhasil dipadamkan. Rinciannya, 28 hektare oleh Satgas Darat dan 6,5 hektare melalui water bombing.

Dengan demikian, sekitar 10 hektare masih belum dipadamkan.

“Sehingga saat ini tersisa 10 hektare yang belum dipadamkan,” kata Berton.

Satgas Darat yang diterjunkan berjumlah 5.984 personel. Satgas Udara terdiri dari 2 unit untuk patroli dan OMC serta 4 unit water bombing.

  • Riau

Sementara di Riau, total lahan terbakar tercatat sekitar 19.851,65 hektare. Pada 14 September ditemukan 17 titik api dengan estimasi lahan terbakar sekitar 46,93 hektare.

Sebanyak 25,13 hektare berhasil dipadamkan, terdiri dari lebih dari 15,13 hektare oleh Satgas Darat dan 10 hektare melalui water bombing.

Masih terdapat sekitar 21,8 hektare lahan yang belum dipadamkan.

“Untuk kemarin, kami menemukan ada 17 titik api dengan lahan yang terbakar sebesar 46 hektare lebih, yang berhasil dipadamkan 25 hektare lebih,” ujar Berton.

Sebanyak 2.164 personel Satgas Darat dikerahkan di Riau. Satgas Udara memiliki 2 unit untuk patroli dan OMC serta 6 unit helikopter water bombing.

46 Ribu Personel

Pekerja mengendarai forklift melintas di area Pelabuhan Kijing yang diselimuti kabut asap pekat di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Sabtu (12/9/2026). Foto: Jessica Helena Wuysang/ANTARA FOTO

Jika dijumlahkan dari tujuh wilayah tersebut, BNPB mengerahkan sekitar 46.568 personel Satgas Darat untuk penanganan karhutla.

Berton mengatakan operasi di lapangan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, BNPB, BPBD, Damkar, Satpol PP, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api, relawan hingga sektor swasta.

“Keberhasilan operasi ini didukung oleh peningkatan sinergitas dan kerja sama nyata dari seluruh unsur,” tuturnya.

Karhutla juga Terjadi di Luar 7 Provinsi

BNPB juga mencatat sejumlah karhutla di luar tujuh wilayah Sumatera-Kalimantan tersebut.

Di Jawa Timur, kebakaran terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Gunung Butak dengan dukungan satu unit helikopter water bombing.

Di Maluku Utara, karhutla mencapai 44,5 hektare dan penanganannya didukung OMC sebanyak 10 sorti dengan 10 ton bahan semai NaCl.

Di Jawa Tengah, kebakaran terjadi di TPA Putri Cempo, Kota Surakarta, serta dua kecamatan di Kabupaten Wonogiri. Di Putri Cempo, masih terdapat sekitar 0,6 hektare yang terbakar dan tengah ditangani dengan bantuan alat berat.

Di Kabupaten Wonogiri, kebakaran melanda lahan seluas 16,59 hektare dan masih dalam proses penanganan.

Sementara di Kalimantan Utara, sekitar 4 hektare lahan terbakar di Desa Gunung Seriang, Kabupaten Bulungan dan masih ditangani tim gabungan.

Di Sulawesi Tengah, kebakaran terjadi di Kabupaten Poso dengan luas lebih dari 30 hektare serta perkebunan seluas 48 hektare di Kabupaten Tojo Una-Una.

Di Lampung, kebakaran melanda sekitar 7 hektare lahan di Lampung Selatan dan sekitar 339 hektare di Mesuji. BNPB menyebut api di kedua lokasi telah berhasil dipadamkan dan kini dalam tahap pemantauan serta pendinginan.

Sedangkan di Sulawesi Tenggara, kebakaran melanda enam kecamatan di Kabupaten Kolaka Timur dengan luas lebih dari 423 hektare. Api di wilayah tersebut belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

Kesulitan Pemadaman

Relawan pemadam kebakaran berupaya memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Kondisi lahan gambut yang terbakar hingga kedalaman beberapa meter, keterbatasan air saat kemarau, sulitnya akses menuju titik api, serta asap tebal menjadi tantangan pemadaman.

Berton mengatakan api di lahan gambut tidak mudah dipadamkan. Sebab, meski api di permukaan telah berhasil dipadamkan, bara api masih dapat bertahan di dalam tanah.

“Ini adalah gambut. Gambut ketika sudah terbakar, itu tidak dengan mudah dapat dipadamkan. Pertama, api bisa dipadamkan di permukaan, tetapi 2, 4, 10 meter ke dalam itu belum tentu,” kata Berton.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan lahan. Namun, saat musim kemarau, ketersediaan air juga semakin terbatas.

“Jadi api yang sudah dipadamkan, tetapi ini butuh air yang banyak untuk mendinginkan,” ujarnya.

Berton mengatakan kendala lainnya adalah lokasi titik api yang berada di tengah hutan atau kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Kondisi tersebut membuat Satgas Darat perlu melakukan pemantauan dan berkoordinasi untuk menentukan penanganan di setiap titik kebakaran.

Selain itu, asap tebal yang dihasilkan dari kebakaran juga menghambat operasi pemadaman melalui udara.

“Ketika kita mau melakukan water bombing, ini tidak memungkinkan, banyak yang tidak memungkinkan karena jarak pandang yang sangat sedikit, kekentalan dari asap tersebut sangat tebal,” jelas Berton.

3 Chinook Jepang Belum Bisa Beroperasi

Berton juga mengungkap tiga helikopter CH-47 Chinook bantuan Jepang yang telah tiba di Kalimantan Barat belum dapat digunakan untuk pemadaman secara penuh.

Tiga Chinook tersebut dibawa kapal JS Kunisaki milik Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) dan tiba di Pelabuhan Kijing, Kalimantan Barat, pada Kamis (10/9). Helikopter direncanakan membantu pemadaman karhutla di lokasi yang sulit dijangkau tim darat pada 13-26 September 2026.

Menurut Berton, saat ini tiga helikopter tersebut masih menjalani test flight. Operasional pemadaman belum dapat dilakukan karena jarak pandang di lokasi masih terlalu rendah akibat asap.

“Tiga Chinook sudah ada di lokasi. Namun sampai saat ini, pesawat tersebut belum digunakan. Saat ini masih menggunakan test flight,” kata Berton.

Berton mengatakan helikopter tersebut membutuhkan jarak pandang minimal sekitar 3-5 kilometer untuk dapat beroperasi.

“Karena itu tadi, jarak pandangnya itu di bawah 1 kilometer. Mereka mau bekerja ketika di atas 3 kilometer sampai 5 kilometer,” ujarnya.

Berton berharap kondisi jarak pandang membaik sehingga helikopter bantuan Jepang dapat segera dikerahkan untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Genset dan Pompa Air Dikerahkan

Untuk mengatasi keterbatasan air dan kebutuhan operasional di lapangan, pemerintah telah mengirimkan genset serta pompa air ke sejumlah lokasi penanganan karhutla.

BNPB juga bekerja sama dengan Pertamina untuk memastikan ketersediaan BBM di lokasi sehingga peralatan dapat digunakan untuk mendukung proses pemadaman.

“Kalau pemerintah sudah mengirimkan genset, pompa air untuk di lapangan. Tentu ini diharapkan untuk bekerja dan kami juga sudah bekerja sama dengan pihak Pertamina untuk tentu menyiapkan BBM ada di lokasi,” kata Berton.

Sementara untuk rekayasa cuaca, Berton menyebut operasi modifikasi cuaca tidak selalu dapat dilakukan. Sebab, penyemaian garam membutuhkan keberadaan bibit awan yang dapat dipicu menjadi hujan.

“Ketika hari tanpa hujan, hari tanpa bibit-bibit awan di angkasa, tentu ini juga menyulitkan kita untuk melakukan penyemaian bibit-bibit garam,” tuturnya.