Keluarga Ungkap Kronologi Hilangnya Firdaus, Jemaah Haji RI di Makkah
·waktu baca 5 menit

Jemaah haji asal Indonesia, Muhammad Firdaus, dilaporkan hilang di Makkah saat menjalankan rangkaian ibadah haji. Kabar hilangnya pria berusia 73 tahun itu disampaikan pihak keluarga setelah ia diduga meninggalkan hotel tempatnya menginap dan hingga kini belum ditemukan.
Anak Muhammad Firdaus, Nurul Fadila, menceritakan kronologi hilangnya sang ayah. Menurutnya, sebelum keberangkatan kondisi ayahnya dalam keadaan sehat meski sebelumnya memiliki riwayat penyakit.
Berikut kronologi peristiwa hilangnya Muhammad Firdaus berdasarkan penuturan keluarga:
13 Mei: Berangkat dari Rumah, Kondisi Sehat
Nurul mengatakan ayahnya berangkat dari rumah menuju titik pelepasan jemaah pada Rabu pagi sekitar pukul 05.30 WIB. Setelah pelepasan di Masjid Imam Bonjol, Muhammad Firdaus kemudian menuju asrama haji.
"Iya, jadi hari berangkat itu beliau hari Rabu. Dari rumah itu kita berangkat jam setengah 6, lalu menuju ke Imam Bonjol, Masjid Imam Bonjol, di sana pelepasannya jam 7 pagi," kata Nurul saat diwawancarai, Kamis (21/5).
Menurutnya, saat itu tidak ada tanda-tanda gangguan kesehatan.
“Bapak sehat, alhamdulillah sehat,” ujarnya.
Namun saat berada di asrama haji, ketua rombongan mengabarkan ke keluarga, Firdaus mendadak sakit dan harus menjalani perawatan di rumah sakit sehingga belum ada pengganti resmi yang ditunjuk.
"Nah lalu kita dapat kabar di pas di asrama haji ternyata ketua rombongan hajinya sakit, qodarullah banget itu, tidak bisa berangkat hari itu harus dibawa ke Rumah Sakit Harapan Kita. Jadi sebenarnya waktu bapak berangkat itu pengganti ketua rombongan itu belum ada secara resmi diumumkan ya," ucap dia.
14 Mei: Mulai Alami Gangguan Saat di Pesawat dan Tiba di Jeddah
Nurul mengaku mendapatkan informasi dari rekan-rekan ayahnya soal kondisi Muhammad Firdaus mulai berubah saat penerbangan menuju Arab Saudi.
"Di pesawat ini saya dapat kabar dari teman-temannya Abah itu dia udah mulai tidak sehat," katanya.
Ia menjelaskan ayahnya memiliki riwayat infark cerebri atau gejala pra-demensia pada 2021, meski selama beberapa tahun terakhir kondisinya dinyatakan membaik.
"Katanya dia udah nggak mengerti kalau itu lagi di pesawat. 'Yuk kita turun, yuk kita keluar' bahasanya gitu," ujarnya.
Setibanya di Jeddah, keluarga masih sempat berkomunikasi dan mendapat kabar bahwa Muhammad Firdaus akan beristirahat sebelum melaksanakan umrah wajib.
"Dia nyampe di Jeddah tuh pagi. Nah itu dia sempat telepon udah nyampe di Jeddah gitu kan. Nah itu yang dari sisi aku teleponnya ke ibu gitu, ibu yang telepon angkat. Ya udah alhamdulillah nanti sampai di Jeddah katanya istirahat sebentar habis itu langsung umrah wajib ke Makkah gitu istirahat dulu sebentar di hotel," kata Nurul.
Malam 14 Mei-15 Mei Dini Hari: Terpisah dari Rombongan Saat Umrah
Saat menjalani umrah wajib di Makkah, Muhammad Firdaus dan istrinya terpisah dari rombongan laki-laki dan perempuan.
Dalam proses ibadah tersebut, Muhammad Firdaus disebut beberapa kali mencari istrinya.
"Katanya si Abah tuh nyari-nyariin si Jidah terus," kata Nurul.
Di tengah pelaksanaan tawaf, Muhammad Firdaus diketahui meninggalkan rombongan dan akhirnya ditemukan istrinya sedang duduk di area Sa'i.
"Nggak tahu katanya suruh nunggu tapi nggak datang-datang," kata Nurul menirukan ucapan ayahnya.
Keduanya kemudian menyelesaikan ibadah berdua menggunakan kursi roda sebelum kembali ke hotel pada sekitar pukul 07.00 pagi.
"Akhirnya lama juga tuh nunggu, itu dari malam mereka umrah dari malam tuh kalau nggak salah jam 10-an itu sampai jam 7 pagi mereka baru kelar pulang ke hotel," ujar dia.
15 Mei Pagi: Mulai Linglung dan Mengira Hotel sebagai Rumah Sakit
Sesampainya di hotel, Nurul sempat melakukan panggilan telepon dengan ayahnya sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Saat itu, Muhammad Firdaus mulai menunjukkan tanda kebingungan.
"Ini Abah lagi di mobil eh dia belok ke rumah sakit," kata Nurul menirukan ucapan ayahnya.
Padahal, saat dilakukan panggilan video, Muhammad Firdaus ternyata berada di kamar hotel.
"Abah, Abah itu di hotel itu bukan di rumah sakit," kata Nurul.
Muhammad Firdaus kemudian juga meminta dikirimkan BPJS, meski saat itu ia sudah berada di Arab Saudi.
"Enggak, enggak, tolong ya anterin BPJS Abah," ujarnya.
Keluarga menduga kondisi tersebut dipicu kelelahan akibat perjalanan panjang dan kurang istirahat.
"Tapi hari itu saya mikirnya dia belum tidur satu hari itu yang dari kecapekan. "Abah ya udah gini dulu Abah habis ini makan, habis makan langsung tidur" terang Nurul.
15 Mei Siang-Sore: Keluar Hotel dan Hilang
Sekitar pukul 09.00 waktu Saudi, Nurul kembali menghubungi ayahnya. Saat itu Muhammad Firdaus mengaku ingin mencari istrinya.
"Entar dulu Abah mau cari Jidah" katanya.
Setelah itu komunikasi terputus. Sekitar pukul 11.00 siang, telepon sudah tidak tersambung.
Sore harinya, sekitar pukul 16.00 waktu Saudi, istri Muhammad Firdaus mendatangi kamar suaminya dan mendapati ia sudah tidak ada.
Berdasarkan rekaman CCTV hotel, Muhammad Firdaus terlihat keluar hotel mengenakan baju koko putih dan sarung kotak-kotak cokelat gelap.
"Keluar hotel dia menggunakan baju koko putih lalu sarung," kata Nurul.
Ia juga disebut tidak membawa barang apa pun.
"[Kartu] Nusuk, ID card, HP, dompet semua ada di kamar tidak ada tapi Abahnya nggak ada," ujarnya.
Muhammad Firdaus disebut sempat menyalami petugas keamanan hotel sebelum berjalan ke arah kanan.
17 Mei: Laporan Pencarian Mulai Dipublikasikan
Keluarga kemudian melaporkan kehilangan tersebut kepada ketua rombongan, PPIH, hingga petugas perlindungan jemaah.
Nurul mengatakan laporan pencarian mulai dipublikasikan beberapa hari kemudian.
"Setelah itu ada keluar di Kawal Haji hari Minggu jam 5 sore," katanya.
Hingga hari ketujuh sejak dinyatakan hilang, keluarga mengaku belum mendapatkan perkembangan signifikan mengenai keberadaan Muhammad Firdaus.
Nurul berharap proses pelacakan dapat diperluas melalui rekaman CCTV dan teknologi pendukung lainnya.
"Ini udah 7 hari bapak saya juga kakinya jalannya susah sakit jadi harusnya dia nggak bakal jalan jauh,” ujarnya.
Muhammad Firdaus diketahui telah menunggu selama 14 tahun untuk menunaikan ibadah haji. Menurut Nurul, semangat ayahnya untuk berangkat ke Tanah Suci sangat besar.
"Dia dari 2012 dan ini dia bersemangat banget dia kalau manasik itu nggak pernah yang namanya mau libur," tuturnya.
