Kemhan Ungkap SPPI Tetap Digelar di 67 Satdik, Peserta Pakai Seragam Militer

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) berlatih PBB saat Pelatihan Dasar Kemiliteran calon manajer Koperasi Desa Merah Putih di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) berlatih PBB saat Pelatihan Dasar Kemiliteran calon manajer Koperasi Desa Merah Putih di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) tetap menjalani pendidikan di 67 satuan pendidikan (Satdik), meski kurikulum program telah diubah dari konsep Komponen Cadangan (Komcad) menjadi pendidikan bela negara.

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto mengatakan, perubahan hanya dilakukan pada materi pembelajaran, sedangkan lokasi pendidikan tetap menggunakan Satdik yang selama ini digunakan.

"Namun tempat pembelajaran, tempat pendidikan tetap di 67 Satdik tersebut. Cuma waktunya saja yang berubah," kata Donny di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7).

Menurut Donny, materi pelatihan kemiliteran seperti penggunaan senjata dan taktik militer telah dihapus. Sebagai gantinya, peserta akan menerima materi bela negara serta pelatihan manajerial.

Seorang peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) berlatih gunakan kompas saat mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih di Brigif 1 Marinir Cilandak, Jakarta, Kamis (25/6/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Durasi pendidikan bela negara juga dipersingkat menjadi dua pekan dari sebelumnya satu bulan saat kurikulum masih mengacu pada skema Komponen Cadangan. Setelah itu, peserta mengikuti pelatihan manajerial selama sekitar satu bulan sesuai bidang penugasan, seperti pengelolaan koperasi dan kampung nelayan.

"Dari segi waktu juga berkurang. Yang tadinya Komponen Cadangan selama satu bulan, ini bela negara kami perpendek menjadi dua minggu. Kemudian sisanya yang satu bulan itu adalah untuk pendidikan dan pelatihan manajerial," ujarnya.

Donny menjelaskan, materi yang tetap dipertahankan dalam pendidikan bela negara meliputi disiplin, kepemimpinan, kerja sama, koordinasi, integritas, dan ketepatan waktu. Nilai-nilai tersebut dinilai penting sebagai bekal peserta saat memimpin koperasi maupun menjalankan program pemerintah lainnya.

"Sehingga itulah pendidikan-pendidikan seperti disiplin dan segala macam itu paling tidak bisa kita ajarkan kepada mereka untuk berlatih disiplin waktu, kemudian kerja sama, koordinasi dan lain sebagainya," kata dia.

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2026). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Seragam Militer Tetap Dipakai

Donny juga memastikan peserta SPPI tetap mengenakan seragam militer meski materi pelatihan kemiliteran telah dihapus.

Menurut dia, keputusan tersebut diambil karena pertimbangan efisiensi anggaran.

"Ya nanti kalau kita ganti seragam nambah biaya lagi nanti. Ya tetap kita menggunakan seragam," kata Donny.

Sebelumnya, Kemhan merevisi kurikulum SPPI setelah lima peserta meninggal dunia selama mengikuti pendidikan. Kurikulum yang semula mengadopsi konsep Komponen Cadangan kini diubah menjadi pendidikan bela negara dengan menghapus seluruh materi penggunaan senjata dan taktik militer.