Konten dari Pengguna

Ketika Kata Menentukan Asa

Ilustrasi Gambar Penerjemah dan Persidangan (Dibuat Menggunakan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gambar Penerjemah dan Persidangan (Dibuat Menggunakan AI)

Kisah ASN Penerjemah Pekerja Migran Indonesia (PMI)

Pintu besi ruang tahanan terbuka perlahan. Secara rutin saya dan tim melakukan kunjungan ke penjara di wilayah kerja KJRI Jeddah. Dari balik jeruji besi, seorang perempuan muda berjilbab lusuh menunduk. Namanya Halimah (nama samaran). Usianya belum genap dua puluh tiga. Tubuhnya gemetar, suaranya nyaris tak terdengar. Ia dituduh mencuri barang majikan. Kemampuan bahasa Arabnya nyaris nol.

Saya duduk di sampingnya, membuka percakapan dengan perlahan. Ia ragu-ragu bercerita. Wajahnya menyimpan kecemasan, bukan hanya soal hukuman, tetapi juga karena ia tak tahu satu pun kata dari apa yang dituduhkan padanya.

“Saya tidak ambil, Pak. Saya cuma... saya cuma simpan karena takut hilang...”

Dalam ruang interogasi atau pengadilan itulah saya paham: sering kali, jeritan para pekerja migran bukan teredam oleh hukum, melainkan oleh bahasa. Tak sedikit dari mereka bahkan tidak tahu alasan mereka ditahan. Faktor miskomunikasi dengan majikan atau pemberi kerja menjadi alasan. Sebabnya sederhana, tidak mengerti bahasa.

Sebagian hanya menandatangani dokumen karena diminta, diancam atau diiming-imingi dengan jalan pulang ke tanah air. Sebagian lain menjawab seadanya, lalu perkataannya ditafsirkan bebas. Kesalahan kecil dalam komunikasi bisa membentuk cerita besar yang tak pernah mereka bayangkan.

Itu yang saya saksikan berkali-kali selama penugasan di KJRI Jeddah, Arab Saudi, antara tahun 2015 dan 2019. Di ruang pengadilan, kantor polisi, rumah tahanan, bahkan di lorong RS tempat PMI dirawat karena luka akibat kekerasan, saya mendapati satu benang merah: keterasingan mereka dari bahasa menjadi jurang yang memisahkan harapan dan keadilan.

Sebagai penerjemah, tugas saya tidak hanya memindahkan kata, tetapi juga menyampaikan konteks dan emosi. Saya harus menangkap nuansa, meredam ketegangan, dan menjembatani kesenjangan pemahaman antara dunia mereka yang tak berbahasa dan aparat penegak hukum yang berpegang pada prosedur.

Dalam banyak kasus, penyidik ingin jawaban langsung dan lugas. Tapi korban tidak selalu mampu menjelaskan. Saat itulah, saya harus menjelaskan bukan hanya kata, tetapi juga latar belakang, logika, dan ketidaktahuan yang mereka miliki.

Dalam kasus berat seperti dugaan pembunuhan atau kasus sihir, tekanan lebih besar. Seorang perempuan paruh baya dituduh melakukan “praktik sihir” karena menyimpan “jimat" dari kampung halamannya. Ia tidak tahu bahwa membawa kantong kecil berisi rambut dan kertas doa bisa dianggap kriminal di negeri orang.

“Ini dari ibu saya, Pak. Buat perlindungan,” katanya sambil menggenggam benda itu.

Saya sampaikan kepada penyidik, dengan nada tenang dan tanpa menggurui, bahwa banyak budaya Indonesia yang masih percaya pada hal seperti itu. Saya jelaskan bahwa tidak ada niat jahat dan itu hanya bagian dari keyakinan pribadi. Apakah langsung dipercaya? Tidak selalu. Tapi dari sana dialog dimulai. Dari kata yang benar, suasana bisa bergeser. Tidak semua kasus berakhir baik. Ada yang tetap divonis. Ada yang akhirnya dideportasi. Tapi sebagian bisa dibebaskan, pulang membawa sisa harapan.

Sebagian besar dari mereka adalah perempuan yang datang dari pelosok desa, dengan pendidikan terbatas. Mereka tidak hanya asing terhadap sistem hukum, tetapi juga terhadap tulisan Arab yang mereka lihat di jalan. Ketika terjadi masalah, entah karena perlakuan majikan, perbedaan budaya, atau hanya karena kesalahpahaman kecil, mereka tak mampu menjelaskan.

Seorang ibu muda datang ke KJRI dengan tubuh penuh memar. Ia lari dari rumah majikannya karena bertahun-tahun tidak digaji. Ia tidak tahan dengan kondisi tersebut. Tapi saat diminta menjelaskan, ia hanya menunduk. Tidak tahu harus bicara apa, kepada siapa, dan dalam bahasa apa.

“Saya tidak tahu harus ke mana, Pak,” katanya perlahan ketika saya ajak bicara dalam bahasa Indonesia. “Sudah lama sekali saya tidak dengar orang bicara seperti ini...”

Bagi saya, itu bukan sekadar terjemahan. Itu penyambung hidup.

Kasus Masamah binti Raswa Sanusi adalah salah satu yang paling membekas. Tuduhan berat, proses hukum panjang, tekanan diplomatik luar biasa. Tapi kami tidak berhenti. Setiap sidang, saya duduk di sebelahnya. Saya pastikan ia memahami apa yang dikatakan jaksa, hakim, dan saksi. Saya pastikan keterangannya disampaikan utuh, tidak terdistorsi.

Di ujung perjuangan itu, Masamah akhirnya bebas. Ia tidak bisa menyampaikan terima kasih yang panjang. Ia hanya menatap saya, lalu menunduk dalam-dalam. Tapi saya tahu ia pulang bukan hanya karena kekuatan hukum, tetapi karena bahasa yang diperjuangkan dengan jujur.

Tugas ini tidak ringan. Tidak jarang saya pulang tengah malam atau tidak pulang sama sekali karena harus menangani kasus PMI di kantor polisi.

Menjadi penerjemah dalam konteks ini tidak sama dengan menerjemahkan dalam forum resmi. Ini tentang menerjemahkan rasa takut, kesedihan, kebingungan, sekaligus menjaga ketepatan hukum. Satu kata yang keliru bisa menyesatkan pemeriksaan, memperpanjang masa tahanan, bahkan memperberat vonis.

Sebagai ASN yang bertugas di bidang perlindungan, saya harus benar-benar memahami duduk persoalan dari dua sisi: versi korban dan versi aparat. Dari situ, kami merumuskan narasi yang bisa diterima, tanpa mengorbankan kebenaran, tanpa membuat mereka semakin terpojok.

Pernah, di malam libur atau akhir pekan, saya menemani seorang PMI yang harus menjalani pemeriksaan atas dugaan pencurian. Ia menangis. “Saya tidak pernah membayangkan hidup di penjara.” Saya duduk di dekatnya. Saya juga tidak menyangka waktu libur saya habis di penjara. Tapi waktu itu, tidak penting di mana saya berada. Yang penting, ia tidak sendiri.

Dari semua pengalaman ini, saya belajar satu hal: menjadi penerjemah bukan sekadar pekerjaan teknis. Ini adalah bentuk langsung dari diplomasi kemanusiaan. Kami berdiri di tengah, menyuarakan mereka yang tidak bisa bersuara dan kadang mempertaruhkan martabat negara dalam kalimat-kalimat yang disampaikan. Penerjemah adalah jembatan penghubung saat setiap kata bisa menentukan asa seorang PMI.