Konten dari Pengguna

Kenapa Mahasiswa Perlu Belajar Seni Berdiam Diri?

Muhamad Teguh Muchlisin

Muhamad Teguh Muchlisin

Mahasiwa Unpam Sistem Informasi 02SIFP006

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Teguh Muchlisin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay

Coba ingat kapan terakhir kali kamu benar-benar diam. Bukan diam sambil scrolling media sosial, bukan diam sambil mendengarkan musik, bukan diam sambil menunggu sesuatu. Diam yang sesungguhnya, tanpa suara, tanpa layar, tanpa gangguan apapun. Bagi sebagian besar mahasiswa, momen seperti itu mungkin terasa asing, bahkan tidak nyaman. Padahal, justru di dalam keheningan itulah banyak hal penting terjadi yang tidak bisa ditemukan di tempat lain manapun.

Dunia yang Tidak Pernah Sunyi

Kehidupan mahasiswa hari ini hampir tidak pernah benar-benar sunyi. Begitu mata terbuka di pagi hari, notifikasi sudah menunggu. Di perjalanan ke kampus, earphone sudah terpasang. Di sela kuliah, jempol sudah sibuk bergerak di layar. Bahkan sebelum tidur, mata masih menempel pada konten yang terus mengalir tanpa henti. Kebisingan tidak selalu berupa suara keras, bisa juga berupa informasi yang terus masuk, percakapan yang tidak berhenti, dan stimulasi digital yang tidak pernah jeda.

Ironisnya, semakin banyak akses terhadap informasi dan hiburan, semakin banyak mahasiswa yang justru merasa kosong, gelisah, dan sulit berkonsentrasi. Otak yang tidak pernah diberi kesempatan untuk beristirahat dari stimulasi akan semakin sulit untuk fokus, berpikir jernih, dan merasakan ketenangan yang sesungguhnya.

Apa Itu Seni Berdiam Diri?

Berdiam diri bukan berarti tidak melakukan apa-apa dalam arti yang negatif. Seni berdiam diri adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam keheningan, memberikan ruang bagi pikiran untuk mengendap, dan membiarkan diri beristirahat dari kebisingan luar maupun dalam. Ini bisa berupa duduk tenang selama beberapa menit tanpa gawai, berjalan pelan tanpa tujuan tertentu, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa melakukan hal lain bersamaan.

Dalam banyak tradisi kebijaksanaan dunia, keheningan dianggap sebagai sumber kekuatan, kejernihan, dan kreativitas. Bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan sesuatu yang perlu dicari dan dijaga.

Manfaat yang Jarang Disadari

Penelitian di bidang neurosains menunjukkan bahwa otak manusia justru sangat aktif selama momen keheningan. Saat tidak dibanjiri stimulasi dari luar, otak memasuki mode default network, yaitu kondisi di mana ia memproses pengalaman, mengkonsolidasi memori, memunculkan ide-ide baru, dan membantu seseorang memahami dirinya lebih dalam. Singkatnya, diam adalah saat di mana otak benar-benar bekerja untuk dirinya sendiri.

Bagi mahasiswa, manfaat ini sangat konkret. Berdiam diri secara teratur terbukti meningkatkan kemampuan fokus dan konsentrasi, mengurangi tingkat stres dan kecemasan, mempertajam kemampuan berpikir kritis, serta meningkatkan kreativitas. Banyak ide terbaik, solusi atas masalah yang berlarut-larut, dan keputusan penting justru muncul bukan di tengah kesibukan, melainkan di momen-momen tenang yang sengaja diciptakan.

Kenapa Diam Terasa Tidak Nyaman?

Jika diam begitu bermanfaat, kenapa banyak orang justru menghindarinya? Jawabannya sederhana namun tidak nyaman untuk diakui: karena diam memaksa seseorang untuk berhadapan dengan dirinya sendiri. Tanpa distraksi dari luar, pikiran-pikiran yang selama ini ditekan akan mulai muncul ke permukaan. Kekhawatiran, pertanyaan yang belum terjawab, dan perasaan yang belum diolah tiba-tiba menjadi terdengar lebih keras.

Banyak mahasiswa yang tanpa sadar menggunakan kebisingan dan kesibukan sebagai pelarian dari pikiran dan perasaan yang tidak nyaman tersebut. Terus-menerus sibuk terasa lebih aman daripada berhenti dan menghadapi apa yang ada di dalam. Padahal, menghindari keheningan sama artinya dengan menghindari diri sendiri, dan itu adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar dalam jangka panjang.

Memulai dari yang Kecil

Belajar berdiam diri tidak harus dramatis atau spiritual. Tidak perlu retreat meditasi berhari-hari atau pergi ke tempat terpencil. Cukup mulai dari momen kecil yang disengaja setiap harinya. Lima menit di pagi hari sebelum membuka ponsel. Makan siang tanpa scrolling. Perjalanan pulang kampus tanpa earphone sesekali. Duduk sejenak di taman kampus tanpa melakukan apa-apa selain memperhatikan sekitar.

Kuncinya adalah konsistensi dan kesengajaan. Diam yang bermanfaat bukan diam yang terjadi karena tidak ada hal lain untuk dilakukan, melainkan diam yang dipilih secara sadar sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.