Konten dari Pengguna

Kerja Keras Nggak Cukup untuk Bisa Pensiun Sejahtera

Syarif Yunus

Syarif Yunusverified-green

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di dunia kerja, setiap karyawan selalu diajarin satu hal. “Kerja aja yang rajin, nanti pasti dihargai kantor kok”. Doktrin itu dianut sebagian besar atasan dan HRD. Makanya, karyawan yang fanatik alias “kena” doktrin itu, sampai sekarang selalu datang paling pagi, paling cekatan di kantor, paling jarang menolak kerjaan bahkan pulnganya pun paling malam. Jadilah karyawan yang berdedikasi.

Tapi salah seoarang kawan saya, belakangan bbaru sadar. Dia tanya, “kok gue kerja udah paling rajin, paling malam pulangnya tapi begini-begini aja ya” katanya.

Sambil tersenyum, saya kasih tahu kawan itu. “Begini bro, kerja paling rajin itu belum tentu bikin posisi elo di kantor ikut naik. Pulang kerja paling malam bukan berarti gaji paling gede. Kerja ya ikut jobdes aja” jawab saya.

Mungkin, kita pernah lihat orang kerja kayak kawan saya. Paling rajin, paling cekatan dan paling rapi urusan kerjaan. Tia pada kerjaan yang belum selesai, dia paling duluan turun tangan. Sangat membantu sekali. Bahkan sering bantu atasi kerjaan orang lain juga. Tapi anehnya, tiap ada promosi di kantor, namanya jarang masuk hitungan. Seolah sistem kantor nyaman banget memakai dia sebatas pekerja yang rajin.

Saya pun kasih tahu ke kawan tadi, Jadi, kalau elo begitu terus kerja dan posisinya begitu-begitu aja, sangat mungkin elo bakal capek sendiri. Karena dari sudut pandang elo, semua kerjaan sudah dilakukan dengan benar. Loyal, dedikasi, rajin, kerja sama, dan tanggung jawab. Cuma akhirnya elo bingung sendiri nantinya. Penghargaan dan hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan effort yang kita keluarkan setiap hari di kantor. Jadi, banyak karyawan burnout ya karena kayak gitu-gitu di kantor.

Kerja yang rajin sih nggak ada yang salah, bagus banget malah. Kalau karier gitu-gitu aja bukan karena kita kurang bagus kerjanya. Tapi karena kita terlalu fokus jadi “orang rajin di kantor”. Sampai lupa bangun value dan posisi tawar di kantor. Kita cuma sibuk nunjukin ke atasan kalau kita ini rajin dan bisa kerja keras. Tapi nggak pernah bikin sistem di kantor sadar, “kenapa kita layak dianggap penting dan dihargai?”.

Dan akhirnya, kerja model begitu justru makin bahaya. Karena orang mulai menganggap kerja keras kerja rajin itu hal biasa. Beban kerja makin bertambah, ekspektasi atasan makin tinggi tapi posisi kita tetap segitu-gitu saja. Kita capek terus, sementara orang lain mulai naik. Karena orang lain paham “cara main” yang beda di kantor. Sementara si rajin si pekerja keras ya tetap saja datang paling pagi pulang paling malam.

kerja palinr rajin apa cukup?

Banyak orang lupa, effort memang penting di dunia kerja. Tapi effort tanpa positioning cuma bikin kita jadi “karyawan andalan” di kantor, bukan karyawan yang “diprioritaskan” untuk punya karier berkembang atau naik. Makanya di kantor-kantor itu, ada karyawan yang kelihatannya Santai. Tapi lebih cepat naik, lebih cepat berkembang. Coba deh dicek, siapa?

Faktanya, banyak karyawan yang rajin justru mentok di level worker. Kerja paling rajin bahkan kerja keras itu nggak cukup untuk menyelamatkan karier atau masa depan. Tapi kalau mau jadi pekerja rajin dan keras ya silakan sih dilanjut saja. Cuma besok-besok jangan kaget, beberapa tahun lagi kita masih jadi orang yang paling sibuk. Tapi bukan yang paling dianggap besar kontribusinya. Dan akhirnya, untuk bisa naik level terpaksa harus “cari muka” bukan bikin kerjaan lebih berdampak dan nail value-nya.

Dan yang paling memprihatinkan, buat apa dikenal kerja paling rajin paling loyal kalau akhirnya nggak bisa nabung di dana pensiun. Kerjanya pasti bisa puluhan tahun tapi hari tuanya nggak pasti. Bisa sehat dan Sejahtera nggak di masa pensiun? #YukSiapkanPensiun