Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Penasihat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aunur Rofiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perikemanusiaan dalam Islam bukanlah sekadar konsep humanisme sekuler, melainkan bagian integral dari ajaran agama yang berakar pada ketauhidan (Humanitarian Islam). Islam menempatkan manusia sebagai makhluk mulia yang harus dihormati harkat dan martabatnya, tanpa memandang suku, bangsa, atau agama.
Berikut ini adalah poin-poin utama perikemanusiaan dalam perspektif Islam.
1. Dasar Filosofis Memuliakan Manusia (Karamah Insaniyah)
a. Makhluk Terunggul. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk tertinggi yang diciptakan Tuhan, sehingga nilai-nilai kemanusiaan mencerminkan penghormatan terhadap ciptaan-Nya.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai makhluk terunggul beserta dalilnya.
Manusia Makhluk Paling Sempurna
Manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik dan sempurna dibandingkan makhluk lainnya (malaikat, jin, hewan).
Dalil (QS. At-Tin ayat 4,” Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
Dasar Keunggulan Manusia
Keunggulan manusia bukan hanya fisik, melainkan potensi untuk menjadi mulia karena takwa dan berilmu.
Diberi Akal dan Ilmu: Manusia mampu mengenali Allah dan mengelola bumi.
Diberi Nafsu: Dengan nafsu, manusia berjuang melawan keburukan, yang membuat derajat mereka bisa lebih tinggi dari malaikat.
Khalifah di Bumi: Manusia diberi amanah untuk memakmurkan bumi.
Puncak Kemuliaan (Insan Kamil)
Dalam pandangan sufistik, puncak keunggulan manusia adalah Insan Kamil (manusia sempurna) yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. yang menjadi cermin tajalli (penampakan) sifat-sifat Allah yang paling sempurna.
b.Persaudaraan Kemanusiaan. Berdasarkan QS. Al-Hujurat: 13, manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal (lita'arafu), bukan saling memusuhi.
c. Persamaan Derajat. Tidak ada perbedaan rasial atau kesukuan yang membuat satu manusia lebih mulia dari yang lain; yang membedakan hanyalah ketakwaannya.
2. Implementasi Kemanusiaan dalam Islam
Menjunjung Nilai Keadilan. Kemanusiaan dalam Islam berjalan beriringan dengan keadilan (perikeadilan), yang menjadi visi peradaban global.
Perlindungan Hak Asasi: Islam menjamin perlindungan terhadap hak hidup, harta benda, martabat, dan kebebasan beragama.
Respons Kemanusiaan: Islam mendorong aksi nyata dalam merespons bencana, kemiskinan, dan konflik melalui lembaga-lembaga kemanusiaan berbasis keagamaan.
Respons kemanusiaan bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian integral dari iman dan bentuk nyata pengamalan ajaran agama (teologi aksi). Islam sangat mendorong umatnya untuk memberikan bantuan dalam situasi bencana, kemiskinan, dan konflik melalui lembaga kemanusiaan berbasis keagamaan.
Etika Perang: Bahkan dalam situasi perang, Islam melarang membunuh wanita, anak-anak, orang tua, serta merusak lingkungan dan tempat ibadah.
Berikut ini adalah dalil-dalil terkait etika perang dalam Islam:
Larangan Membunuh Wanita, Anak-anak, dan Orang Tua.
Rasulullah SAW secara tegas melarang membunuh non-kombatan.
Hadis Riwayat Muslim (No. 1744):"Rasulullah SAW melarang membunuh wanita dan anak-anak dalam perang".
Larangan Merusak Lingkungan dan Tempat Ibadah
Islam melarang tindakan melampaui batas, termasuk merusak ekosistem dan tempat ibadah musuh.
Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 190,” Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) jangan melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.".
Tafsir: Para mufassir (seperti Ibnu Katsir) menjelaskan bahwa melampaui batas termasuk membunuh mereka yang tidak ikut berperang dan merusak alam.
Larangan Memutilasi Mayat
Selain larangan membunuh, Islam juga melarang perlakuan keji terhadap musuh yang sudah tewas.
Hadis Riwayat Bukhari (No. 2342):"Nabi SAW melarang perampasan dan memutilasi (mayat musuh).".
Prinsip-prinsip ini menunjukkan bahwa perang dalam Islam bertujuan untuk menegakkan keadilan dan mempertahankan diri, bukan untuk merusak atau menindas.
3. Aspek Humanisme-Religius
Perikemanusiaan Islam bersumber dari hubungan manusia dengan Tuhan (hablun minallah) yang diwujudkan dalam hubungan sesama manusia (hablun minannas). Konsep ini sering disebut sebagai Humanitarian Islam atau Islam Ramah, yang menekankan kasih sayang dan perdamaian.
Secara ringkas, perikemanusiaan menurut Islam adalah memanusiakan manusia (humanisasi) demi mencapai kemuliaan di sisi Allah SWT (religiusitas).
Adapun adil dan beradab menurut Islam adalah: menempatkan segala sesuatu pada tempatnya secara proporsional (Al-'Adl) dan bersikap mulia (Adab) berlandaskan tauhid. Ini mencakup menegakkan hak dan kewajiban secara seimbang kepada Allah, diri sendiri, dan orang lain tanpa zhalim, serta berakhlak mulia, istiqomah, dan moderat.
Konsep Adil dan Beradab dalam Islam
Adil (Al-'Adl)
Bukan sekadar sama rata, tetapi menempatkan sesuatu sesuai porsi, kadar, dan waktunya. Ini mencakup keadilan kepada diri sendiri (menjaga hak jiwa/raga) dan orang lain (tidak mendzalimi).
Adab
Bagian dari akhlak mulia yang menuntut manusia bertingkah laku baik, sesuai norma, dan menempatkan diri dengan tepat.
Landasan Utama
Didorong oleh iman dan takwa, serta prinsip persamaan (al-musawah), kebebasan (al-hurriyah), dan keadilan (al-adalah).
Pengamalan dan Contoh Adil-Beradab
a. Adil kepada Allah: Mentauhidkan-Nya (tidak menyekutukan) dan menjalankan perintah serta menjauhi larangan.
Adil kepada Allah SWT dalam perspektif Islam merupakan bentuk penghambaan yang tertinggi, yang diwujudkan melalui tauhid (mengesakan-Nya), ketaatan mutlak, dan kesadaran untuk tidak berbuat syirik. Keadilan ini berarti menempatkan Allah sebagai satu-satunya zat yang disembah, ditaati perintah-Nya, dan dijauhi larangan-Nya.
b. Adil kepada Sesama: Memberikan hak orang lain, berlaku adil meski terhadap orang yang dibenci, serta tidak zalim.
Dasar utama dalam Al-Quran mengenai kewajiban berlaku adil kepada sesama, memberikan hak orang lain, tidak berbuat zalim, dan tetap adil meskipun terhadap orang yang dibenci adalah Surah Al-Ma'idah ayat 8 dan Surah An-Nahl ayat 90.
Contoh Sikap Beradab: Mengambil jalan tengah/moderat (tidak berlebihan) dan beristiqomah.
Pentingnya Ilmu: Adab berakar dari pendidikan dan pemahaman ilmu yang benar, bukan sekadar budaya.
Penerapan adil dan beradab secara konsisten mencerminkan akhlak mulia yang menjaga martabat manusia. Oleh karena itu, kita semua hendaknya menjadi manusia yang adil dan beradab.
