Konten dari Pengguna

Ketika Manusia Terlalu Patuh pada Kebiasaan

Sigid Mulyadi

Sigid Mulyadi

Praktisi Pemerintahan, Alumnus Universitas Terbuka - Disclamer: Tulisan tidak mewakili pandangan dari organisasi

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi manusia. Foto: Dmitry Nikolaev/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi manusia. Foto: Dmitry Nikolaev/Shutterstock

Ada satu hal yang semakin sering mengusik pikiran saya belakangan ini: betapa banyak hal dalam kehidupan manusia modern diterima begitu saja tanpa pernah benar-benar dipertanyakan ulang. Sesuatu dilakukan terus-menerus, diwariskan lintas generasi, lalu perlahan berubah menjadi kewajaran yang nyaris sakral. Kita mengikutinya bukan karena selalu memahami maknanya, melainkan karena semua orang juga melakukannya.

Barangkali manusia memang makhluk yang mencintai keteraturan. Namun di saat yang sama, sejarah justru menunjukkan bahwa kemajuan sering lahir dari mereka yang berani mempertanyakan sesuatu yang dianggap paling normal.

Saya pernah memikirkan hal sederhana yang mungkin terdengar remeh: Mengapa pesawat harus berlari panjang di landasan sebelum akhirnya terbang? Mengapa benda yang diciptakan untuk mengudara justru membutuhkan hamparan beton begitu luas hanya untuk meninggalkan tanah? Mengapa tidak bisa langsung naik begitu saja?

Pertanyaan itu tentu punya jawaban ilmiah: gaya angkat, kecepatan minimum, hukum aerodinamika. Namun yang sebenarnya menarik bagi saya bukan semata jawaban teknisnya, melainkan juga kebiasaan manusia menerima suatu sistem sebagai bentuk final. Seolah setelah sebuah metode dianggap efektif, manusia berhenti membayangkan kemungkinan lain.

Padahal, sejarah teknologi selalu bergerak dari orang-orang yang dianggap “aneh” pada zamannya. Dulu, manusia menganggap mustahil benda berat bisa terbang. Mustahil manusia berbicara jarak jauh. Mustahil seseorang membawa perpustakaan di dalam saku celananya. Namun, semua “kemustahilan” itu runtuh ketika ada orang yang cukup berani untuk bertanya ulang terhadap kewajaran.

Mungkin persoalan terbesar manusia modern bukan kekurangan pengetahuan, melainkan kehilangan keberanian untuk meragukan kebiasaan.

Birokrasi dan Ketaatan yang Terlalu Mekanis

Ilustrasi administratif. Foto: Primestock Photography/Shutterstock

Kegelisahan serupa muncul ketika melihat birokrasi modern. Saya sering bertanya: Jika hakikat birokrasi adalah melayani masyarakat, mengapa yang lebih dominan justru kepatuhan pada prosedur?

Mengapa pelayanan publik harus dibatasi oleh jam kerja yang begitu kaku? Mengapa manusia yang membutuhkan layanan harus menyesuaikan diri dengan sistem, bukan sistem yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia?

Di banyak kantor pemerintahan, disiplin sering diukur dari absensi, pakaian seragam, dan kepatuhan administratif. Padahal, belum tentu semua itu berkorelasi langsung dengan kualitas pelayanan. Kita seperti hidup dalam budaya yang terlalu memuja simbol keteraturan dibanding substansi kebermanfaatan.

Seragam, misalnya, pada awalnya mungkin dibuat untuk membangun identitas dan kesetaraan. Namun dalam praktiknya, ia kadang justru menjadi simbol homogenisasi: semua harus terlihat sama, berpikir sama, bergerak sama. Sementara manusia pada dasarnya lahir dengan keunikan, ritme, dan cara berpikir yang berbeda-beda.

Filsuf Prancis, Michel Foucault, pernah berbicara tentang bagaimana institusi modern bekerja melalui disiplin: mengatur tubuh, waktu, perilaku, bahkan cara manusia bergerak. Sekolah, kantor, rumah sakit, hingga penjara memiliki pola yang mirip—semuanya menuntut keteraturan, pengawasan, dan kepatuhan.

Tanpa sadar, manusia modern hidup seperti roda kecil dalam mesin besar bernama sistem.

Kita bangun pagi dengan jam yang sama, bekerja pada ritme yang sama, pulang dalam kemacetan yang sama, lalu mengulanginya sepanjang hidup. Kadang saya bertanya dalam hati: Apakah manusia menciptakan sistem untuk mempermudah hidup, atau justru hidup manusia perlahan diambil alih oleh sistem yang ia ciptakan sendiri?

Pesta, Status Sosial, dan Kebutuhan untuk Diakui

Ilustrasi pesta. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Pertanyaan itu kemudian bergerak ke ruang sosial yang lebih personal: pesta pernikahan, ulang tahun, dan berbagai seremoni manusia.

Mengapa manusia merasa perlu mengundang begitu banyak orang hanya untuk menyaksikan dua orang duduk di pelaminan? Mengapa kebahagiaan sering kali harus dipastikan lewat keramaian?

Saya pernah datang ke sebuah pesta pernikahan yang sangat megah. Lampu gantung besar, dekorasi bunga yang berlebihan, deretan mobil mahal di parkiran, dan tamu-tamu penting yang diperlakukan berbeda. Ada meja VIP, jalur khusus, pelayanan khusus. Di tengah suasana itu, saya justru merasa ada sesuatu yang ganjil: bahkan dalam momen yang katanya merayakan cinta dan kebersamaan, manusia masih sibuk mempertontonkan hierarki.

Mengapa manusia begitu sulit melepaskan kebutuhan untuk diakui?

Sosiolog Pierre Bourdieu menyebut bahwa manusia sering menggunakan simbol-simbol sosial—pakaian, pesta, gelar, bahkan selera—untuk menunjukkan posisi dalam struktur masyarakat. Kadang, sebuah pesta bukan lagi tentang makna, melainkan tentang legitimasi sosial. Tentang bagaimana seseorang ingin dilihat.

Mungkin karena sejak lama manusia hidup dalam ketakutan yang sama: takut dianggap tidak penting.

Di era media sosial, fenomena ini bahkan menjadi lebih ekstrem. Banyak momen kehidupan tidak lagi dijalani untuk dirasakan, tetapi untuk dipertontonkan. Orang pergi berlibur sambil sibuk memikirkan unggahan. Menikah sambil memikirkan dokumentasi. Makan bersama sambil memikirkan sudut foto terbaik.

Kita hidup di zaman ketika citra sering lebih penting daripada pengalaman itu sendiri.

Sekolah, Ijazah, dan Mesin Produksi Manusia Modern

Ilustrasi ijazah. Foto: Shutterstock

Kegelisahan yang paling mendasar mungkin muncul ketika melihat bagaimana manusia mendidik generasinya.

Mengapa setiap anak harus menghabiskan belasan tahun di sekolah demi mendapatkan ijazah sebelum dianggap layak bekerja? Mengapa masa kecil dan masa muda manusia sebagian besar dihabiskan dalam sistem yang seragam, terukur, dan berjenjang?

Tentu pendidikan penting. Tanpa pendidikan, peradaban tidak akan berkembang. Namun saya sering bertanya: Apakah sistem pendidikan modern benar-benar dirancang untuk membebaskan manusia berpikir, atau justru untuk menyesuaikan manusia dengan kebutuhan ekonomi dan industri?

Pemikir pendidikan Paulo Freire pernah mengkritik model pendidikan yang ia sebut sebagai “banking education”, ketika murid diperlakukan seperti wadah kosong yang hanya diisi informasi. Dalam sistem seperti itu, kreativitas dan keberanian bertanya perlahan melemah karena yang dihargai adalah kepatuhan dan kemampuan mengikuti standar.

Mungkin itu sebabnya banyak anak kecil sebenarnya lahir penuh rasa ingin tahu, tetapi perlahan tumbuh menjadi manusia dewasa yang takut salah, takut berbeda, dan takut mempertanyakan sesuatu.

Padahal, hampir semua penemuan besar lahir dari orang-orang yang tidak puas dengan jawaban umum.

Ironisnya, setelah sekolah bertahun-tahun, manusia kembali masuk ke siklus berikutnya: bekerja hampir sepanjang hidup demi bertahan hidup. Kita membangun kota-kota besar, teknologi canggih, dan sistem ekonomi global, tetapi di saat yang sama banyak manusia justru kehilangan waktu untuk dirinya sendiri.

Kita bekerja untuk membeli rumah yang jarang kita tinggali karena terlalu sibuk bekerja.

Negara, Hukum, dan Paradoks Peradaban

Ilustrasi dibuat dengan AI

Pertanyaan lain yang terus mengganggu saya adalah tentang negara dan hukum. Mengapa manusia menciptakan negara, lalu membuat aturan yang begitu kompleks hingga akhirnya manusia sendiri terjebak di dalamnya?

Kita menciptakan institusi untuk menjaga ketertiban, tetapi dalam praktiknya banyak institusi justru melahirkan korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketimpangan.

Ini bukan berarti negara atau hukum tidak diperlukan. Tanpa aturan, manusia mungkin jatuh pada kekacauan. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa kekuasaan selalu memiliki kecenderungan untuk membesar dan melindungi dirinya sendiri.

Semakin besar sebuah sistem, semakin besar pula kemungkinan manusia kehilangan sisi manusianya di dalam sistem itu.

Barangkali karena itu, banyak orang modern merasa lelah secara batin meski hidup di era paling maju dalam sejarah. Kita memiliki teknologi tercepat, informasi tanpa batas, dan kemudahan yang tidak pernah dimiliki generasi sebelumnya. Namun di tengah semua itu, manusia justru semakin cemas, semakin kesepian, dan semakin sulit memahami dirinya sendiri.

Kita berhasil menaklukkan alam, tetapi gagal memahami batas hasrat kita sendiri.

Menjaga Kemampuan untuk Heran

Ilustrasi berefleksi. Foto: Priyank Dhami/Shutterstock

Pada akhirnya, saya tidak menulis semua pertanyaan ini karena merasa memiliki jawaban. Justru sebaliknya, saya sedang berusaha menjaga sesuatu yang tampaknya mulai hilang dari kehidupan modern: kemampuan untuk heran.

Anak kecil bisa bertanya mengapa langit biru, mengapa burung bisa terbang, atau mengapa manusia harus bekerja. Namun semakin dewasa, manusia justru semakin takut mempertanyakan hal-hal mendasar. Kita khawatir dianggap aneh, tidak realistis, atau melawan arus.

Padahal, mungkin dunia tidak selalu berubah karena orang-orang yang paling patuh, tetapi karena mereka yang cukup berani untuk bertanya: “Mengapa harus seperti ini?”

Tentu tidak semua tradisi, aturan, atau sistem harus dihancurkan. Banyak di antaranya lahir dari kebutuhan nyata manusia. Namun, mempertanyakan ulang bukan berarti menolak segalanya. Kadang itu hanya cara agar manusia tidak kehilangan kesadaran di tengah rutinitas yang terlalu mekanis.

Sebab ketika manusia berhenti bertanya, ia perlahan berhenti benar-benar hidup.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising oleh kepastian, keberanian untuk meragukan sesuatu justru menjadi bentuk kemanusiaan yang paling jujur.