Kawal Tol Bukittinggi-Sicincin, Andre Rosiade: Exit Pasar Amor dan Lanjut Bypass

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade mengawal langsung percepatan pembangunan Jalan Tol Pekanbaru-Padang ruas Bukittinggi-Sicincin. Dalam rapat bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, sejumlah pemerintah daerah, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar dan PT Hutama Karya di Kantor BPJN Sumbar, Jati, Padang, Kamis (10/9/2026), disepakati perencanaan trase dengan exit tol di kawasan Pasar Amor, Kabupaten Agam.
Rapat tersebut dihadiri Sekda Sumbar Arry Yuswandi, Direktur Jalan Bebas Hambatan Kementerian PU Dedy Gunawan, Wakil Direktur Utama PT Hutama Karya Sugeng Rochadi, Bupati Agam Benny Warlis, Wakil Wali Kota Padang Panjang Allex Saputra, Wakil Bupati Padang Pariaman Rahmat Hidayat dan perwakilan Pemko Bukittinggi.
Andre menegaskan, yang disepakati dalam rapat tersebut bukan penetapan trase secara final, melainkan penetapan perencanaan trase yang selanjutnya akan diproses sesuai tahapan administrasi dan dikonsultasikan kepada masyarakat. Salah satu poin pentingnya adalah menyiapkan akses tol atau bypass sepanjang sekitar 6,5 kilometer dari Pasar Amor menuju Simpang Taluak.
“Alhamdulillah kita sudah bersepakat mengenai rencana trase, di mana exit tol di Pasar Amor dan membangun bypass. Rencana trase ini akan didiskusikan dan didialogkan langsung dengan masyarakat dan ninik mamak yang ada di Kabupaten Agam,” kata Andre.
Menurut Andre, skema tersebut menjadi solusi untuk menjaga akses masyarakat sekaligus mengantisipasi dampak lalu lintas apabila exit tol berada di Pasar Amor. Jalan sepanjang 6,5 kilometer itu nantinya bukan merupakan jalur tol utama, tetapi akses tol/bypass yang tetap menjadi bagian dari dukungan terhadap konektivitas kawasan. “Dari Pasar Amor itu bukan lagi tol, tapi akses tol. Bypass dari Pasar Amor sampai Simpang Taluak sekitar 6,5 kilometer,” ujarnya.
Andre menjelaskan, perubahan nomenklatur tersebut penting dari sisi administrasi agar pembebasan lahan dapat dibiayai melalui anggaran negara yang dikelola Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN). Dengan demikian, persoalan pembiayaan pembebasan lahan untuk akses tersebut sudah memiliki jalan keluar. “Lahannya dibebaskan LMAN pakai APBN. Jadi yang menjadi masalah kita di situ, yaitu uang untuk pembebasan, alhamdulillah sudah ada solusi,” katanya.
Untuk mempercepat proses tersebut, Andre meminta Pemerintah Provinsi Sumbar segera menyurati Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU terkait perubahan dokumen DPPT. Setelah itu, basic design dan dokumen terkait lainnya akan disesuaikan dengan hasil rapat.
Wakil Direktur Utama Hutama Karya, Sugeng Rochadi, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi kuat yang terjalin antar pemangku kepentingan. Penetapan Lokasi (Penlok) pun ditargetkan dapat rampung pada awal tahun guna mendukung percepatan eksekusi di lapangan.
"Kami yakin dengan semangat kolaborasi serta dukungan penuh dari pemerintah daerah, Departemen Pekerjaan Umum, dan masyarakat Sumatera Barat, hambatan teknis maupun non-teknis dapat kita atasi bersama," ujar Sugeng Rochadi.
Proyek ruas tol Bukittinggi–Sicincin ini diharapkan dapat segera memasuki tahap eksekusi fisik dalam waktu dekat. Kehadiran tol ini diyakini akan memperlancar konektivitas antarwilayah serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat Sumatera Barat secara keseluruhan.
Direktur Jalan Bebas Hambatan Kementerian PU Dedy Gunawan membenarkan perlunya penyesuaian administrasi tersebut. Menurut dia, istilah “akses tol” dapat digunakan untuk ruas yang berfungsi sebagai penghubung dan tetap masuk dalam penugasan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), sehingga pembiayaannya dapat dilakukan melalui skema yang sesuai.
Deddy menjelaskan, Kementerian PU juga tengah memproses perubahan regulasi terkait penamaan segmen jalan tol agar lebih fleksibel terhadap perkembangan trase. Setelah basic design dan DPPT disesuaikan, proses berikutnya akan dilanjutkan dengan pengurusan KKPR serta tahapan persiapan lainnya.
Andre Rosiade menargetkan pembangunan ruas Padang Panjang hingga kawasan Pasar Amor dapat selesai sebelum 2029. Bahkan, ia mendorong agar ruas tersebut sudah dapat diwujudkan pada 2028. “Saya pengennya sebelum 2029 Padang Panjang-Pasar Amor itu tolnya sudah jadi. Yang bisa kita selesaikan segera insya Allah Padang Panjang-Pasar Amor,” tegasnya.
Andre mengatakan percepatan perlu dilakukan karena pembangunan ruas lainnya memiliki tantangan teknis yang lebih besar. Salah satunya adalah rencana terowongan pada ruas Padang Pariaman-Padang Panjang yang membutuhkan waktu pengerjaan lebih panjang “Jadi yang bisa kita selesaikan segera insya Allah Padang Panjang-Pasar Amor. Mari kita gerak cepat,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat Arry Yuswandi menyatakan Pemprov Sumbar mendukung penuh percepatan pembangunan jalan tol tersebut. Menurutnya, keberadaan tol memiliki nilai strategis bagi pembangunan dan konektivitas Sumbar.
Arry juga mengapresiasi pengawalan yang dilakukan Andre Rosiade bersama Gubernur Sumbar dan seluruh pihak terkait. Ia berharap dinamika dalam proses pembangunan tidak menjadi penghalang. “Kami yakin bahwa dengan kebersamaan kita, apalagi pengawalan Pak Andre bersama Bapak Gubernur, ini akan memberikan akselerasi,” kata Arry.
Ia bahkan berharap pembangunan ruas Sicincin-Bukittinggi dapat berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan proses pembangunan ruas Padang-Sicincin. “Kalau ruas Padang-Sicincin sekian tahun, kita berharap proses Sicincin-Bukittinggi ini sekian bulan. Mungkin lebih hebat lagi,” ujarnya.
Andre menegaskan, keberhasilan pembangunan tol membutuhkan kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, Hutama Karya dan masyarakat. Karena itu, setelah perencanaan trase disesuaikan, ia memastikan pemerintah akan membuka ruang dialog langsung dengan masyarakat.
“Di Sumatera Barat tidak ada yang tidak bisa kita bicarakan. Insya Allah kalau untuk kepentingan bersama, asal kita jujur, terbuka, bicara dengan hati-hati, insya Allah semua bisa kita bicarakan,” katanya.
