Konten dari Pengguna

Ketika Hukuman Fisik Membuat Anak Takut Salah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azalia Davina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak takut. Foto: stockphoto mania/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak takut. Foto: stockphoto mania/Shutterstock

Seorang siswa sebenarnya mengetahui jawaban dari pertanyaan gurunya. Ia sudah memahami materi, bahkan mampu menjelaskan jawabannya ketika berbicara dengan teman dekat. Namun, ketika guru memintanya menjawab di depan kelas, ia memilih diam. Bukan selalu karena tidak tahu, melainkan karena takut salah, ditertawakan, atau mendapat teguran.

Situasi seperti ini mengajak kita melihat persoalan pendidikan dari sudut yang lebih luas. Keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi, tetapi juga dengan pengalaman emosional yang membentuk cara mereka menghadapi kesalahan. Salah satu hal yang patut diperhatikan adalah pola pengasuhan yang menggunakan hukuman fisik sebagai cara mendisiplinkan anak.

Ketika Kesalahan Menjadi Sesuatu yang Menakutkan

Dalam proses belajar, kesalahan seharusnya menjadi bagian dari usaha memahami sesuatu. Siswa tidak mungkin selalu menjawab dengan benar karena belajar melibatkan proses mencoba, menilai, dan memperbaiki pemahaman. Akan tetapi, pandangan tersebut sulit diterapkan apabila anak terbiasa menghadapi kesalahan dengan hukuman atau ancaman.

Pada pola pengasuhan yang menggunakan hukuman fisik, anak dapat menangkap pesan bahwa kesalahan bukan sekadar sesuatu yang perlu diperbaiki, melainkan sesuatu yang harus ditakuti. Jika pengalaman tersebut berlangsung berulang kali, sebagian anak mungkin menjadi lebih berhati-hati ketika harus memberikan jawaban, menyampaikan pendapat, atau mengakui bahwa dirinya belum memahami pelajaran.

Hubungan ini perlu dipahami secara cermat. Tidak semua anak yang mengalami hukuman fisik pasti menjadi pendiam, dan tidak semua siswa yang takut menjawab mengalami pola pengasuhan yang keras. Namun, pengalaman dihukum secara fisik merupakan salah satu faktor yang layak diperhatikan ketika membahas rasa aman dan perkembangan anak.

Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa hukuman fisik berkaitan dengan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan mental, perkembangan sosial-emosional, dan hasil pendidikan anak. WHO juga menyatakan bahwa hukuman fisik tidak memberikan manfaat positif bagi anak. Temuan ini memperkuat alasan untuk mempertanyakan anggapan bahwa kekerasan merupakan cara yang diperlukan agar anak disiplin.

Dampaknya Dapat Terbawa ke Ruang Kelas

Anak belajar bukan hanya dari materi yang disampaikan guru, tetapi juga dari pengalaman ketika melakukan kesalahan dan menerima tanggapan orang dewasa. Apabila kesalahan sering diikuti hukuman, anak dapat mengembangkan kecenderungan untuk menghindari situasi yang dianggap berisiko.

Dalam pembelajaran, kecenderungan tersebut bisa terlihat ketika siswa enggan mengangkat tangan, menolak maju ke depan kelas, atau memilih diam meskipun memiliki dugaan jawaban. Mereka mungkin lebih sibuk memikirkan kemungkinan dimarahi daripada menyusun jawaban berdasarkan apa yang telah dipelajari.

Dalam konteks ini, keberanian menjawab pertanyaan tidak tepat jika hanya dinilai dari seberapa sering siswa berbicara. Guru juga perlu memperhatikan apakah siswa merasa aman untuk mencoba, bertanya, dan mengakui ketidaktahuannya. Siswa yang diam belum tentu tidak memahami materi, sebagaimana siswa yang aktif berbicara belum tentu telah menguasainya.

Penelitian tentang hukuman fisik di sekolah juga memberikan gambaran penting. Tinjauan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Trauma, Violence, & Abuse menemukan hubungan antara hukuman fisik di sekolah dan berbagai hasil yang merugikan, termasuk masalah perilaku, persoalan internalisasi seperti kecemasan, serta penurunan kinerja akademik. Penelitian tersebut membahas hukuman fisik di sekolah, sehingga temuannya tidak dapat langsung dianggap sebagai bukti bahwa hukuman fisik di rumah pasti menyebabkan siswa takut menjawab. Meski demikian, hasilnya menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang tidak menggunakan kekerasan.

Disiplin Tidak Harus Menggunakan Kekerasan

Sebagian orang beranggapan bahwa hukuman fisik diperlukan agar anak patuh dan tidak mengulangi kesalahan. Anggapan ini perlu dikaji kembali. Kepatuhan yang muncul karena rasa takut tidak selalu menunjukkan bahwa anak memahami alasan di balik suatu aturan.

Anak mungkin berhenti melakukan kesalahan ketika diawasi, tetapi belum tentu mampu menilai tindakannya secara mandiri. Sebaliknya, disiplin yang disertai penjelasan, batasan yang konsisten, dan kesempatan memperbaiki kesalahan dapat membantu anak memahami konsekuensi perilakunya.

Orang tua tetap perlu menetapkan aturan dan memberikan konsekuensi yang wajar. Namun, hal tersebut dapat dilakukan tanpa memukul, mengancam, atau mempermalukan anak. Ketika anak memberikan jawaban yang keliru, orang tua dapat mengajaknya menelusuri bagian yang belum dipahami. Ketika anak melanggar aturan, orang tua dapat menjelaskan dampak tindakannya dan menentukan konsekuensi yang berkaitan dengan perilaku tersebut.

Pendekatan ini bukan berarti membiarkan anak melakukan apa saja. Justru, disiplin yang sehat menuntut orang dewasa bersikap tegas sekaligus membantu anak memahami alasan di balik aturan. Tujuannya bukan sekadar membuat anak takut melakukan kesalahan, melainkan membimbingnya agar mampu mengambil keputusan yang lebih baik.

Membangun Keberanian dari Rumah hingga Sekolah

Upaya menumbuhkan keberanian siswa perlu melibatkan keluarga dan sekolah. Di rumah, orang tua dapat membiasakan percakapan terbuka, mendengarkan pendapat anak, dan merespons kesalahan dengan arahan yang membangun. Anak juga perlu mengetahui bahwa mengakui ketidaktahuan bukanlah sesuatu yang memalukan.

Di sekolah, guru dapat memberikan waktu kepada siswa untuk berpikir sebelum menjawab, menghargai usaha meskipun jawabannya belum tepat, serta menghindari ejekan ketika siswa melakukan kesalahan. Guru juga dapat menggunakan diskusi kelompok kecil agar siswa yang belum percaya diri memiliki kesempatan berlatih sebelum berbicara di depan kelas.

Jika seorang siswa terus-menerus menghindari pertanyaan, guru sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa ia malas atau tidak belajar. Pendekatan personal diperlukan untuk memahami apakah kesulitan tersebut berkaitan dengan pemahaman materi, kecemasan, pengalaman sosial, atau faktor lainnya. Dengan demikian, bantuan yang diberikan dapat sesuai dengan kebutuhan siswa.

Pada akhirnya, keberanian belajar tidak tumbuh hanya melalui tuntutan agar anak menjadi berani. Keberanian berkembang ketika anak memperoleh kesempatan untuk mencoba tanpa terus-menerus dibayangi ketakutan terhadap kesalahan.

Hukuman fisik bukan satu-satunya cara mendisiplinkan anak, dan bukan pula cara yang perlu dipertahankan demi membangun kepatuhan. Rumah dan sekolah seharusnya menjadi tempat anak belajar memahami konsekuensi, memperbaiki kesalahan, serta menyampaikan pemikiran dengan bertanggung jawab. Sebab, pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan anak yang mampu menjawab dengan benar, tetapi juga anak yang berani mencoba, bertanya, dan belajar ketika jawabannya belum tepat.

Sumber: Ilustrasi AI Gemini