Keluarga Siswa Ungkap Ada Dugaan Bullying Terjadi di Sekolah ICM

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perundungan atau bullying. Foto: TOP-STOCKER/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perundungan atau bullying. Foto: TOP-STOCKER/Shutterstock

Keluarga seorang siswa mengungkap dugaan aksi bullying atau perundungan yang dialami korban di sekolah boarding Insan Cendekia Madani (ICM). Keluarga menyebut korban mengalami kekerasan verbal dan fisik yang diduga dilakukan oleh enam seniornya.

Peristiwa tersebut, berdasarkan keterangan perwakilan keluarga korban, terjadi pada 26 Agustus 2026 saat korban mengikuti kegiatan Pramuka di sekitar lingkungan sekolah.

Dalam keterangannya, keluarga menyebut korban menjadi sasaran kekerasan oleh enam senior. Mata dan mulut korban disebut dililit menggunakan dasi. Setelah itu, korban diduga dipukul menggunakan buku dan dilempari kerikil di area lapangan yang menggunakan rumput sintetis.

Aksi tersebut disebut berlangsung cukup lama. Korban kemudian dihampiri oleh teman satu angkatannya.

"Kejadiannya cukup lama hingga akhirnya teman seangkatan korban hampiri korban. Telinga korban berdarah, perlu dijahit. Diduga lukai telinga pakai benda tajam, bisa dari name tag besi atau ring kacu pramuka," kata perwakilan keluarga korban saat dihubungi kumparan, Jumat (25/9).

"Hari yang sama, korban dijemput keluarga. Pada saat mediasi, ada 1 orang tua pelaku (yang disebut sebagai provokator) tidak hadir," tambahnya.

Mediasi Digelar Sekolah

Setelah kejadian tersebut, pihak sekolah disebut menggelar mediasi. Namun, menurut keluarga korban, proses mediasi baru dilakukan setelah keluarga beberapa kali meminta pihak sekolah untuk menindaklanjuti persoalan tersebut.

"Mediasi itu diadakan oleh pihak sekolah namun setelah beberapa kali dikejar dulu oleh keluarga korban," tuturnya.

Keluarga menyebut peristiwa tersebut terjadi dalam rangkaian kegiatan Pramuka. Dalam proses penanganan kasus, pihak sekolah disebut mengakui adanya kelalaian dari pembimbing Pramuka.

"Terjadi saat kegiatan pramuka kak, sekolah mengakui ada kelalaian dari pembimbing pramuka," kata dia.

Selain persoalan pengawasan kegiatan, keluarga juga menyoroti kondisi lokasi kejadian. Area lapangan yang disebut menjadi lokasi peristiwa tidak dilengkapi dengan CCTV.

"Di area lapangan tersebut juga tidak terdapat CCTV," kata perwakilan keluarga korban.

Belum Lapor Polisi

Meski mengungkap dugaan kekerasan yang dialami korban, keluarga mengatakan hingga saat ini mereka belum memilih untuk membawa perkara tersebut ke jalur hukum atau melaporkannya kepada polisi.

Keluarga mengaku memiliki kekhawatiran kasus tersebut tidak akan terselesaikan apabila ditempuh melalui jalur hukum.

"Sampai saat ini pihak keluarga korban masih belum memilih jalur hukum/polisi karena khawatir akan tetap tidak terselesaikan (polisi bisa saja disuap, dsb)," sebutnya.

Korban Pindah Sekolah

Setelah kejadian, korban disebut tidak lagi melanjutkan pendidikan di sekolah tersebut.

Menurut keluarga, keputusan untuk keluar berasal dari keinginan korban sendiri. Keluarga menyebut korban masih mengalami trauma dan tidak ingin tetap berada di sekolah yang sama dengan siswa yang diduga terlibat.

"Korban sudah keluar dari sekolah tersebut tentunya atas kemauan korban sendiri karena masih trauma jika harus tetap ada di sekolah yang sama dengan pelaku," tuturnya.

Dia mengungkapkan alasan korban pindah sekolah karena takut berpapasan dengan siswa yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.

Keluarga mengatakan korban masih sering berpapasan dengan pelaku, terutama dengan siswa yang mereka sebut sebagai pihak yang menjadi provokator.

"Karena di sekolah korban masih sering berpapasan dengan pelaku (terutama yang provokator)," kata dia.

Meski begitu, korban bersama keluarganya masih mendatangi sekolah pada 8 September 2026. Kedatangan tersebut dilakukan untuk bertemu kembali dengan kepala sekolah.

Keluarga ingin mengetahui perkembangan penanganan kasus sekaligus menyampaikan keputusan korban untuk keluar dari sekolah.

Pada saat yang sama, korban juga mengambil barang-barang miliknya yang masih berada di kamar boarding.

"Korban dan keluarga tanggal 8 September 2026 datang ke sekolah untuk bertemu kepala sekolah lagi, menanyakan perkembangan kasus, dan sekalian menginfokan bahwa korban memutuskan ingin keluar saja serta mengambil barang-barang korban di kamar boarding," tandas dia.

Terkait kasus ini, polisi juga belum bisa memberi penjelasan lebih. "Mohon waktu ya. Kami koordinasikan dulu dengan Satker yamg membidangi," kata Kasi Humas Polres Tangsel, Iptu Yuni, saat dihubungi, Jumat (25/9).

kumparan sudah menghubungi ICM untuk meminta konfirmasi terhadap dugaan tersebut tetapi belum mendapatkan respons. Tak hanya menghubungi via chat atau pun telepon, kumparan juga mendatangi sekolah ICM untuk meminta penjelasan.

Namun, hingga saat ini kumparan belum terima oleh pihak sekolah dan masih menunggu di depan gerbang.