Konten dari Pengguna

Kenapa Tambang Hanya Milik Segelintir Orang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asmiati Malik PhD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

video youtube embed

Untuk membuka tambang, uang harus keluar lebih dulu. Alat berat, jalan, perizinan, gaji ratusan pekerja, semuanya dibayar sebelum satu ton bijih terangkat. Yang tidak punya uang sebanyak itu pergi ke bank. Di bank ia ditanya agunannya apa? dan proyek sebesar apa yang pernah ia selesaikan? Kalau jawabannya kurang meyakinkan, urusannya selesai di situ.

Tidak ada yang jahat dalam proses itu. Bank hanya sedang menjalankan pekerjaannya. Tetapi menurut Asmiati Malik, dalam obrolan di kanal Menyala Media, penolakan-penolakan rutin semacam itulah yang menerangkan peta pertambangan Indonesia, lebih realis daripada banyak cerita soal persekongkolan elite. Pemain tambang sedikit karena ongkos masuknya besar. Yang bertahan adalah mereka yang sejak awal punya likuiditas, alat, dan hubungan dengan perbankan.

Hal yang sama berlaku untuk energi secara keseluruhan, hanya dengan angka yang jauh lebih besar. Ini industri padat modal. Mengubah bauran energi menuntut investasi raksasa dan teknologi berskala besar, dan itu sebabnya pola konsumsi energi nasional praktis tidak bergerak selama lima tahun terakhir. Batu bara menopang pembangkit listrik. Minyak dan gas menggerakkan kendaraan. Transisi energi tidak bisa diumumkan lalu berlaku tahun depan.

Persoalannya bergeser. Bukan lagi siapa yang punya modal, melainkan siapa yang menentukan arah transisi energi. Indonesia berada di Cincin Api dengan panas bumi yang hampir tak terbatas dan sinar matahari sepanjang tahun. Namun limpahan potensi itu tidak cukup. Kesadaran publik yang meningkat tidak serta-merta mengubahnya menjadi listrik. Perubahan hanya terjadi ketika pemilik modal besar mulai mengalihkan portofolionya dari fosil ke energi bersih. Selama mereka tidak melihat insentif, potensi itu tetap tinggal potensi.

Kita tahu tidak ada cara menambang tanpa merusak. Nikel dan batu bara sama saja. Biaya pemulihan lingkungan mahal. Tambang nikel di pesisir membuang limbah ke laut. Ekosistem pantai yang menanggung akibatnya. Pembangunan memang tidak pernah hadir dalam wujud yang bersih. Yang bisa dituntut adalah kejujuran dalam menghitung besaran biaya. Kerusakan sebesar itu hanya bisa dibenarkan jika nilai tambahnya besar, pengelolaannya transparan, dan hasilnya dinikmati masyarakat luas.

Hitungan yang jujur soal kerusakan dari tambang

Pertanyaan sebenarnya bukan menambang atau tidak, tetapi keuntungannya dinikmati siapa saja?.

Soal kendaraan listrik, ia menyarankan Indonesia berhenti bermimpi terlalu jauh. Tiongkok sudah memegang seperempat sampai sepertiga rantai pasok dunia. Melawan itu dengan memproduksi mobil listrik utuh buatan sendiri adalah pertarungan yang salah pilih. Dengan cadangan nikel terbesar di dunia, posisi yang masuk akal adalah menjadi pemasok utama sel baterai. Tidak seksi, memang. Tidak ada gunting pita untuk peluncuran sel baterai.

Di sisi pengguna, transisi juga ada ongkosnya, dan ongkos itu jarang dibicarakan. Mempercepat mandatori campuran bahan bakar nabati bisa memicu guncangan pasar. Mesin kendaraan lama berisiko tidak kompatibel, dan biaya penyesuaiannya ditanggung pemilik kendaraan. Sementara itu sebagian dari yang dijual sebagai inovasi sebetulnya hanya kemasan: angka oktan dinaikkan sedikit, namanya diganti, iklannya dibuat. Pola konsumsinya tidak berubah sama sekali. Padahal di situlah ukuran inovasi energi yang sesungguhnya.

Kebijakan energi juga tidak bisa disusun seolah dunia sedang tenang. Perang Rusia-Ukraina belum selesai, Timur Tengah masih bergolak, Sudan dilanda perang saudara, dan ketegangan Amerika-Tiongkok soal dagang maupun Taiwan terus membayang. Satu eskalasi di kawasan produsen minyak cukup untuk melambungkan harga, dan APBN yang menanggung lewat subsidi.

Dari situ muncul usulannya yang paling praktis. Tiongkok membangun fasilitas penyimpanan strategis: memborong saat harga murah, menyimpannya untuk dipakai ketika pasokan terganggu. Indonesia lebih terbiasa memakai cadangannya sampai habis, lalu membeli mahal saat krisis datang.

Ada satu tarik-menarik lagi yang belum diselesaikan siapa pun. Minyak sawit yang masuk ke tangki bahan bakar adalah minyak sawit yang tidak sampai ke dapur. Belum ada yang mau menjawab siapa yang mengalah kalau pasokannya berebut.

Transisi energi biasanya dibicarakan dengan bahasa niat: komitmen, kesadaran, tanggung jawab. Pembacaan Asmiati memindahkannya ke ruangan yang jauh lebih membosankan, yaitu ruang rapat kredit. Di sanalah keputusannya diambil, dan di sana pula ia paling sering tidak diambil.