Kemenkes Sebut Pekerjaan Rentan Terpapar Hantavirus: Petani-Pembersih Selokan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kementerian Kesehatan RI. Foto: Nawal Karimi/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Kementerian Kesehatan RI. Foto: Nawal Karimi/Shutterstock

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan adanya kelompok pekerja tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar Hantavirus, terutama yang memiliki aktivitas berkaitan langsung dengan lingkungan yang berpotensi menjadi habitat tikus.

Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan virus Hanta disebabkan oleh Orthohantavirus dari famili Hantaviridae dan ordo Bunyavirales.

“Virus Hanta ini disebabkan oleh Orthohantavirus dari famili Hantaviridae dan ordo Bunyavirales. Dan terdapat 50 strain Orthohantavirus dan setidaknya 24 strain yang dapat menginfeksi manusia, ya,” jelas Andi dalam konferensi pers yang digelar daring, Senin (11/5).

Ia menambahkan, penularan antar manusia pada dasarnya sangat jarang terjadi, dan hanya pernah dilaporkan pada tipe HPS (Hanta Pulmonary Syndrome) di Amerika Selatan.

“Kemudian penularan antarmanusia jarang sekali terjadi, dilaporkan terbatas hanya pada tipe HPS di Amerika Selatan, itu pun dalam kontak intens dan berkepanjangan,” ungkapnya.

Ilustrasi Hantavirus. Foto: Mauro Rodrigues/Shutterstock

Menurutnya, risiko utama penularan justru berasal dari paparan lingkungan yang terkontaminasi tikus, terutama bagi pekerja dengan mobilitas tinggi di area tersebut.

“Dan faktor risikonya yakni pekerjaan yang berkaitan dengan kontak tikus ya, seperti petugas kebersihan, kemudian petani, kemudian pembersih selokan, ya, dan juga daerah sekitar tempat pembuangan sampah itu juga harus menjadi perhatian karena di situ banyak tikus ya,” jelas Andi.

Selain itu, risiko juga meningkat pada aktivitas di lokasi-lokasi tertentu seperti bangunan terbengkalai, ruang bawah tanah, hingga wilayah dengan populasi tikus tinggi. Kondisi banjir juga disebut dapat memperluas potensi paparan.

“Ya ini tadi gambarnya bagaimana pekerjaan yang berkaitan dengan kontak tikus, ya, petugas sampah kemudian petani dan lain sebagainya, juga dengan daerah yang tergenang banjir, juga aktivitas di area berisiko, ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama dan lain sebagainya,” katanya.

Andi juga mengingatkan masyarakat yang melakukan aktivitas luar ruang seperti berkemah agar tetap waspada terhadap keberadaan tikus di alam terbuka.

“Dan juga tentunya bahwa di daerah-daerah kita harus waspada, bahwa ketika kita berada di luar ruangan ya, berkemah contohnya dan itu biasanya juga ada tikus di daerah situ,” pungkas dia.