Ketika Indonesia Bermain sebagai Satu Tim
Tulisan dari Pormadi Simbolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita masih dalam suasana menonton pertandingan sepak bola merebut piala dunia FIFA 2026. Semua dengan semangat dan kebanggaan tersendiri mendukung dan memuji keunggulan tim favorit masing-masing. Karena setiap tim sepak bola sudah terorganisir dengan baik dan ada aturan main, maka sebuah tujuan harus dicapai bersama.
Fenomena ini menyimpan pelajaran berharga. Sepak bola memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki kemampuan untuk bersatu ketika mempunyai tujuan bersama. Persoalannya, mengapa semangat itu sering berhenti di stadion perebutan piala? Mengapa ia tidak selalu hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?
Sepak bola bukan sekadar permainan sebelas lawan sebelas. Ia adalah pelajaran tentang kerja sama, disiplin, kepercayaan, dan tanggung jawab bersama. Seorang penyerang tidak mungkin mencetak gol tanpa umpan gelandang, pertahanan bek, penyelamatan kiper, maupun arahan pelatih. Kemenangan selalu merupakan hasil kerja kolektif.
Kebaikan bersama
Pemikiran ini sejalan dengan filsuf Yunani kuno Aristotle yang menyebut manusia sebagai zoon politikon—makhluk yang hanya dapat berkembang melalui kehidupan bersama. Tidak ada individu yang sepenuhnya mandiri. Kehidupan yang baik selalu lahir dari komunitas yang bekerja sama demi kebaikan bersama (common good).
Dalam konteks Indonesia, common good itu adalah cita-cita sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945: melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Filsuf Jerman Jürgen Habermas mengingatkan bahwa masyarakat modern hanya dapat bertahan apabila dibangun melalui komunikasi yang saling menghormati, bukan saling meniadakan. Tim sepak bola yang baik bukanlah tim yang seluruh pemainnya berpikir sama, melainkan tim yang mampu menyatukan perbedaan kemampuan dalam satu strategi.
Indonesia menghadapi tantangan serupa. Keberagaman bukan hambatan, melainkan modal sosial. Namun, keberagaman baru menjadi kekuatan apabila diarahkan kepada tujuan yang sama. Tanpa tujuan bersama, perbedaan mudah berubah menjadi konflik.
Di sinilah sepak bola memberikan pelajaran moral yang sederhana tetapi mendalam. Tidak ada pemain yang terus-menerus ingin membawa bola sendiri. Mereka memahami kapan harus mengoper, kapan bertahan, dan kapan berkorban demi tim. Kepentingan bersama lebih utama daripada ambisi pribadi.
Tanggung jawab Bersama
Gagasan ini mengingatkan pada pemikiran Emmanuel Levinas bahwa etika selalu dimulai ketika seseorang menempatkan kepentingan orang lain sebagai bagian dari tanggung jawabnya. Dalam sepak bola, keberhasilan seorang pemain tidak pernah terlepas dari keberhasilan rekan-rekannya. Dalam kehidupan berbangsa, kesejahteraan seseorang juga bergantung pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Sementara itu, Zygmunt Bauman mengingatkan bahwa masyarakat modern cenderung semakin individualistis. Orang lebih sibuk membangun citra diri daripada membangun solidaritas. Akibatnya, rasa memiliki terhadap komunitas semakin melemah. Dalam situasi seperti itu, sepak bola justru menghadirkan paradoks yang menarik: jutaan orang rela bersatu, bernyanyi, dan mendukung satu tim tanpa mempersoalkan identitas masing-masing.
Pertanyaannya, mengapa semangat tersebut tidak dapat dibawa ke ruang publik, sekolah, kantor, birokrasi, maupun kehidupan politik?
Membangun Indonesia memerlukan mentalitas pemain sepak bola. Pemerintah bukan satu-satunya "penyerang". Dunia pendidikan membentuk karakter. Dunia usaha menciptakan lapangan kerja. Tokoh agama menanamkan nilai moral. Akademisi melahirkan gagasan. Media menjaga ruang publik. Masyarakat menjadi energi utama perubahan. Tidak ada satu pihak pun yang mampu memenangkan "pertandingan" pembangunan sendirian.
Belajar dari kekalahan
Bahkan kekalahan dalam sepak bola pun mengajarkan sesuatu. Tim yang kalah tidak membubarkan diri, melainkan mengevaluasi permainan, memperbaiki strategi, lalu bangkit kembali. Bangsa yang besar pun demikian. Kegagalan bukan alasan untuk saling menyalahkan, melainkan kesempatan memperbaiki diri bersama.
Nilai itu sejalan dengan semangat gotong royong yang menjadi jiwa bangsa Indonesia. Gotong royong bukan sekadar bekerja bersama, tetapi kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. Dalam bahasa sepak bola, tidak ada kemenangan individu; yang ada hanyalah kemenangan tim.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari olahraga yang paling dicintai masyarakat Indonesia. Ketika peluit pertandingan berbunyi, semua pemain mengenakan satu lambang di dada, bukan identitas pribadi. Demikian pula sebagai warga negara, kita dipanggil untuk mengingat bahwa di atas segala perbedaan, kita mengenakan satu identitas bersama: Indonesia.
Jika semangat itu mampu kita bawa keluar dari stadion menuju sekolah, kantor, parlemen, rumah ibadah, dan ruang-ruang publik lainnya, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi bangsa yang pandai mendukung tim nasional, tetapi juga bangsa yang mampu bermain sebagai satu tim dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Singkatnya, seperti dalam sepak bola, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh satu "bintang", melainkan oleh kesediaan seluruh anak bangsa untuk bermain bersama demi kemenangan yang menjadi milik kita semua.

