Keluarga Wartawan yang Hilang Gelar Doa Bersama: Kita Tak Bisa Lawan Takdir

Rumah orang tua Yudhistiro Pranoto di Kompleks LKBN Antara, Bintara, Kota Bekasi, Rabu (16/9) siang, dipenuhi suasana haru. Doa-doa dipanjatkan, sementara isak tangis sesekali pecah dari keluarga yang hingga kini masih menanti kabar keberadaan Yudhistiro.
Di rumah tersebut, keluarga bersama sejumlah rekan sesama jurnalis dan perwakilan kantor tempat Yudhistiro bekerja menggelar doa bersama. Mereka mendoakan keselamatan Yudhistiro dan empat jurnalis lainnya yang dilaporkan hilang kontak saat melakukan peliputan erupsi Anak Gunung Krakatau di kawasan Selat Sunda.
Bagi keluarga, doa menjadi pegangan di tengah ketidakpastian. Tidak banyak yang dapat dilakukan selain menunggu kabar dari tim SAR gabungan yang masih melakukan pencarian.
Kakak Yudhistiro, Fera Hadiyanti, mengatakan keluarga berusaha menerima apa pun yang menjadi ketetapan Tuhan. Namun, di balik keikhlasan tersebut, harapan agar Yudhistiro ditemukan dalam keadaan selamat masih tetap ada.
“Kita tidak bisa melawan takdir Allah. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa. Kalau memang bisa diselamatkan, syukur alhamdulillah. Kalau pun tidak, kami keluarga ikhlas,” ujar Fera.
Keluarga juga menyerahkan proses pencarian sepenuhnya kepada tim yang bekerja di lapangan. Kondisi di lokasi membuat keluarga mempertimbangkan kembali rencana untuk datang langsung ke kawasan pencarian.
Sebelum berangkat meliput, Yudhistiro tidak sempat menyampaikan pesan khusus kepada keluarganya. Seperti kebiasaannya selama ini, ia lebih dahulu berkomunikasi dengan sang istri. Kepada keluarga, Yudhistiro biasanya baru memberi kabar setelah tiba di lokasi.
“Kalau izin, biasanya sama istrinya. Kalau ke mama, tidak. Seperti biasa saja. Mau kerja atau ke mana pun, biasanya setelah sampai baru bilang, ‘Saya ada di sini.’ Tidak ada firasat atau pesan-pesan apa pun,” kata Fera.
Sosok Pekerja Keras
Bagi keluarga, dunia jurnalistik telah menjadi bagian dari kehidupan Yudhistiro. Ia dikenal sebagai sosok yang bekerja keras dan memiliki kecintaan besar terhadap profesinya, terutama fotografi.
Fera menggambarkan adiknya sebagai pribadi yang total ketika menjalankan pekerjaan sekaligus menekuni hobinya.
“Dia memang jiwa jurnalis banget. Kalau saya bilang, dia itu petarung, orangnya nekat. Dari dulu sudah punya jiwa jurnalis. Kalau sudah hobi jadi fotografer, dia totalitas. Apa pun yang terjadi, demi pekerjaan dan hobinya,” tuturnya.
Yudhistiro merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga. Pengalamannya meliput berbagai wilayah dengan tantangan tinggi juga bukan sesuatu yang baru.
Karena itu, keluarga selama ini memahami risiko pekerjaan yang dijalaninya. Namun, kabar hilang kontak kali ini tetap menjadi pukulan berat bagi seluruh keluarga.
Kenangan Terakhir
Bagi sang ibu, Juliasih, kenangan terakhir bersama Yudhistiro justru berlangsung dalam suasana sederhana. Sekitar sepekan sebelum kabar hilang kontak tersebut, Yudhistiro sempat datang ke makam ayahnya bersama anaknya, Kenzi.
Ia kemudian menelepon sang ibu dan memberi tahu bahwa dirinya sedang berada di makam untuk menengok ayahnya. Yudhistiro juga sempat merapikan makam tersebut.
“Sebulan sekali dia biasanya ke rumah. Terakhir komunikasi dia lagi ke makam bapaknya. Karena saya tahu kesibukannya, kami maklum. Paling nanti sekadar telepon atau WhatsApp,” ujar Juliasih.
Tak pernah terlintas dalam benak Juliasih bahwa percakapan sederhana itu akan menjadi salah satu kenangan terakhirnya bersama sang anak.
Kabar hilangnya Yudhistiro justru diterima Juliasih saat sedang menjalankan ibadah. Ketika melihat ponselnya, ia menemukan informasi yang memuat nama Yudhistiro.
“Saya sedang salat Magrib. Biasanya bacaan saya taruh dulu. Tiba-tiba saya lihat HP, ada nama Yudhistiro. Terus saya cari tahu di media dan TV. Saya tidak kuat. Terus saya telepon kakaknya,” tutur Juliasih.
Sejak saat itu, penantian menjadi bagian dari keseharian keluarga. Setiap informasi mengenai pencarian menjadi harapan sekaligus sumber kecemasan.
Di tengah suasana duka dan ketidakpastian, keluarga berusaha tetap kuat. Mereka mengatakan telah mencoba mengikhlaskan apa pun yang terjadi, tetapi doa agar Yudhistiro kembali dalam keadaan selamat tidak pernah berhenti.
Sebelumnya, lima jurnalis dilaporkan hilang kontak di Selat Sunda ketika melakukan peliputan erupsi Anak Gunung Krakatau di wilayah Banten. Selain lima jurnalis tersebut, tiga kru kapal juga dilaporkan hilang.
Hingga Rabu (16/9), pencarian terhadap para korban masih dilakukan oleh tim SAR gabungan.
Bagi keluarga Yudhistiro, setiap doa yang dipanjatkan bukan sekadar ritual. Doa menjadi cara untuk menjaga harapan tetap hidup, sembari menunggu satu kabar yang paling mereka nantikan: Yudhistiro ditemukan dan dapat kembali ke rumah.
