Konten dari Pengguna

Ketika Keresahan Rakyat Diamputasi dan Kritik Diabaikan

Isnaini Khomarudin

Isnaini Khomarudin

Editor dan pendongeng

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Isnaini Khomarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memang betul, manusia tak mungkin steril dari kesalahan. In fact, mortalitas manusia menjadi penegas bahwa kekeliruan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup sehingga hidup tak bakal sempurna tanpa manusia berbuat salah.

Tentu saja ini bukan pembenaran atau justifikasi atas perbuatan keliru sebab kebodohan dan kenisbian mesti dipisahkan secara maknawi. Orang tak bisa asal klaim bahwa tindakannya tak boleh dikritik hanya lantaran keyakinan bahwa manusia tempat salah dan dosa.

Bersikukuh dalam sikap atau pandangan demikian bukanlah penerimaan atas kenyataan atau bawaan dari Tuhan, melainkan kedunguan yang sengaja dikembangbiakkan yang pada gilirannya nanti akan meledak--menghancurkan hal-hal fundamental atau sangat penting.

Bayangkan jika denial atau penyangkalan terhadap kritik itu ditunjukkan oleh pejabat publik atau pemegang otoritas dalam pemerintahan. Publik tidak punya lagi ruang untuk melancarkan kritik sebab pemerintah merasa kebal atau sengaja abai terhadap diskusi yang kerap juga bermuatan saran.

Jika sikap keras kepala dilembagakan, dibiarkan berakar dalam sistem yang begitu masif, jangan harap kemakmuran dapat tercipta. Alih-alih manfaat berkelanjutan dan distribusi kesejahteraan ke seluruh pelosok wilayah yang luas, yang potensial terjadi justru caci-maki dan keributan di luar dugaan.

Rakyat tak hendak menciptakan makar atau sengaja menggulingkan kekuasaan semata karena ketidaksukaan atau favoritisme. Merek justru meluapkan kekesalan akibat tersumbatnya saluran kritik atau ditumpasnya kreativitas dalam menyuarakan keraguan.

Lambat laun hanya soal waktu hal-hal tabu menjadi kenormalan. Jika pejabat sibuk berjoget dan berdendang di tengah ekonomi yang kian lesu dan sumber daya yang kian menipis, jangan salahkan jika Tuhan campur tangan lewat gejala-gejala sporadis yang selama ini terbungkam. Introspeksi dan empati!