Konten dari Pengguna

Ketika Surga Membunuh Jiwanya: Belajar dari Jepang & Taiwan, PR untuk Indonesia

Muhammad Riza Diponegoro

Muhammad Riza Diponegoro

Eks. Imam Besar Masjid NU At-Taqwa, Jepang. Dai internasional dan pengasuh santri asal Probolinggo yang aktif berdakwah di Korea, Taiwan, dan Jepang.

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Riza Diponegoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Jepang. Foto: AppleZoomZoom/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jepang. Foto: AppleZoomZoom/Shutterstock

Ada malam-malam di Koga ketika saya berdiri di teras masjid selepas Isya, memandangi jalanan sepi yang hanya sesekali dilalui sepeda tua. Di saat-saat seperti itu, satu pertanyaan mengganggu: Mungkinkah kemakmuran membunuh manusia tanpa meneteskan darah setitik pun?

Saya datang ke Jepang dengan satu misi: memimpin salat, mengajar, dan menjaga nyala Islam di sudut Ibaraki yang jarang masuk peta pemberitaan. Satu tahun bukan waktu yang panjang. Namun kadang, satu tahun di tempat yang tepat mengajarkan lebih banyak dari satu dekade di zona nyaman.

Jepang mengajari saya dengan caranya sendiri—bukan dengan kata-kata, melainkan dengan pemandangan yang diam-diam menusuk.

Rumah-rumah kosong di gang-gang sekitar masjid. Wajah-wajah pekerja migran Indonesia yang datang mencari masa depan yang lebih baik, tapi diam-diam menyimpan pertanyaan: Apakah "lebih baik" itu benar-benar lebih baik?

Universe 25: Ketika Surga Berubah Menjadi Neraka

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya pada sebuah eksperimen lama yang dilakukan John B. Calhoun pada 1972. Ia membangun utopia untuk tikus: ruangan nyaman, makanan tak terbatas, air mengalir sepanjang waktu, tanpa predator, tanpa penyakit. Ia menyebutnya Universe 25.

Awalnya semua berjalan sempurna. Populasi tumbuh. Koloni harmonis.

Lalu pada hari ke-315, sesuatu yang tak terjelaskan oleh statistik mulai terjadi. Hierarki runtuh. Tikus jantan berhenti mempertahankan wilayah. Betina berhenti mengasuh anak. Muncul apa yang Calhoun sebut "the beautiful ones"—tikus-tikus sempurna yang hanya makan, tidur, dan merawat diri. Mereka tidak kawin. Tidak bertarung. Tidak melakukan apa pun.

Pada hari ke-1.780, tikus terakhir mati. Bukan karena kelaparan. Bukan karena wabah. Mereka mati karena lupa mengapa mereka harus hidup.

Jepang: Laboratorium Universe 25 Paling Sempurna

Ilustrasi Jepang. Foto: Mo Wu/Shutterstock

Saya tidak menyamakan manusia dengan tikus. Namun saat memimpin jemaah pekerja Indonesia di Ibaraki—orang-orang yang meninggalkan keluarga demi mengirim uang setiap bulan—saya merasa mengenali sesuatu.

Jepang adalah laboratorium hidup Universe 25 yang paling sempurna. Bukan karena gagal, melainkan justru karena berhasil. Terlalu berhasil.

Dari puing Perang Dunia II, Jepang membangun diri menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia. Kereta tepat waktu hingga detik. Kota bersih seperti museum. Harapan hidup tertinggi di bumi.

Lalu mereka berhenti memiliki anak.

Angka kelahiran Jepang: 1,20—jauh di bawah 2,1 yang dibutuhkan sekadar untuk menjaga populasi stabil. Lebih dari 10% rumah di Jepang kini kosong, ditinggalkan bukan karena pemiliknya pindah, melainkan karena tak ada penerus yang datang. Pada 2019, penjualan popok dewasa melampaui popok bayi.

Setiap hari saya berjalan di gang-gang sekitar masjid. Rumah-rumah tua dengan taman terawat, tapi jendela yang tak pernah terbuka. Kota kecil yang infrastrukturnya modern, tapi jiwa sosialnya seperti sedang belajar untuk diam secara permanen.

Seorang jemaah bercerita tentang istrinya—perempuan Jepang pekerja keras yang suatu malam menangis. Bukan karena sedih, melainkan karena tiba-tiba menyadari: ia tak tahu lagi mengapa harus punya anak.

"Semua sudah ada, Ustadz," kata jemaah itu mengulangi ucapan istrinya. "Tapi justru karena semua sudah ada, saya tidak tahu apa lagi yang harus dikejar."

Fenomena Hikikomori: Tikus Cantik Versi Manusia

Orang Jepang punya istilah untuk ini: hikikomori—penarikan diri total dari masyarakat. Lebih dari satu juta orang hidup dalam isolasi, tidak keluar rumah selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Bukan karena sakit, bukan karena tidak mampu, melainkan karena dunia luar terasa terlalu bising, terlalu kompetitif, dan anehnya—terlalu hampa makna untuk dihadapi.

Inilah versi manusia dari "the beautiful ones" Calhoun. Sempurna secara fisik, terawat, tetapi telah menarik diri dari kontrak sosial yang membuat spesies kita bertahan selama ratusan ribu tahun.

Korea Selatan: Kesaksian dari Seberang

Ilustrasi bendera Korea Selatan. Foto: railway fx/Shutterstock

Saya belum pernah menginjakkan kaki di Korea Selatan. Visa saya untuk penugasan ke sana tidak dikabulkan. Korea yang saya kenal adalah Korea yang saya dengar dari pesan-pesan panjang para calon jemaah di sana.

Namun justru dalam pesan-pesan dini hari—ketika orang menulis kepada imamnya dari negeri asing karena tak bisa tidur—sering muncul kejujuran yang tak tersensor.

Angka kelahiran Korea Selatan: 0,72. Angka yang membuat demograf dunia menggosok mata dua kali. Belum pernah ada negara maju dengan angka serendah ini. Artinya, setiap generasi hanya melahirkan kurang dari separuh penggantinya.

Seorang pekerja migran Indonesia yang sebelumnya bekerja di Jepang dan melanjutkan kontrak ke Korea menulis kepada saya,

"Ustadz, di sini orang-orang lebih keras dari di Jepang. Namun, kelelahannya sama. Mungkin malah lebih dalam. Mereka berlari lebih kencang, tapi sepertinya tidak tahu ke mana tujuannya."

Satu kalimat, tapi merangkum lebih banyak dari laporan demografis mana pun.

Anak muda Korea menyebutnya sampo sedae—generasi yang melepaskan tiga hal: kencan, pernikahan, dan anak. Bukan karena tak ingin bahagia, melainkan sistem membuat kebahagiaan konvensional terasa terlalu mahal. Kompetisi brutal sejak dini. Harga properti mencekik. Jam kerja tak manusiawi. Dan di ujungnya, pertanyaan yang sama: Untuk apa?

Taiwan: Sebulan yang Membuka Mata

Taiwan saya kenal langsung. Sebulan penuh selama Ramadan, atas undangan PCINU Taiwan. Sahur bersama sebelum fajar di apartemen sempit. Salat tarawih yang kadang hanya dihadiri belasan orang, tapi hangatnya seperti ribuan. Buka puasa yang tak pernah selesai tepat waktu karena cerita selalu mengalir.

Di luar tembok kebersamaan itu, saya menyaksikan Taiwan yang lain: angka kelahiran 0,87 pada 2023, terendah sedunia tahun itu. Pulau yang berkilauan di malam hari, tetapi secara demografis memadamkan dirinya sendiri. Elegan. Senyap.

Komunitas Muslim di Taiwan kecil, beragam, dan luar biasa tangguh. Mayoritas pekerja migran dari Asia Tenggara—Indonesia yang terbesar, lalu Vietnam, Filipina, dan Thailand. Mereka adalah paradoks yang hidup: datang ke negara yang secara kolektif lupa cara memulai keluarga, sambil membawa nilai-nilai keluarga yang masih menyala.

Seorang perawat muda asal Jawa Barat yang sudah tiga tahun di Taipei bercerita:

"Teman-teman Taiwan saya bingung kenapa saya masih ingin punya banyak anak. Mereka bilang hidup saya tidak efisien."

Ia tertawa. Namun di balik tawanya, ada getir.

Di Taiwan, perbincangan tentang childfree, menunda pernikahan, atau memprioritaskan karier terjadi dengan santai di kafe-kafe. Seolah berhenti melanjutkan garis keturunan adalah pilihan gaya hidup biasa—sejajar dengan pilihan diet atau olahraga.

Indonesia di Persimpangan

Ilustrasi pulau di Indonesia. Foto: nurulbadri29/Shutterstock

Saya pulang ke Indonesia dengan mata yang berbeda. Mata yang sudah melihat ujung jalan dari jauh, dan kini memandang Indonesia yang masih di tengah perjalanan—dengan semua kemungkinan yang masih terbuka.

Jakarta memang bukan Taipei. Surabaya bukan Seoul. Kemiskinan masih ada. Ketimpangan masih lebar. Angka kelahiran Indonesia masih 2,1.

Namun dengarkan. Di kafe-kafe Jaksel, anak muda berbicara tentang quarter-life crisis. Di Bandung, konten kreator mendokumentasikan gaya hidup solo. Di Surabaya, istilah childfree mulai fasih diucapkan.

"Rebahan" bukan lagi candaan. Ia telah menjadi manifesto diam-diam. "Healing" menjadi kebutuhan yang tak pernah terpenuhi. Pernikahan ditunda bukan karena tak mampu, melainkan karena "belum siap." Dan "belum siap" ini punya kualitas yang berbeda dari sekadar berhati-hati. Ia punya aroma ketidakmauan.

Saya tidak menghakimi. Sebagai orang yang lahir di Temanggung dan merantau ke mana-mana, saya paham bahwa ingin berhenti sejenak adalah respons manusiawi terhadap dunia yang bergerak terlalu cepat. Namun, ada perbedaan antara berhenti sebentar untuk menarik napas, dan berhenti karena lupa mengapa harus terus berjalan.

Yang Tak Tergantikan oleh Efisiensi

Dalam tradisi Islam Nusantara yang diwariskan para ulama, ada konsep al-insanu madaniyyun bi al-thab'i—manusia adalah makhluk sosial secara kodrati. Ini adaptasi Ibnu Sina dari gagasan Aristoteles tentang zoon politicon. Manusia bukan sekadar individu yang kebetulan hidup berdekatan. Bersosialisasi adalah fitrah, bukan pilihan.

Kota-kota besar Indonesia, tanpa sadar, membangun infrastruktur yang memudahkan individu, tapi menggerus komunitas. Apartemen satu kamar untuk satu orang. Pesan makanan tanpa perlu bicara dengan siapa pun. Kerja dari kamar tidur. Hiburan tanpa harus keluar rumah.

Secara individual, ini kemajuan. Secara kolektif, ini pembangunan sistematis yang menyerupai kondisi artifisial dalam kandang tikus Calhoun.

Di Koga, jemaah masjid kami datang dengan kualitas kehadiran yang berbeda. Meski jumlahnya kecil, meski harus berkendara jauh setelah kerja panjang, mereka datang karena masjid adalah satu-satunya tempat di mana mereka benar-benar ada—di tengah masyarakat yang tidak berbagi bahasa maupun budaya dengan mereka.

Di Taiwan, setiap iftar Ramadan terasa seperti pesta peradaban kecil. Bukan soal makanannya, melainkan karena semua yang hadir memilih hadir dengan seluruh dirinya.

Pesantren: Benteng yang Belum Kita Pahami Nilainya

Ilustrasi santriwati. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Saya tumbuh di Temanggung. Ditempa di Gontor. Memperdalam ilmu di Semarang. Kini mengabdi di Probolinggo. Satu hal yang konsisten: dunia pesantren adalah dunia penuh gesekan bermakna, tanggung jawab kolektif, dan nilai yang melampaui kalkulasi untung-rugi.

Tradisi ini—gotong royong, silaturahmi, tanggung jawab pada komunitas—bukan ritual kosong. Ia adalah arsitektur makna yang mencegah lahirnya "the beautiful ones" versi manusia.

Namun, tenaga tradisi ini sedang diuji. Bukan dari luar, melainkan dari dalam: santri yang setelah lulus pergi ke kota dan perlahan menukar kebisingan yang hidup dengan keheningan layar. Komunitas virtual yang lebih nyaman karena bisa dimatikan satu ketukan jari, tapi tak bisa menggantikan tatapan mata yang benar-benar hadir.

Pilihan Itu Masih Ada

Asia Timur mengajarkan pelajaran mahal: kemakmuran material tanpa kemakmuran makna bukan hanya tidak cukup, melainkan juga berbahaya. Pembangunan yang hanya mengejar GDP sambil membongkar komunitas adalah pembangunan yang menggali kuburnya sendiri dengan tangan terampil.

Indonesia ada di posisi unik. Kita belum sesempurna Jepang. Kita masih punya pengajian yang ribut, walimahan yang menghabiskan satu kampung, tetangga yang saling mengantar makanan.

Rawat itu. Bahkan ketika modernisasi berbisik bahwa semua itu "tidak efisien".

Pilihannya tidak hanya di parlemen. Ia hadir di setiap keputusan kecil kita: Masih mau mengetuk pintu tetangga? Masih mau hadir di pengajian meski Netflix menunggu? Masih berani menikah di tengah narasi indahnya hidup sendiri? Masih berani punya anak di dunia yang terasa makin tak pasti?

Tikus-tikus Calhoun tidak punya pilihan. Mereka mengikuti insting—dan ketika insting itu rusak, mereka punah.

Manusia punya pilihan. Punya akal. Punya iman. Punya sejarah panjang bertahan—bukan karena lingkungan sempurna, melainkan karena tahu mengapa mereka harus bertahan.