Kenali Milestone Anak, KKN UAD Bersama Posyandu Mangli Ajak Orang Tua Lebih Peka
Tulisan dari Intan Pramesty Eka Sudarno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mangli, Gunungkidul - Tumbuh kembang anak merupakan proses yang berlangsung secara bertahap dan melibatkan berbagai aspek dalam kehidupan anak. Pertumbuhan fisik memang menjadi salah satu indikator yang paling mudah diamati, seperti perubahan berat dan tinggi badan. Namun, perkembangan anak tidak berhenti pada ukuran tubuh. Kemampuan bergerak, berbicara, berinteraksi, mengelola emosi, berpikir, hingga memahami lingkungan juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sejak usia dini.
Permasalahan seperti speech delay, ADHD, autism, maupun keterlambatan pada aspek perkembangan tertentu menunjukkan bahwa pemantauan tumbuh kembang anak membutuhkan perhatian yang lebih menyeluruh. Dalam praktiknya, orang tua terkadang lebih berfokus pada kondisi fisik anak karena indikator tersebut lebih mudah terlihat dan secara rutin dipantau melalui kegiatan Posyandu. Padahal, perubahan kemampuan anak dalam berkomunikasi, menggunakan anggota tubuh, menyelesaikan persoalan sederhana, dan berinteraksi dengan lingkungan juga dapat menjadi gambaran penting mengenai proses perkembangannya.
Kesadaran tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa KKN Reguler 159 Unit IV.C.1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) untuk melaksanakan program “Peningkatan Pemahaman Orang Tua dan Kader Posyandu mengenai Tonggak Perkembangan Anak Usia 0–5 Tahun” pada Jumat (4/9/2026). Kegiatan dilaksanakan di Posyandu Balai Padukuhan Mangli, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, dengan melibatkan lebih dari 15 peserta yang terdiri atas ibu balita dan kader Posyandu.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mengajak orang tua mengenali lima aspek utama perkembangan anak, yaitu motorik kasar, motorik halus, bahasa dan komunikasi, sosial-emosional, serta kognitif. Motorik kasar berkaitan dengan kemampuan anak dalam melakukan gerakan tubuh, sedangkan motorik halus berkaitan dengan koordinasi tangan dan jari. Sementara itu, bahasa dan komunikasi dapat diamati melalui kemampuan anak memahami maupun menyampaikan sesuatu. Aspek sosial-emosional berkaitan dengan kemampuan anak berinteraksi dan mengekspresikan emosi, sedangkan aspek kognitif mencakup kemampuan belajar, mengingat, memperhatikan, serta memecahkan masalah sederhana.
Pemahaman mengenai kelima aspek tersebut diharapkan dapat membantu orang tua melihat perkembangan anak secara lebih utuh. Dengan demikian, kegiatan Posyandu tidak hanya menjadi ruang untuk mengetahui kondisi fisik anak, tetapi juga dapat menjadi momentum bagi orang tua untuk memperhatikan berbagai kemampuan yang berkembang dalam keseharian anak.
Penyampaian materi dalam kegiatan ini dibuat dekat dengan pengalaman orang tua. Alih-alih menggunakan pendekatan yang sepenuhnya teoritis, mahasiswa menghubungkan materi dengan aktivitas yang biasa dilakukan anak di rumah, seperti bermain, berbicara, menggunakan tangan, berinteraksi, dan belajar memahami lingkungan. Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang memberikan kesempatan kepada para ibu untuk menyampaikan pengalaman dan membicarakan perkembangan anak masing-masing.
Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena mahasiswa tidak berupaya menempatkan diri sebagai pihak yang paling mengetahui. Sosialisasi justru diarahkan sebagai ruang bertukar pengetahuan antara mahasiswa, orang tua, dan kader Posyandu. Saran yang diberikan diharapkan dapat diterapkan secara sederhana sesuai dengan kondisi setiap anak dan lingkungan keluarga. Dengan cara tersebut, pengetahuan mengenai tumbuh kembang tidak berhenti sebagai materi sosialisasi, tetapi dapat menjadi bagian dari pola pendampingan anak di rumah.
Mahasiswa juga menekankan bahwa kegiatan ini bukan merupakan proses diagnosis. Apabila orang tua menemukan adanya hal yang mengkhawatirkan dalam perkembangan anak, langkah yang tepat adalah berkonsultasi dengan kader Posyandu, bidan, puskesmas, atau tenaga kesehatan untuk memperoleh penilaian dan arahan yang sesuai.
Pada akhirnya, kepedulian terhadap tumbuh kembang anak dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Orang tua dapat lebih peka terhadap perubahan kemampuan anak, memberikan ruang untuk bermain dan belajar, serta memperhatikan perkembangan anak secara berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, KKN 159 Unit IV.C.1 UAD berharap pemahaman mengenai tumbuh kembang dapat terus dibawa dari Posyandu ke lingkungan keluarga. Dengan demikian, perhatian terhadap anak tidak hanya berorientasi pada seberapa besar tubuhnya bertumbuh, tetapi juga pada seberapa optimal kemampuan motorik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosionalnya berkembang.

