Ketika AI Masuk Ruang Kendali
Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada teknologi yang datang untuk membantu manusia bekerja lebih cepat. Ada pula teknologi yang perlahan mulai memengaruhi cara manusia mengambil keputusan.
Kecerdasan artifisial atau AI berada di antara keduanya, menawarkan produktivitas, efisiensi, dan inovasi sekaligus membawa risiko baru yang tidak boleh diabaikan. Ketika teknologi ini mulai masuk ke ruang kerja bank sentral dan sektor keuangan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan bagaimana memastikan ia digunakan dengan benar.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan transformasi digital yang semakin cepat, para Gubernur bank sentral Asia Pasifik yang tergabung dalam Executive Meeting of East Asia-Pacific Central Banks (EMEAP) sepakat memperkuat tata kelola adopsi AI.
Dalam pertemuan EMEAP di Singapura pada 23–24 Juli 2026, para Gubernur melihat AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan kinerja bank sentral, tetapi juga dapat menghadirkan risiko terhadap perekonomian dan stabilitas sistem keuangan. Karena itu, kecepatan beradaptasi harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengawasi dan mengendalikan risiko.
Bank Indonesia sendiri memandang adopsi AI sebagai proses yang perlu dibangun secara bertahap. Penguatan kualitas data dan metadata, tata kelola, kapabilitas sumber daya manusia, serta pengembangan inovasi menjadi bagian penting, dengan tetap menjaga kedaulatan data dan infrastruktur strategis. Sebab AI yang canggih tetap membutuhkan fondasi yang kuat: data yang berkualitas, manusia yang mampu menggunakannya, dan tata kelola yang memastikan teknologi bekerja pada jalurnya.
Urgensinya semakin besar karena risiko AI tidak berhenti pada satu institusi. Ketergantungan pada penyedia teknologi dan komputasi awan (cloud) dapat menciptakan kerentanan baru, sementara keterkaitan antarlembaga keuangan membuat sebuah gangguan dapat merambat melampaui batas organisasi bahkan lintas negara.
Risiko AI Mengintai
Risiko siber dan digital fraud and scams juga semakin bersifat lintas batas, sehingga pengawasan tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Semakin terhubung sistem keuangan, semakin penting pula setiap negara memiliki cara yang selaras untuk menjaga ketahanannya.
Karena itu, para Gubernur Bank Sentral EMEAP sepakat memperkuat kolaborasi regional untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam tata kelola AI, ketahanan siber, serta penanganan penipuan digital. Kolaborasi tersebut menjadi penting karena perkembangan teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada batas geografis.
Menariknya, pada 2027 Bank Indonesia akan memimpin pertemuan EMEAP ke-32, memberikan ruang bagi Indonesia untuk turut memperkuat agenda bersama kawasan dalam menghadapi transformasi digital.
Pada akhirnya, AI mungkin mampu membantu manusia bekerja lebih cepat, membaca data lebih luas, dan menemukan pola yang sebelumnya sulit terlihat. Namun teknologi tidak pernah berdiri sendiri karena selalu membutuhkan manusia, proses, dan aturan yang memastikan kekuatannya digunakan secara bertanggung jawab.
AI boleh semakin pintar, tetapi tata kelola harus tetap lebih bijaksana. Sebab ketika teknologi mulai masuk ke ruang kendali, yang paling penting bukan hanya seberapa cepat mesin dapat bergerak, tetapi siapa yang memegang kendali dan memastikan perjalanan tetap menuju arah yang benar.

