Konten dari Pengguna

Kesabaran sebagai Perhitungan Politik: Membaca Anies Lewat Kalkulasi Matang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Asmiati Malik PhD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

video youtube embed

Ada momen dalam pertandingan sepak bola yang tampak seperti kelalaian. Seorang penyerang berjalan pelan di kotak penalti, tangan di pinggang, seolah pertandingan berlangsung tanpa dirinya. Bek lawan berhenti menaruh perhatian. Lalu ruang terbuka selebar dua langkah, dan dalam tiga detik bola sudah bersarang di gawang.

Erling Haaland membangun kariernya dari momen semacam itu. Dalam diskusinya di kanal *Menyala Media*, Asmiati Malik memakai gambaran tersebut untuk menjelaskan hal lain: cara Anies Baswedan berdiri di lapangan politik menuju 2029.

Politik Indonesia gemar membuat gaduh. Publik kerap terpukau oleh suara paling lantang. Namun bacaan Asmiati justru berbalik arah. Baginya, kemenangan bukan milik yang paling berani, melainkan yang paling cermat membaca ritme.

Urutan itu punya nama: political imaginary campaign. Kesadaran publik dibangun lebih dulu, taktik disimpan untuk dieksekusi di detik detik akhir permainan. Alasannya sederhana dan sering dilupakan tim kampanye. Pemilih bisa mengenal seorang kandidat tanpa berniat memilihnya. Kampanye yang meledak terlalu dini akan kehabisan napas - jauh sebelum garis akhir.

Tetapi setiap penyerang perlu tahu ke mana tribun menghadap. Di sinilah Asmiati menaruh keberatan terbesarnya. Anies bertumpu pada pemilih akademik, intelektual, dan religius. Sementara realitas demografi Indonesia berbeda. Data BPS tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10,2 persen penduduk usia 15 tahun ke atas yang memiliki ijazah perguruan tinggi. Lulusan SMA atau sederajat mendominasi dengan angka 34,12 persen. Jika ditambah dengan lulusan SMP, SD, dan mereka yang tidak tamat SD, maka sekitar 86,8 persen penduduk Indonesia berpendidikan menengah ke bawah. Citra intelektual, katanya, butuh tahapan panjang sebelum berubah menjadi suara. Bahasa yang memukau ruang seminar tidak otomatis bekerja di pasar.

Ia tidak lantas meremehkan basis itu. Sebaliknya, ia memperlakukannya sebagai aset yang belum digarap. Sekitar 40 juta suara pada kontestasi sebelumnya adalah modal besar, dan survei masih menempatkan Anies sebagai penantang paling kuat terhadap Prabowo.

Dari situ ia menarik hitungan yang jarang muncul dalam percakapan elektoral. sebagai perumpamaan: jika Indonesia punya lebih dari 300.000 dosen. Setiap dosen berdiri di depan ratusan mahasiswa. Setiap mahasiswa pulang ke sebuah keluarga. Tarik garis keterhubungan mulai dari ruang kuliah ke meja makan, dan sektor pendidikan berhenti menjadi sekadar ceruk pemilih terdidik. Ia berubah menjadi jaringan distribusi pesan yang sudah seperti sarang laba-laba. Asmiati menyebutnya hipotesis, dan memang begitu. Namun sebagai peta kerja, ia jauh lebih konkret ketimbang seruan "merangkul akar rumput".

Cerita yang sama menjelaskan sesuatu yang kerap dibaca sebagai kelemahan, yaitu diamnya Anies pada isu-isu sensitif. Asmiati membacanya sebagai penetapan harga risiko. Kandidat yang terlalu frontal bisa dikasuskan. Kalaupun tidak, isunya bisa ditenggelamkan, sementara ia tetap bergantung pada ruang media yang tidak ia kendalikan. Dalam kondisi seperti itu, diam adalah keputusan berbiaya rendah.

Yang perlu dikerjakan sekarang, katanya, adalah kapitalisasi isu. Pemerintah menyediakan cukup banyak celah. Pekerjaan oposisi adalah memilih celah yang tepat, bukan menyerbu semuanya sekaligus.

Sampai di titik ini kisahnya terdengar rapi. Asmiati sendiri yang kemudian menaruh syarat yang membuatnya jujur. Gelombang dukungan publik hanya separuh persoalan. Separuh lainnya berlangsung di ruang yang tidak bisa disurvei, yaitu percakapan di balik layar, kesepakatan politik, dan para penyandang dana yang pada suatu titik menghitung bahwa kebijakan penguasa tidak lagi menguntungkan mereka. Variabel yang paling menentukan justru yang paling tidak terlihat.

Di situlah metafora tadi berbalik. Haaland bisa berjalan santai karena ada sepuluh orang yang bekerja mengirim bola kepadanya. Kuda hitam menang bukan karena ia bersembunyi, melainkan karena seseorang memutuskan menungganginya. Pertanyaan yang ditinggalkan Asmiati Malik, dan belum dijawab siapa pun, adalah siapa di Jakarta yang bersedia melakukannya.