Konten dari Pengguna

Kelas Kemiskinan dan Sekolah Rakyat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mokhamad Alfian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah siswa Sekolah Rakyat tampil dalam kegiatan Open House Sekolah Rakyat bagi orang tua dan calon siswa di Pekanbaru, Riau, Minggu (14/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pengenalan program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah siswa Sekolah Rakyat tampil dalam kegiatan Open House Sekolah Rakyat bagi orang tua dan calon siswa di Pekanbaru, Riau, Minggu (14/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pengenalan program pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Seorang dosen pernah mengatakan sesuatu yang membuat saya jengkel selama bertahun-tahun. Waktu itu, dalam sebuah kelas tentang kemiskinan, ia berkata bahwa istilah “pengentasan kemiskinan” barangkali keliru. Kemiskinan, menurutnya, tidak akan bisa dihilangkan. Paling jauh, ia hanya dapat dikurangi. Itu pun mungkin.

Saya mengangkat tangan sebelum ia selesai bicara. Dengan kepercayaan diri seorang mahasiswa yang baru mengenal beberapa teori, saya menyampaikan segala macam bayangan tentang dunia yang lebih adil. Dosen itu mendengarkan, lalu mengajukan pertanyaan yang sama sekali tidak saya sukai.

“Kalau semua orang kaya, siapa yang mau bekerja?” tanyanya. Ia menyusul dengan pertanyaan lain: “Kalau harta dibagi sama rata, bagaimana dengan orang yang sudah bekerja mati-matian sementara yang lain tidak?”

Saya hendak menyela, tetapi ia lebih cepat. “Kalau kamu belajar sungguh-sungguh dan temanmu tidak, apa kamu rela saya memberi kalian nilai B yang sama?”

Kelas berakhir tanpa kemenangan bagi siapa pun, kecuali mungkin dosen itu. Saya pulang membawa kekesalan dan pertanyaan-pertanyaan yang belum pandai saya jawab. Pada pertemuan berikutnya saya datang dengan persenjataan lebih lengkap: buku pinjaman perpustakaan, kutipan jurnal, hasil penelitian. Saya menggelar semuanya di kelas seperti orang hendak memenangkan peperangan. Anehnya, semakin banyak bacaan saya, semakin sering pula saya pulang dengan perasaan kalah.

Bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa kami mungkin sedang memperdebatkan dua perkara berbeda. Ia bicara tentang kesamaan hasil; saya, meski belum bisa merumuskannya, sedang memikirkan ketimpangan kesempatan. Dan orang yang membantu saya memahami perbedaannya bukan dosen atau penulis buku, melainkan seorang penjaga warung mi instan.

Kami berkenalan di Bandung, kota tempat saya menumpang hidup dan menimba ilmu. Acil menjaga warung milik seseorang bernama Pepen, tak jauh dari asrama mahasiswa. Badannya kurus, wajahnya sering tampak letih, dan ia bukan orang yang mudah tersenyum. Namun, kami cukup akrab. Barangkali karena saya terlampau rajin meminta namanya mencatat mi, kopi, dan aneka makanan lain dalam sebuah buku usang. Buku itu menampung utang mahasiswa yang, kalau dikumpulkan, mungkin sudah menyerupai daftar dosa satu angkatan.

Obrolan kami mulanya tidak penting-penting amat: soal asmara, cerita hantu di asrama, pelanggan menyebalkan, atau tabiat majikan yang tidak selalu menyenangkan. Lama-kelamaan saya mulai bertanya tentang pekerjaannya dan apa yang hendak ia lakukan setelah itu.

Sekitar 2012–2013, kata Acil, penghasilannya berkisar delapan ratus sampai satu setengah juta rupiah sebulan, bergantung pada ramainya pembeli. Lebih sering mendekati angka yang pertama. Ia mendapat tempat tinggal dan boleh makan mi sepuasnya. Ia putus sekolah, lalu bekerja karena uang dibutuhkan lebih cepat daripada ijazah yang belum tentu segera mendatangkan pekerjaan.

Saya lulus kuliah pada 2014. Setahun kemudian saya kembali ke kampus yang sama untuk melanjutkan pendidikan. Saya juga kembali ke warung yang sama. Acil masih di sana. Penghuni asrama semakin sedikit, pembeli berkurang, dan penghasilannya, menurut penuturannya, ikut menyusut. Ia lebih sering diam.

Pada suatu sore kami bicara tentang masa depan. Acil ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Saya pun mengaku tidak tahu akan menjadi apa. Ketakutan menghadapi dunia kerja, kata saya, adalah salah satu alasan saya kembali kuliah. Kalau bisa, saya ingin menjadi mahasiswa selama-lamanya: membaca buku, menulis tugas, berdebat di kelas, dan tak perlu mencemaskan gaji bulanan.

Saya mengatakannya sambil meminum kopi hitam Kapal Api yang diseduh setengah gelas dan diaduk hanya dua kali. Entah mengapa bagian remeh itu masih saya ingat.

Acil tidak tertawa. Wajahnya berubah. Mungkin ia tersinggung, mungkin juga ia hanya lelah. Saya tak pernah bertanya. Di hadapannya, keluhan saya mendadak terdengar seperti kemewahan. Saya bisa menunda bekerja karena orang tua, yang hidupnya sendiri jauh dari berkecukupan, masih membantu biaya kuliah saya. Saya bahkan punya utang makanan yang panjang di warung itu. Acil, sementara itu, harus bekerja agar dapat terus hidup.

Kami sama-sama mengenal kekurangan uang, tetapi kekurangan itu tidak memberi kami ruang gerak yang sama. Saya bisa memilih untuk kembali sekolah. Acil tidak pernah mengatakan bahwa ia tidak ingin sekolah; ia hanya lebih membutuhkan upah.

Sesudah percakapan itu, hubungan kami berubah. Kami masih bertemu, masih saling menyapa, tetapi lebih banyak diam. Beberapa waktu kemudian Acil pergi. Ada yang bilang ia pindah menjaga warung di Yogyakarta; ada pula yang menyebut Malang. Saya tidak pernah tahu yang mana benar. Kami tak pernah bertemu lagi.

Saya kerap ingin memperbaiki perpisahan yang bahkan tidak sempat kami sadari sebagai perpisahan. Saya ingin kembali ke warung itu, lalu mendengarkan cerita Acil tanpa buru-buru membandingkan hidupnya dengan hidup saya.

Dari Acil, saya mulai memahami kemiskinan dengan cara yang lebih sederhana, meskipun barangkali tidak lebih lengkap. Kemiskinan bukan semata-mata soal berapa uang yang dimiliki seseorang, melainkan juga tentang apa yang masih mungkin ia pilih. Orang dapat sama-sama tidak punya uang, tetapi yang satu mempunyai kesempatan menunggu, belajar, gagal, lalu mencoba lagi, sementara yang lain harus menerima pekerjaan apa pun hari itu juga.

Tentu saja kemampuan memilih bukan satu-satunya ukuran kemiskinan. Ada soal penghasilan, kepemilikan aset, kesehatan, perumahan, keamanan, dan relasi kuasa. Tetapi kesempatan untuk menentukan jalan hidup—atau ketiadaannya—adalah bagian yang paling lama tertinggal di kepala saya.

Belakangan saya menemukan pikiran yang membantu menjelaskan kegelisahan itu. Dalam Development as Freedom (1999), Amartya Sen mengajak kita melihat pembangunan sebagai perluasan kebebasan nyata manusia: bukan sekadar bertambahnya penghasilan, melainkan juga kesempatan untuk menjalani kehidupan yang dianggap berharga. Saya tidak sedang menyamakan hidup saya dan Acil dengan sebuah teori. Hanya saja, untuk pertama kalinya saya merasa ada bahasa yang cukup tepat untuk menjelaskan perbedaan yang dulu tidak mampu saya terangkan di ruang kelas.

Pada 2025, di tengah pekerjaan rutin kantor, saya mendengar sebuah program baru bernama Sekolah Rakyat. Namanya membuat saya penasaran. Gagasannya ialah menyediakan pendidikan formal berasrama dengan biaya ditanggung pemerintah bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Saya segera teringat Acil. Bukan karena saya yakin program semacam itu pasti dapat mengubah hidup seseorang, melainkan karena saya pernah menyaksikan bagaimana kebutuhan untuk segera bekerja dapat menutup kemungkinan melanjutkan sekolah.

Perdebatan tentang program itu segera bermunculan. Sebagian orang mempertanyakan besarnya biaya pembangunan dan operasional. Mengapa tidak memperbaiki sekolah negeri yang sudah ada? Mengapa tidak memperluas bantuan pendidikan untuk semua murid yang membutuhkan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar, bahkan wajib diajukan. Uang publik bukan benda ajaib yang tidak akan habis hanya karena digunakan untuk tujuan mulia.

Tetapi saya juga sulit menerima anggapan bahwa membebaskan biaya sekolah otomatis membuat pendidikan dapat dijangkau semua anak. Sekolah memerlukan lebih dari ruang kelas dan uang pangkal yang ditiadakan. Ada sepatu yang harus diganti, ongkos perjalanan, buku, seragam, waktu belajar, makan yang cukup, dan rumah yang memungkinkan anak tidur dengan tenang. Bahkan kemampuan untuk tidak bekerja pada usia sekolah adalah sebuah fasilitas yang tidak dimiliki setiap keluarga.

Itulah sebabnya saya bisa memahami mengapa negara ingin menyediakan layanan yang lebih lengkap untuk anak-anak yang berada pada lapisan paling bawah. Perlakuan yang sama belum tentu menghasilkan kesempatan yang setara. Anak yang harus menempuh perjalanan jauh, membantu orang tua bekerja, atau belajar dalam keadaan lapar membutuhkan dukungan yang berbeda dari teman sekelas yang tidak menghadapi hambatan tersebut.

Kritik lain menyangkut kemungkinan segregasi sosial. Kalau ada sekolah khusus anak miskin, tidakkah sejak kecil mereka diberi label berdasarkan keadaan ekonomi orang tuanya? Tidakkah pendidikan semestinya menjadi tempat anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat tumbuh bersama?

Kekhawatiran itu tidak bisa dijawab dengan enteng. Masyarakat kita sudah memiliki banyak pagar tak kasatmata antara perkampungan dan perumahan elite, antara sekolah yang sarat fasilitas dan sekolah yang kekurangan guru. Justru karena pagar-pagar itu sudah ada, jangan sampai Sekolah Rakyat membangunnya dalam bentuk baru. Sekolah yang dimaksudkan untuk memperluas kesempatan tidak boleh berubah menjadi tempat yang mengurung identitas seorang anak sebagai “orang miskin”.

Apalagi model asrama membawa persoalan tersendiri. Bagi sebagian anak, asrama mungkin menawarkan lingkungan belajar dan pengasuhan yang lebih aman. Bagi anak lain, berpisah dari keluarga dapat menjadi beban yang tidak kecil. Ada anak yang membutuhkan makan teratur dan guru yang baik; ada pula yang membutuhkan orang tua tetap dekat. Negara tidak boleh menganggap kebutuhan mereka seragam hanya karena berada dalam kelompok pendapatan yang sama.

Dengan begitu, saya ingin program ini berhasil, dan justru karena itu saya merasa ia perlu diawasi, diuji, serta dikoreksi. Kualitas guru, perlindungan anak, ketepatan sasaran, keberlanjutan pembiayaan, dan kehidupan setelah lulus lebih penting daripada kemegahan bangunan atau banyaknya foto peresmian.

Keberhasilan juga tidak cukup diukur dari berapa anak masuk asrama pada tahun pertama. Pertanyaan yang lebih sulit baru datang kemudian: apakah mereka bertahan di sekolah, belajar dengan baik, tumbuh sehat, dapat melanjutkan pendidikan atau bekerja secara layak, dan memiliki lebih banyak pilihan daripada orang tua mereka? Bahkan pertanyaan itu belum lengkap kalau kondisi ekonomi keluarga yang mereka tinggalkan tidak ikut diperhatikan.

Saya sering membayangkan Acil dalam percakapan itu. Seandainya dahulu ada sekolah yang menjamin seluruh kebutuhan belajarnya seperti Sekolah Rakyat, apakah ia akan tetap memilih bekerja? Mungkin tidak. Mungkin juga ia tetap harus mencari uang untuk membantu keluarganya. Saya tidak tahu. Kisah seseorang tidak bisa diubah menjadi bukti keberhasilan program yang belum pernah ia ikuti.

Namun, ketidaktahuan itu tidak membuat pertanyaannya kehilangan arti. Negara tidak selalu sanggup menghapus segala ketimpangan, tetapi ia seharusnya mampu mempersempit jarak antara anak yang mempunyai banyak pilihan dan anak yang nyaris tidak mempunyai pilihan sama sekali.

Saya tidak pernah tahu ke mana Acil akhirnya pergi. Yogyakarta, Malang, atau mungkin kota lain yang tak pernah kami bicarakan. Saya juga tidak tahu apakah hidup telah memperlakukannya dengan lebih baik. Sudah terlalu lama kami tidak saling berkabar, dan ada perpisahan yang makin sukar diperbaiki justru karena dahulu tampak begitu biasa.

Sesekali saya ingin kembali ke Bandung, ke warung kecil itu, memesan kopi dan mi instan, lalu menemukan nama saya masih tercatat di buku utang yang menampung begitu banyak kesalahan masa muda. Barangkali buku itu sudah hilang. Barangkali warungnya pun sudah berganti pemilik. Tetapi saya masih bisa membayangkan Acil di balik meja, diam-diam mencatat pesanan kami.

Saya juga masih mengingat dosen yang gemar menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Barangkali ia benar ketika mengatakan bahwa kemiskinan tidak mudah dihapuskan. Tetapi setelah mengenal Acil, saya merasa ada yang keliru dengan anggapannya bahwa kerja keras selalu cukup untuk menjelaskan mengapa hidup seseorang berbeda dari hidup orang lain.

Sebab Acil bekerja keras. Ia menjaga warung ketika saya duduk di kelas, menyelesaikan tugas, atau membayangkan masa depan yang tidak saya ketahui bentuknya. Saya memiliki kesempatan untuk takut dan menunda keputusan. Acil harus berhadapan dengan kebutuhan yang datang setiap hari. Kami sama-sama tidak kaya, tetapi kami tidak sama-sama bebas memilih.

Kini, setiap kali orang memperdebatkan Sekolah Rakyat, saya berharap perdebatan itu tidak melupakan anak-anak yang hendak ditolongnya. Saya berharap negara tidak mengulangi kesalahan yang terlalu sering kita lakukan: mengira orang miskin kekurangan kemauan, padahal boleh jadi yang paling mereka perlukan adalah kesempatan. Tentu saja sekolah tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan. Namun, ia patut diperjuangkan apabila sungguh-sungguh memperbanyak jalan hidup yang mungkin ditempuh seorang anak.

Saya berharap Acil bahagia di mana pun ia berada. Saya juga berharap anak-anak yang hari ini duduk di bangku Sekolah Rakyat kelak mempunyai lebih banyak pilihan daripada yang pernah tersedia bagi kami. Kalau suatu hari saya bertemu Acil kembali, saya tidak ingin mendebatnya, apalagi menguliahinya tentang kemiskinan. Saya hanya ingin duduk dan mendengarkan, lalu mengajukan satu pertanyaan yang dahulu tidak sempat saya tanyakan: “Cil, kalau dulu kau boleh memilih, kau sebenarnya ingin menjadi apa?”