Konten dari Pengguna

Kasaba Mengapa Berbuat Jahat Lebih Berat daripada Berbuat Baik?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faozan Amar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berbagi kebaikan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berbagi kebaikan. Foto: Shutterstock

Mari renungkan; mengapa berbuat baik kerap terasa mengalir begitu ringan, sementara langkah berbuat jahat acapkali menuntut keberanian ekstra, rekayasa siasat, hingga pergulatan batin yang melelahkan?

Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi spiritual dari mimbar keagamaan, melainkan sangat krusial dalam ruang manajemen strategis dan dunia usaha modern. Sebab, indeks keberhasilan sebuah entitas bisnis pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa masif profit yang diraih, melainkan bagaimana profit tersebut diperoleh.

Al-Qur’an memberikan linguistic miracle yang amat memesona dalam Surat Al-Baqarah ayat 286:

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

"Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya."

Ada distingsi menarik pada pemilihan diksi ilahi tersebut: kata kasabat digunakan untuk mendeskripsikan kebaikan, sedangkan iktasabat dipakai untuk mendefinisikan keburukan. Mufasir Al-Zamakhsyari dalam Al-Kashshaf menjelaskan bahwa imbuhan huruf pada iktisab mengandung makna adanya effort, rekayasa, dan kesungguhan yang jauh lebih berat.

Kejahatan membutuhkan keterpaksaan nurani karena ia memaksakan diri bertentangan dengan fitrah dasar manusia. Syekh Muhammad Abduh turut menegaskan bahwa jiwa manusia secara alamiah nyaman dalam kebaikan, sementara kejahatan selalu menyisakan ketegangan psikologis.

Akar Etimologi dan Kultur Ngasab Masyarakat Jawa

Menariknya, konsep Quranik kasaba ini terserap dan mengakar begitu dalam pada kebudayaan dan nilai luhur masyarakat Jawa. Dalam kultur keseharian, bekerja mencari nafkah sering diistilahkan dengan kata kasab atau ngasab.

Ketika seorang suami berpamitan kepada istrinya untuk berikhtiar mencari rezeki yang halal, terucap kalimat yang penuh kesantunan: “Pamit nggih Bu, kulo badhe kasab.” Bagi masyarakat Jawa, ngasab bukan sekadar aktivitas fisik memeras keringat demi rupiah, melainkan ikhtiar spiritual untuk membawa pulang rezeki yang halal (thayyib) guna menafkahi dan memuliakan keluarga.

Pesan spiritual dan kultural ini menjadi amat bumi ketika ditarik ke dalam lanskap ekonomi nasional. Indonesia ditopang oleh lebih dari 64 juta UMKM, yang menurut data Kemenko Perekonomian menyumbang 61,9% terhadap PDB serta menyerap 97% total tenaga kerja nasional. Mayoritas dari mereka adalah para pelaku ngasab—pejuang nafkah yang menggerakkan ekonomi dari akar rumput. Nilai kejujuran dalam ngasabmembawa dampak domino langsung terhadap keberkahan hajat hidup masyarakat luas.

Siasat Rekayasa vs Ketenangan Kejujuran

Dalam realitas bisnis harian, berbuat baik adalah keberanian memilih kejujuran di tengah godaan kecurangan yang tampak lebih menguntungkan. Menjelaskan cacat produk secara transparan saat menutupinya bisa melipatgandakan margin, atau membayar hak pekerja tepat waktu saat menundanya dapat mempertebal kas perusahaan. Di sinilah makna kasaba menemukan urgensi strategisnya.

Secara teoretis, pakar manajemen Michael E. Porter (1985) menekankan bahwa competitive advantage lahir dari rangkaian aktivitas perusahaan yang value creation. Namun, dalam perspektif kasaba, penciptaan nilai wajib diraih melalui proses yang benar ethically sound process.

Pendapat ini diperkuat oleh R. Edward Freeman (1984) yang mengingatkan bahwa bisnis adalah ekosistem penciptaan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan, konsumen, pekerja, pemasok, hingga lingkungan, bukan cuma pemilik modal (shareholders). Strategi bisnis yang memburu keuntungan dengan memeras ekosistemnya pada hakikatnya merupakan strategi yang cacat secara moral dan rapuh secara finansial.

Sebab, kecurangan dalam bisnis selalu membutuhkan rekayasa yang melelahkan. Untuk memalsukan laporan keuangan, dibutuhkan manipulasi sistemik. Untuk menipu konsumen, diperlukan narasi palsu yang rumit. Sementara itu, kejujuran tidak membutuhkan skenario yang berbelit-belit.

Penelitian Dey dkk. (2022) mengonfirmasi bahwa ethical leadership terbukti membentuk iklim organisasi yang sehat dan mendorong kinerja korporasi yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan temuan Brown, Treviño, dan Harrison (2005) yang mendefinisikan ethical leadership sebagai keteladanan nyata yang dipromosikan lewat komunikasi dan pengambilan keputusan yang adil. Pemimpin bisnis sejati wajib mendesain sistem yang membuat kejujuran mudah dieksekusi dan kecurangan sulit dimanipulasi.

Keberkahan sebagai Nilai Strategis Jangka Panjang

Rasulullah SAW telah meletakkan pedoman manajemen perdagangan yang presisi. Dalam hadis riwayat Bukhari, beliau bersabda bahwa apabila penjual dan pembeli jujur serta menjelaskan kondisi barang, transaksi mereka diberkahi. Sebaliknya, jika mereka berdusta dan menyembunyikan cacat, dihapuslah keberkahan transaksi tersebut. Hadis riwayat Muslim juga mempertegas larangan berbisnis di area abu-abu moral (syubhat).

Pada akhirnya, kasaba maupun tradisi ngasab menawarkan paradigma baru bagi manajemen strategis: kinerja korporasi bukan sekadar hasil akhir (result-oriented), melainkan tentang kesucian proses (process-oriented). Bisnis yang sehat harus bertumpu pada pilar value-oriented dan sustainability-oriented.

Kejujuran mungkin terasa lebih berat pada langkah awal. Namun, kejujuran itulah yang menyemaikan kepercayaan (trust), melahirkan reputasi, membuahkan loyalitas pelanggan, dan menjamin keberlanjutan (sustainability) perusahaan melintasi zaman.

Memilih jalan kebaikan dan kesucian rezeki bukanlah strategi yang lemah. Justru, ia adalah strategi jangka panjang paling kokoh yang pernah ada. Itulah esensi kasaba dan spirit ngasab: usahakan yang baik, peroleh dengan cara yang mulia, ciptakan nilai bagi sesama, dan pertanggungjawabkan hasilnya di hadapan manusia dan Tuhan YME.