Ketika Laut Menyimpan Mereka yang Dipaksa Hilang: Laut Bercerita

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 2025
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Athifah Farhana Luthfiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Bukan karena orang-orang yang ditinggalkan tidak berusaha menerima kenyataan, melainkan karena mereka bahkan tidak pernah mendapatkan kepastian tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya memiliki kenangan, harapan, dan pertanyaan yang terus berulang. Perasaan itulah yang terasa kuat dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, sebuah karya yang mengajak pembaca melihat sejarah bukan hanya melalui peristiwa besar, tetapi juga melalui kehidupan manusia yang menjadi korban di dalamnya.
Diterbitkan pertama kali pada 2017 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Laut Bercerita merupakan novel fiksi sejarah yang mengambil latar situasi politik Indonesia menjelang Reformasi 1998. Leila S. Chudori membawa pembaca memasuki kehidupan para mahasiswa dan aktivis yang berusaha menyuarakan pendapat di tengah tekanan kekuasaan. Namun, novel ini tidak berhenti pada persoalan politik. Di balik perjuangan tersebut, ada persahabatan, cinta, hubungan keluarga, ketakutan, dan kehilangan yang membuat ceritanya terasa dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Ketika perjuangan berhadapan dengan kekuasaan
Cerita berpusat pada Biru Laut, seorang mahasiswa yang terlibat dalam gerakan aktivisme bersama teman-temannya. Mereka berdiskusi, membaca, menyusun gerakan, dan berusaha memperjuangkan kebebasan berpendapat. Bagi mereka, diam bukan pilihan ketika ketidakadilan terjadi. Akan tetapi, keberanian untuk bersuara membawa risiko yang tidak sederhana. Laut dan sejumlah kawannya mengalami penculikan serta penyiksaan, sementara nasib mereka kemudian menjadi bagian dari persoalan yang jauh lebih besar daripada kehidupan pribadi masing-masing.
Melalui tokoh Laut, Leila memperlihatkan bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung dalam bentuk aksi besar yang terlihat oleh banyak orang. Perjuangan juga hadir dalam percakapan kecil, keberanian mempertahankan keyakinan, dan keputusan untuk tidak berpaling dari ketidakadilan. Para tokohnya digambarkan sebagai manusia biasa yang memiliki rasa takut, keraguan, dan orang-orang yang mereka sayangi. Justru karena itulah, apa yang mereka alami terasa menyakitkan. Mereka bukan sekadar nama dalam catatan sejarah, melainkan individu yang mempunyai kehidupan dan masa depan yang direnggut.
Hal yang menarik, novel ini tidak menjadikan sejarah sebagai latar yang jauh dan dingin. Sejarah justru terasa melalui pengalaman personal para tokohnya. Pembaca tidak hanya diajak mengetahui bahwa penculikan aktivis pernah terjadi, tetapi juga membayangkan bagaimana rasanya kehilangan seorang teman, menunggu seseorang yang tidak kunjung pulang, atau hidup dalam ketidakpastian tanpa mengetahui apakah orang yang disayangi masih hidup.
Dari suara korban menuju kesedihan keluarga
Salah satu kekuatan Laut Bercerita terletak pada pembagian sudut pandangnya. Pada bagian pertama, cerita disampaikan melalui Biru Laut. Pembaca mengikuti kehidupan, pemikiran, dan pengalaman Laut hingga menghadapi kekerasan. Sementara itu, bagian kedua menghadirkan sudut pandang Asmara Jati, adik Laut, yang memperlihatkan kehidupan keluarga dan orang-orang terdekat setelah kehilangan tersebut.
Peralihan sudut pandang ini memberikan pengalaman membaca yang berbeda. Jika bagian pertama memperlihatkan perjuangan dan penderitaan mereka yang menjadi sasaran kekuasaan, bagian kedua menunjukkan bahwa dampak kekerasan tidak berhenti ketika korban menghilang. Orang-orang yang ditinggalkan juga harus menjalani kehidupan dengan pertanyaan yang tidak kunjung terjawab.
Salah satu gambaran yang membekas adalah kebiasaan keluarga Laut yang masih menyediakan tempat untuknya di meja makan. Tindakan sederhana itu memperlihatkan bahwa kehilangan tidak selalu hadir melalui tangisan atau perkataan yang panjang. Kadang-kadang, kehilangan justru terasa dalam kebiasaan sehari-hari yang tidak lagi lengkap. Sebuah kursi kosong dapat menyimpan harapan yang belum padam, sekaligus mengingatkan bahwa seseorang belum mendapatkan kepastian tentang nasib anggota keluarganya.
Melalui Asmara dan keluarganya, novel ini juga memperlihatkan bahwa menunggu merupakan pengalaman yang melelahkan. Ketika tidak ada kepastian, keluarga tidak dapat sepenuhnya berduka, tetapi juga tidak bisa menjalani kehidupan dengan tenang. Mereka berada di antara harapan dan kenyataan yang menyakitkan. Bagian inilah yang membuat Laut Bercerita tidak hanya berbicara tentang aktivisme, tetapi juga tentang hak keluarga untuk mengetahui kebenaran.
Kekuatan sastra yang membuat sejarah terasa dekat
Sebagai karya sastra, Laut Bercerita memiliki kekuatan dalam membangun suasana dan menggambarkan emosi. Leila menggunakan bahasa yang relatif mudah diikuti, tetapi tetap mampu menghadirkan gambaran yang menyentuh. Deskripsi tentang tempat, percakapan antartokoh, serta kebiasaan keluarga membuat dunia cerita terasa hidup. Pembaca dapat melihat bahwa kehidupan para tokoh tidak hanya dipenuhi oleh ketegangan politik, tetapi juga oleh hal-hal sederhana yang membuat mereka terasa manusiawi.
Penggambaran tokoh juga menjadi kelebihan novel ini. Biru Laut bukan hanya sosok aktivis yang berani, sedangkan Asmara bukan sekadar adik yang bersedih karena kehilangan kakaknya. Keduanya memiliki cara pandang dan pengalaman yang berbeda. Tokoh-tokoh pendukung pun membantu memperlihatkan bahwa sebuah perjuangan tidak pernah berdiri sendiri. Ada teman yang berbagi keyakinan, orang-orang yang memberikan dukungan, serta keluarga yang ikut menanggung akibat dari pilihan dan keadaan yang tidak mereka inginkan.
Kelebihan lainnya adalah kemampuan novel ini menghubungkan persoalan politik dengan persoalan kemanusiaan. Pembaca tidak harus memiliki pengetahuan sejarah yang mendalam untuk memahami penderitaan para tokohnya. Melalui cerita, pembaca dapat melihat bagaimana pembatasan kebebasan, penculikan, dan kekerasan berdampak langsung pada kehidupan seseorang. Dalam hal ini, sastra menjadi ruang untuk mendekati sejarah melalui empati, bukan hanya melalui tanggal dan urutan peristiwa.
Meskipun demikian, novel ini bukan bacaan yang ringan secara emosional. Penggambaran kekerasan dan ketidakpastian nasib para tokoh dapat menimbulkan rasa marah, sedih, bahkan tidak nyaman. Banyaknya tokoh dan hubungan antartokoh juga menuntut pembaca untuk mengikuti cerita dengan cermat. Bagi pembaca yang mengharapkan alur cepat atau akhir yang memberikan penyelesaian tuntas, beberapa bagian mungkin terasa berat. Namun, tantangan tersebut masih sejalan dengan persoalan yang ingin disampaikan novel ini: tidak semua kehilangan memperoleh jawaban, dan tidak semua ketidakadilan selesai ketika sebuah cerita berakhir.
Ketika membaca menjadi cara untuk mengingat
Hal yang membuat Laut Bercerita tetap relevan untuk dibaca adalah persoalan yang diangkatnya tidak hanya berkaitan dengan masa lalu. Novel ini mengajak pembaca memikirkan kembali arti kebebasan berpendapat, keberanian menyampaikan kritik, dan pentingnya menghargai kehidupan manusia. Di tengah kehidupan sekarang, ketika informasi dapat tersebar dengan cepat dan pendapat bisa disampaikan melalui berbagai media, persoalan mengenai kebebasan dan tanggung jawab dalam menyuarakan kebenaran masih layak direnungkan.
Meski demikian, novel ini perlu dipahami sebagai karya fiksi yang berangkat dari realitas sejarah, bukan sebagai pengganti sumber sejarah. Tokoh-tokoh dan rangkaian ceritanya dibangun melalui proses kreatif pengarang, sedangkan latar sosial-politiknya berhubungan dengan pengalaman nyata bangsa Indonesia. Dengan demikian, pembaca dapat menikmati cerita sekaligus terdorong untuk mencari tahu lebih jauh mengenai peristiwa sejarah yang melatarbelakanginya.
Pada akhirnya, Laut Bercerita bukan hanya cerita tentang orang-orang yang menghilang, melainkan juga tentang mereka yang terus mengingat. Laut mungkin menjadi simbol tempat hilangnya jejak seseorang, tetapi cerita yang ditinggalkan membuat pengalaman mereka tidak sepenuhnya tenggelam. Melalui novel ini, Leila S. Chudori memperlihatkan bahwa mengingat bukan sekadar menoleh ke masa lalu, melainkan juga usaha untuk memahami penderitaan manusia dan menjaga agar ketidakadilan tidak dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Novel ini layak dibaca, terutama oleh mahasiswa dan generasi muda yang ingin mengenal sejarah Indonesia melalui pendekatan sastra. Laut Bercerita mengingatkan bahwa di balik setiap peristiwa sejarah terdapat manusia dengan nama, keluarga, dan harapan. Sebab, ketika seseorang dipaksa hilang, yang tersisa bukan hanya pertanyaan tentang keberadaannya, tetapi juga tanggung jawab bagi mereka yang masih hidup untuk terus mencari kebenaran.
