Ketika Cinta kepada Nabi Tak Lagi Melahirkan Keteladanan
Tulisan dari Assoc Prof Dr KH M Ilyas Marwal, MM, DESA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah kehidupan beragama yang semakin ramai oleh simbol, slogan, dan ekspresi emosional, ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: apa yang terjadi ketika cinta kepada Nabi Muhammad SAW tidak lagi melahirkan keteladanan? Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi kemuliaan Nabi, melainkan untuk menguji sejauh mana kita memahami makna cinta kepada beliau. Sebab, cinta yang hanya berhenti pada pujian dan perayaan berisiko menjadi pengalaman emosional yang tidak mengubah perilaku. Kita mungkin semakin sering menyebut nama Nabi, tetapi belum tentu semakin jujur, amanah, santun, dan adil.
Dalam khazanah Islam, salah satu karya yang dapat membantu kita memahami persoalan ini adalah Al-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa karya Imam Qadhi Iyadh. Ulama besar mazhab Maliki yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan intelektual Maghrib-Andalus ini menyusun karya yang tidak sekadar memuji Nabi, tetapi juga menjelaskan kedudukan beliau, hak-hak beliau atas umat, serta konsekuensi dari kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW. Judul kitab itu sendiri mengandung pesan penting. Al-syifa berarti penyembuhan, sedangkan bi ta’rif huquq al-Musthafa berarti “dengan mengenalkan hak-hak Sang Terpilih”. Seolah-olah Qadhi Iyadh hendak mengingatkan bahwa salah satu penyakit umat adalah mengenal Nabi secara dangkal, sehingga penyembuhannya harus dimulai dengan mengenal beliau secara benar.
Dari sini kita menemukan sebuah hubungan yang mendasar: pengetahuan melahirkan cinta, cinta melahirkan penghormatan, dan penghormatan semestinya melahirkan keteladanan. Hubungan inilah yang membuat Al-Syifa tetap relevan dibaca ketika kehidupan beragama kita menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Dari Mengenal Menuju Mencintai
Bagi Qadhi Iyadh, hubungan seorang Muslim dengan Rasulullah SAW tidak cukup berhenti pada pengakuan bahwa beliau adalah utusan Allah. Hubungan itu harus tumbuh menjadi ma’rifah (mengenal), mahabbah (mencintai), ta’zhim (menghormati), dan ittiba’ (mengikuti). Keempatnya membentuk rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang tidak mungkin mencintai Nabi secara utuh tanpa berusaha mengenal beliau, dan cinta yang benar semestinya mendorong penghormatan serta keinginan untuk mengikuti keteladanan beliau.
Di sinilah Al-Syifa memiliki relevansi yang kuat bagi kehidupan umat Islam hari ini. Kita hidup pada masa ketika kecintaan kepada Nabi sering tampil sangat meriah di ruang publik. Shalawat bergema di banyak tempat, peringatan maulid berlangsung dalam skala besar, dan nama Rasulullah SAW disebut dengan penuh penghormatan. Semua itu baik dan merupakan bagian dari tradisi cinta kepada Nabi. Namun, cinta tidak boleh berhenti sebagai pengalaman emosional, sebab cinta yang tidak melahirkan perubahan perilaku akan kehilangan sebagian makna terdalamnya.
Qadhi Iyadh menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW harus tampak dalam ketaatan, penghormatan terhadap sunnah, kemuliaan akhlak, dan kesungguhan meneladani beliau. Dengan demikian, ukuran cinta bukan hanya seberapa sering seseorang menyebut nama Nabi, tetapi juga seberapa jauh sifat Nabi hadir dalam perilakunya. Apakah kita semakin jujur karena mencintai Nabi? Apakah kita semakin amanah, semakin lembut kepada keluarga, dan semakin adil kepada orang yang berbeda? Apakah lisan kita semakin terjaga dari fitnah, penghinaan, dan kebencian? Jika tidak, ada jarak antara ekspresi cinta dan substansi cinta yang perlu kita renungkan bersama.
Menghormati tanpa Mengultuskan
Pembicaraan tentang cinta kepada Nabi juga tidak dapat dilepaskan dari cara menempatkan beliau secara benar. Salah satu kekuatan Al-Syifa adalah kemampuannya menjaga keseimbangan. Qadhi Iyadh menempatkan Rasulullah SAW pada kedudukan yang sangat tinggi sebagai manusia pilihan Allah, tetapi tetap menegaskan bahwa beliau adalah hamba dan utusan-Nya. Dengan demikian, Islam mengajarkan penghormatan yang sangat tinggi kepada Nabi, tetapi tidak pernah mengubah beliau menjadi Tuhan.
Inilah keseimbangan teologis Sunni: ta’zhim bila ta’lih (penghormatan tanpa penuhanan), cinta tanpa berlebihan, dan keteladanan tanpa menghapus batas antara Sang Pencipta dan makhluk. Keseimbangan ini penting karena kehidupan beragama selalu menghadapi dua kemungkinan ekstrem. Di satu sisi, ada kecenderungan mengurangi kedudukan Nabi sehingga beliau dipandang sekadar tokoh sejarah. Di sisi lain, ada kecenderungan mencintai beliau secara berlebihan hingga kehilangan batas-batas teologis. Al-Syifa berdiri di tengah keduanya dengan mengajarkan bahwa memuliakan Nabi merupakan bagian dari keimanan, selama kemuliaan tersebut tetap ditempatkan dalam kerangka tauhid.
Apa yang Membedakan Al-Syifa?
Di antara sekian banyak kitab yang berbicara tentang Nabi Muhammad SAW, Al-Syifa memiliki watak yang khas. Al-Syama’il al-Muhammadiyyah karya Imam al-Tirmidzi, misalnya, sangat kuat dalam menggambarkan sosok Nabi: penampilan, pakaian, cara berjalan, makan, tidur, berbicara, dan akhlaknya. Kitab itu membawa pembaca seakan-akan masuk ke ruang keseharian Rasulullah SAW. Sementara itu, Dalā’il al-Khayrāt karya Imam al-Jazuli memiliki corak berbeda karena terutama merupakan kitab doa dan shalawat yang dibaca untuk menghidupkan hubungan ruhani dengan Rasulullah SAW.
Karya-karya maulid seperti al-Barzanji dan al-Diba’i juga memiliki kekhasan tersendiri. Keduanya memadukan kisah kelahiran, pujian, sirah, dan ekspresi mahabbah dalam bentuk sastra yang indah, sehingga sangat sesuai untuk dibaca bersama dalam majelis. Jika kitab-kitab tersebut membantu pembaca mengenal sosok Nabi, menghidupkan hubungan ruhani, dan merasakan kegembiraan serta kerinduan kepada beliau, Al-Syifa bergerak pada lapisan yang lebih mendasar.
Qadhi Iyadh tidak hanya bertanya bagaimana rupa dan akhlak Nabi, tidak hanya mengajak bershalawat, dan tidak hanya menceritakan kelahiran serta perjalanan hidup beliau. Ia mengajukan pertanyaan tentang kedudukan Nabi menurut wahyu, hak beliau atas umat, batas penghormatan kepada beliau, apa yang wajib diyakini tentang kenabian dan kemaksuman beliau, serta konsekuensi teologis dan hukum dari penghormatan atau pelecehan terhadap maqam kenabian. Karena itu, kelebihan Al-Syifa terletak pada keluasan dan integrasinya. Di dalam satu karya bertemu sirah, hadis, syama’il, akidah, fikih, adab, dalail al-nubuwwah, dan pendidikan mahabbah.
Dengan demikian, Al-Syifa bukan sekadar kitab yang membuat pembacanya terharu, tetapi kitab yang berusaha membangun kesadaran tentang mengapa Nabi harus dicintai, bagaimana beliau harus dihormati, dan seperti apa cinta itu harus dibuktikan. Di situlah keistimewaannya.
Krisis Adab di Ruang Publik
Jika ada kata yang paling kuat dalam Al-Syifa, selain cinta, barangkali adalah adab. Islam tidak hanya mengajarkan benar dan salah, tetapi juga mengajarkan bagaimana seseorang bersikap terhadap kebenaran. Karena itu, iman kepada Nabi selalu disertai dengan adab kepada beliau. Al-Qur’an mendidik para sahabat agar tidak meninggikan suara di hadapan Rasulullah SAW, tidak memanggil beliau sebagaimana mereka memanggil sesama manusia, dan tidak mendahului Allah dan Rasul-Nya. Dalam tradisi Islam, adab bukan aksesori keagamaan, melainkan bagian dari struktur iman.
Persoalannya, kita hari ini menghadapi apa yang dapat disebut sebagai krisis adab. Ruang digital membuat manusia sangat mudah berbicara, tetapi tidak selalu membuat manusia tahu kapan seharusnya berbicara. Semua orang dapat berkomentar, menghakimi, bahkan menyerang. Dalam situasi seperti ini, pelajaran Al-Syifa menjadi semakin penting karena kecintaan kepada Rasulullah SAW seharusnya membuat seseorang semakin berhati-hati dalam menggunakan lisan dan jari.
Nabi yang kita cintai adalah Nabi yang mengajarkan pentingnya berkata baik atau diam. Beliau juga menunjukkan keluasan rahmat, bahkan kepada orang yang menyakitinya. Karena itu, menjadi ironis apabila kecintaan kepada Nabi justru diekspresikan melalui kebencian, penghinaan, atau kekerasan verbal terhadap orang lain. Cinta kepada Nabi semestinya membuat seseorang semakin sulit menyakiti sesama, bukan semakin mudah melakukannya.
Mengapa Al-Syifa Tidak Se-Populer Kitab Maulid?
Jika Al-Syifa memiliki kedudukan demikian tinggi dalam tradisi Islam, mengapa namanya tidak sepopuler al-Barzanji, al-Diba’i, atau beberapa kitab shalawat di tengah masyarakat Muslim Nusantara? Pertanyaan ini perlu dijawab secara hati-hati. Al-Syifa bukan kitab yang sama sekali tidak dikenal di Nusantara. Ia dikenal di kalangan ulama dan pembaca turats. Namun, dalam ruang ritual-populer dan pengajian masyarakat, gaungnya memang relatif tidak sebesar kitab-kitab maulid dan shalawat.
Ada beberapa sebab yang dapat menjelaskan keadaan ini. Pertama, faktor bentuk dan fungsi. Al-Syifa adalah karya besar, padat, argumentatif, dan membutuhkan kemampuan bahasa Arab serta perangkat keilmuan yang memadai. Ia lebih cocok dibaca sebagai kitab kajian, bukan sebagai teks yang selesai dibaca dalam satu majelis. Sebaliknya, al-Barzanji, al-Diba’i, dan kitab-kitab shalawat memiliki bentuk yang lebih ringkas, ritmis, mudah dilagukan, dan sangat sesuai untuk pembacaan komunal.
Kedua, tradisi Islam Nusantara banyak berkembang melalui majelis-majelis yang menggabungkan pengajaran dengan ritus sosial. Kitab yang dapat dibaca pada maulid, akikah, pernikahan, malam Jumat, atau pertemuan kampung dengan sendirinya memiliki ruang sirkulasi yang jauh lebih luas. Ketiga, jalur transmisi keilmuan Nusantara sangat kuat terhubung dengan Hijaz dan jaringan ulama Syafi’iyyah, sementara Al-Syifa lahir dari tradisi Maliki-Maghribi. Perbedaan ini tidak berarti kitab Maliki ditolak di Nusantara, tetapi ikut memengaruhi kitab mana yang lebih cepat masuk ke kurikulum, jaringan ijazah, majelis, dan praktik keagamaan sehari-hari.
Keempat, Al-Syifa sulit ditempatkan hanya dalam satu mata pelajaran. Ia bukan kitab fikih murni, hadis murni, tauhid murni, atau kitab maulid dalam arti ritual. Justru karena sifatnya yang ensiklopedis dan lintas disiplin, ia sangat kaya, tetapi tidak selalu mudah masuk ke struktur kurikulum pesantren yang biasanya dibangun berdasarkan bidang-bidang ilmu tertentu.
Dengan demikian, kurang populernya Al-Syifa di tingkat masyarakat bukanlah tanda bahwa kitab ini kurang penting. Justru sebaliknya, boleh jadi kita belum cukup memperkenalkan kitab yang menghubungkan mahabbah dengan ilmu, ta’zhim dengan tauhid, dan pembelaan kepada Nabi dengan tanggung jawab akhlak.
Maulid sebagai Sekolah Akhlak
Di Indonesia, cinta kepada Nabi memiliki ruang budaya yang sangat kuat. Peringatan Maulid Nabi SAW menjadi tradisi yang hidup di pesantren, masjid, majelis taklim, hingga lingkungan masyarakat. Tradisi ini memiliki nilai besar selama tidak berhenti pada seremoni. Maulid seharusnya menjadi sekolah akhlak, tempat kita membaca sejarah Nabi agar tahu siapa yang kita cintai, membaca shalawat agar hati terhubung kepada beliau, dan mendengarkan kisah akhlak Nabi agar kehidupan kita berubah.
Dalam konteks ini, Al-Syifa memberikan fondasi intelektual yang kuat. Logikanya sederhana: semakin seseorang mengenal Nabi, semestinya semakin besar cintanya. Semakin besar cintanya, semakin besar pula keinginannya untuk meneladani beliau. Karena itu, maulid tidak semestinya hanya menghasilkan kerinduan, tetapi juga perubahan perilaku. Kerinduan kepada Nabi harus melahirkan kejujuran, shalawat harus melahirkan amanah, pujian kepada Rasul harus melahirkan kasih sayang, dan kecintaan kepada Nabi harus melahirkan kesediaan menahan ego.
Inilah makna terdalam dari cinta: bukan sekadar merasa dekat dengan sosok yang dicintai, tetapi berusaha menghadirkan nilai-nilai yang beliau ajarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hak Nabi dan Hak Sesama Manusia
Ada satu dimensi penting yang perlu ditegaskan: penghormatan kepada Rasulullah SAW tidak boleh dipisahkan dari penghormatan terhadap nilai-nilai yang beliau perjuangkan. Nabi datang membawa rahmat, membela orang lemah, mengajarkan keadilan, menjaga kehormatan manusia, dan membangun persaudaraan. Karena itu, membela kehormatan Nabi sekaligus berarti membela ajaran beliau tentang keadilan dan kemanusiaan.
Tidak cukup mengatakan bahwa kita mencintai Nabi apabila kita masih mudah berlaku zalim. Tidak cukup mengatakan bahwa kita menghormati Rasul apabila kita merendahkan sesama. Tidak cukup mengatakan bahwa kita membela sunnah jika kita mengabaikan amanah. Di sinilah cinta kepada Nabi menemukan bentuk sosialnya. Mahabbah yang sejati tidak membuat seseorang menjauh dari realitas, tetapi justru mendorongnya menghadirkan akhlak Nabi ke dalam keluarga, pendidikan, politik, ekonomi, dan kehidupan bermasyarakat.
Krisis Kita adalah Krisis Keteladanan
Masyarakat modern tidak kekurangan informasi tentang Nabi. Buku tentang Nabi sangat banyak, ceramah tentang Nabi mudah ditemukan, dan video tentang sirah Nabawiyah tersedia hampir tanpa batas. Namun, boleh jadi problem kita bukan kurang informasi, melainkan kurang transformasi. Kita mengetahui bahwa Nabi jujur, tetapi korupsi tetap dianggap biasa. Kita mengetahui bahwa Nabi amanah, tetapi janji mudah dilanggar. Kita mengetahui bahwa Nabi santun, tetapi ruang publik penuh caci maki. Kita mengetahui bahwa Nabi memaafkan, tetapi perbedaan politik dan keagamaan mudah berubah menjadi permusuhan.
Karena itu, warisan Qadhi Iyadh perlu dibaca kembali bukan sekadar sebagai kitab klasik, tetapi sebagai kritik terhadap keberagamaan kita. Al-Syifa mengingatkan bahwa cinta kepada Nabi adalah sebuah tanggung jawab moral. Semakin tinggi klaim cinta kita kepada Rasulullah SAW, semakin tinggi pula tuntutan agar akhlak beliau terlihat dalam diri kita.
Pada akhirnya, persoalan kita bukan apakah Nabi masih menjadi teladan. Beliau tetap menjadi teladan. Persoalannya adalah apakah kita masih bersedia menjadikan beliau sebagai teladan dalam kehidupan. Sebab, cinta kepada Nabi tidak seharusnya berhenti pada nama yang kita muliakan, tetapi harus hadir dalam cara kita berbicara, memperlakukan sesama, menjaga amanah, dan menghadapi perbedaan.
Kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak orang yang berbicara tentang Nabi. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang kehadirannya membuat manusia teringat kepada akhlak Nabi. Sebab, cinta yang paling indah kepada Rasulullah SAW bukan hanya yang terucap di bibir, tetapi yang menjelma menjadi akhlak dalam kehidupan.

