Ketika Anak SD Kehilangan Ruang untuk Bercerita

Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Katolik Santo Thomas Medan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Esmiralda Br Manurung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik riuhnya suasana sekolah dasar, tidak semua anak datang hanya untuk belajar membaca, berhitung, atau menulis. Ada yang membawa kecemasan, rasa takut, konflik dengan teman, masalah keluarga, hingga kebingungan memahami dirinya sendiri. Sayangnya, tidak semua anak memiliki tempat yang aman untuk menyampaikan cerita-cerita tersebut. Ketika ruang untuk bercerita semakin sempit, persoalan kecil yang dialami anak dapat berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Selama melaksanakan pengamatan di SD Negeri 060971 Kemenangan Tani, saya melihat bahwa guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar. Mereka juga menjadi tempat mengadu, penengah konflik antarsiswa, pemberi motivasi, bahkan pendengar bagi berbagai persoalan yang dihadapi peserta didik. Dalam satu hari, guru dapat berpindah peran dari pengajar menjadi konselor, meskipun tidak memiliki waktu dan tugas khusus untuk menjalankan fungsi tersebut.
Beberapa siswa terlihat lebih nyaman menyampaikan masalah kepada guru kelas dibandingkan kepada orang tua atau teman sebaya. Ada yang kesulitan bergaul, mudah marah, kehilangan semangat belajar, hingga mengalami pertengkaran dengan teman. Guru berusaha membantu dengan penuh perhatian, tetapi pendampingan yang diberikan sering kali terbatas oleh padatnya tanggung jawab mengajar dan administrasi sekolah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar semakin nyata. Selama ini masih berkembang anggapan bahwa layanan bimbingan dan konseling hanya diperlukan di jenjang SMP dan SMA. Padahal, usia sekolah dasar merupakan masa penting dalam pembentukan karakter, perkembangan sosial, pengendalian emosi, serta kebiasaan belajar. Berbagai persoalan yang muncul pada masa ini seharusnya mendapat pendampingan sejak dini.
Guru bimbingan dan konseling bukan hanya hadir ketika peserta didik melakukan pelanggaran tata tertib. Peran mereka jauh lebih luas, yaitu membantu anak mengenali potensi dirinya, membangun rasa percaya diri, mengembangkan kemampuan berkomunikasi, menyelesaikan konflik secara sehat, serta memberikan layanan pencegahan terhadap berbagai masalah perkembangan. Kehadiran guru BK seharusnya dipahami sebagai bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang peserta didik secara utuh.
Berdasarkan hasil pengamatan di sekolah, guru kelas telah berupaya memberikan perhatian kepada setiap peserta didik. Namun, banyaknya jumlah siswa dalam satu kelas membuat pendampingan individual tidak selalu dapat dilakukan secara optimal. Di sisi lain, setiap anak memiliki karakter, kebutuhan, dan permasalahan yang berbeda. Kondisi inilah yang memperlihatkan bahwa guru kelas tidak seharusnya memikul seluruh peran tersebut seorang diri.
Keberadaan guru BK di sekolah dasar juga dapat membantu membangun kerja sama antara sekolah, orang tua, dan peserta didik. Melalui layanan konseling, asesmen kebutuhan, maupun kegiatan pengembangan karakter, berbagai persoalan dapat dikenali lebih awal sehingga penanganannya menjadi lebih tepat. Dengan demikian, masalah belajar, hubungan sosial, maupun perkembangan emosional anak tidak dibiarkan berlarut-larut.
Sekolah yang ramah anak bukan hanya menyediakan ruang kelas yang nyaman atau fasilitas belajar yang memadai. Sekolah juga perlu menghadirkan ruang yang membuat setiap anak merasa didengar, dihargai, dan dipahami. Ketika anak memiliki kesempatan untuk bercerita tanpa rasa takut dihakimi, mereka akan lebih mudah membangun kepercayaan diri dan mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Sudah saatnya perhatian terhadap layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar semakin diperkuat. Kehadiran guru BK bukan untuk mengambil alih tugas guru kelas, melainkan menjadi mitra dalam mendampingi perkembangan peserta didik. Anak-anak membutuhkan seseorang yang memiliki waktu, kompetensi, dan pendekatan khusus untuk mendengarkan serta membantu mereka menemukan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi.
Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai akademik. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu membentuk anak menjadi pribadi yang sehat secara emosional, percaya diri, dan memiliki karakter yang baik. Semua itu berawal dari satu hal sederhana, yaitu memberi anak ruang untuk bercerita. Jangan sampai ruang itu hilang, sebab dari sanalah tumbuh rasa aman, harapan, dan masa depan mereka.
