Kesal, Diremehkan Atasan di Kantor?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang kawan cerita, dia kesal. Karena di kantornya dipandang remeh oleh atasannya. Hingga akhirnya, kawan se-kerjaan pun ikut meremehkan. Dia merasa bingung, kok kantor yang seharusnya jadi tempat berkarya justru berubah jadi tempat yang menakutkan bagi karyawannya sendiri?
Mungkin patut jadi perhatian siapapun. Memang dari atas pohon, orang di bawah memang terlihat kecil. Tapi ketahuilah, yang di bawah pun melihat yang di atas pun sama. Kecil juga, bahkan bisa jadi tidak terlihat sedikit pun, karena terhalang daun yang sangat lebat.
Maka setinggi apa pun kedudukan kita, jangan pernah memandang kecil orang yang di bawah. Pangkat dan jabatan itu hanya titipan, tidak akan abadi. Dan dalam bekerja, kita sama-sama membutuhkan. Bahkan ketika kita tidak bisa turun dari pohon, orang di bawahlah yang pasti membantu kita.
Tidak boleh memandang remeh orang lain karena setiap manusia punya proses hidup, kemampuan, dan perjuangan yang tidak selalu terlihat dari luar. Hari ini seseorang mungkin terlihat biasa saja, belum berhasil, atau masih banyak kekurangan. Tetapi waktu bisa mengubah segalanya. Banyak orang yang dulu diremehkan justru tumbuh menjadi pribadi yang kuat, sukses, dan dihormati karena kerja keras serta ketekunannya. Saat kita merendahkan orang lain, sebenarnya kita sedang menunjukkan kesombongan diri sendiri.
Apalagi memandang remeh orang lain juga bisa melukai hati dan menghancurkan semangatnya. Kadang satu ucapan yang merendahkan bisa membuat seseorang kehilangan percaya diri dalam waktu lama. Padahal setiap orang ingin dihargai dan diperlakukan dengan baik. Sikap menghormati orang lain, meski sederhana, bisa menjadi sumber semangat dan kekuatan bagi mereka untuk terus berjuang dalam hidup. Apalagi di kantor, semuanya (atasan atau bawahan) sama-sama pengen mendapat gaji, lalu untuk merendahkan yang lain.
Ingat sahabat, hidup itu selalu berputar. Ada kalanya seseorang berada di atas, dan ada waktunya berada di bawah. Orang yang hari ini kita anggap lemah belum tentu selamanya lemah. Begitu juga kita, tidak selamanya akan selalu kuat atau berhasil. Karena itu, menjaga sikap rendah hati jauh lebih baik daripada merasa diri paling hebat. Menghargai orang lain bukan membuat kita rendah, justru menunjukkan kedewasaan dan kebijaksanaan yang luar biasa.
Dalam kehidupan kerja, jangan pernah meremehkan rekan kerja hanya karena jabatan, pendidikan, atau penghasilannya berbeda. Bisa jadi orang yang terlihat sederhana justru paling tulus membantu, paling sabar menghadapi masalah, atau memiliki pengalaman hidup yang luar biasa. Lingkungan kerja yang saling menghargai akan menciptakan suasana yang lebih nyaman, kompak, dan penuh empati.
Setiap manusia memiliki nilai di hadapan Tuhan dan punya cerita hidup masing-masing. Kita tidak pernah benar-benar tahu beban apa yang sedang mereka pikul, doa apa yang sedang mereka perjuangkan, dan luka apa yang sedang mereka sembunyikan. Maka sebelum menilai rendah orang lain, lebih baik belajar menghormati, memahami, dan menjaga ucapan agar tidak menyakiti hati sesama.
Bila akhirnya direndahkan, maka jangan bersedih hati menjadi orang kecil. Jangan berkecil hati saat dipandang rendah. Jadikan ocehan atau cemoohan sebagai tempaan, untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. Sebab apa yang terpenting dari diri kita adalah nilai-nilai kebaikan dan manfaat untuk orang lain. Bila baik kita di mata orang lain, sungguh tidak akan pergi. Maka jadilah yang terbaik dari diri kita sendiri. #YukSiapkanPensiun
